Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Satu Bulan Kemudian


__ADS_3

Sebulan kemudian.


Tak biasanya Laura sakit. Ia datang dan merebah di kursi dengan langkah gontai. Rena yang duduk di sebelahnya tentu saja langsung mengernyit heran begitu melihat tingkah aneh gadis itu.


"Ra, lo kenapa? Pucet banget," tegur Rena, matanya memindai muka Laura yang tak berona. Tak hanya itu, Laura juga datang dengan keringat dingin bercucuran memenuhi seisi dahi.


"Nggak apa-apa, Ren. Cuma agak meriang aja nih, badan gue. Keknya gara-gara semalem begadang ngerjain kisi-kisi" Laura meletakkan tas ke laci, lalu mengelap wajah dan dahinya dengan tisu. Ia juga segera meminum air mineral yang selalu dibawa. Napasnya terdengar tidak stabil, dan itu bisa didengar jelas oleh Rena.


"Eh, elo seriusan gak papa ini?  Muka lo pucet banget lho, Ra!" Rena menempelkan telapak tangannya ke kening gadis itu dan merasakan suhu tubuh Laura berbeda dari biasanya. Badan sahabatnya itu agak hangat.


"Gue nggak apa-apa, beneran!"


"Nggak apa-apa gimana? Ini sih demam. Ya udah, lo diem aja di kelas. Nanti gue yang bilang ke ketua kelas. Lo izin aja, nggak usah ikut upacara!"


Namun, Laura menggeleng. Ia tahan tangan Rena agar tidak pergi.

__ADS_1


"Jangan ngeyel!" Rena mendelik kesal.


"Tapi gue baik-baik aja, Ren. Nggak usah lebay. Lagian ini cuma meriang. Biasanya juga kalau meriang gini palingan cuma flu biasa!"


"Ya makanya istirahat aja di kelas!"


"Enggak usah, lah. Upacara kan bagus. Berjemur biar penyakitnya minggat. Kali aja nggak meriang lagi kalau udah keluar keringat." Laura nyengir berharap Rena percaya. Padahal ia sendiri juga bingung lantaran tiba-tiba lemas padahal tadi saat di rumah sudah sarapan dan tidak merasakan apa-apa.


Rasa aneh yang ia rasakan baru terasa saat di jalan tadi.


"Serius, lo gak papa ini?" Rena mulai sanksi.


Laura seperti biasa akan bergelendot manja di lengan Rena, membuat sahabatnya itu gemas dan menoyornya sebanyak dua kali.


"Kebiasan, deh!" sungut Rena.

__ADS_1


Namun, karena ingin berkemih juga Rena pun mengiyakan ajakan Laura. Keduanya berjalan bersisian menuju toilet.


Tak lama bell panjang berbunyi menandakan apel hari Senin akan dilaksanakan sebentar lagi. Seperti biasa para siswa dan siswi berjejer membentuk barisan sesuai urutan kelas. Mereka sibuk mencari tempat karena para guru telah berada di halaman.


Di halaman besar itu semuanya sibuk dengan diri masing-masing. Ada yang membenarkan seragam, ada pula yang bergosip ria dengan teman sebelah, tentu saja dengan bisik-bisik.


"Ra, ayo cepet!" Rena menyeru supaya Laura segera keluar. Laura yang berada di bilik satunya tergopoh-gopong menghampiri sang sahabat yang memasang wajah panik. Pasalnya hanya mereka saja yang ada di sana, sedang yang lain telah berkumpul di halaman.


Keduanya pun berlari sembari berpegangan tangan. Mereka terus memegang topi yang ada di kepala dan sejenak menghentikan langkah ketika sudah sampai di halaman.


Pelan dan tenang mereka menuju barisan kelas saat komandan upacara telah melakukan penghormatan untuk bendera.


"Duh, jantung gue rasanya sesek banget. Cepet banget si lo, larinya," bisik Laura yang merasa dadanya berdebar, napasnya masih ngos-ngosan tak teratur.


"Habisnya lo ke toilet pake lama banget! Ya nggak keburu kalau jalannya kayak putri Indonesia," sambar Rena, tentu dengan berbisik pula.

__ADS_1


"Eh, lo beneran enggak apa-apa, 'kan?" selidik Rena lagi, pasalnya muka Laura makin terlihat pucat.


Laura pun mengiyakan dengan anggukan. "Udah, nggak usah berlebihan. Gue oke, kok."


__ADS_2