
Laura menggeleng. Alih-alih bangga, dia malah geli melihat nasi goreng buluk itu.
"Sekarang saya bisa membuat banyak jenis Nasi goreng yang lebih enak dari pada itu," ucap Laura.
Arga tak peduli. Dia terus menyendok nasi itu hingga nyaris mengosongkan piring.
"Apa Anda ingin mencicipi nasi goreng lain buatan saya versi lain?" tanya Laura.
Arga menggeleng. Dia kemudian menyodorkan selembar kertas kepada Laura.
"Apa ini?"
"Baca saja." Bahu lelaki itu mengedik.
Laura segera menyambar pelan kertas dia atas meja. Lalu membuka lembaran itu secara perlahan juga.
"Bacanya sambil duduk!" perintah Arga.
Wanita itu kemudian menarik kursi dan mengambil tempat duduk tepat di hadapan Arga. Laura mendelik seketika saat mengetahui isi surat tersebut.
"Surat pemecatan?"Laura menggeleng tak percaya. Setelah melakukan banyak hal untuk bertahan di perusahaan itu Laura malah di pecat.
"Apakah Anda memecat saya karena ingin menjadikan saya pembantu di rumah ini? Anda tidak menemukan pembantu yang cocok?"
__ADS_1
Laura berusaha positif. Tetapi Arga malah tersenyum smirk.
"Tidak juga," ucap lelaki itu.
"Lalu mau Anda apa? Bukankah saya sudah menuruti semua kemauan Anda. Kenapa Anda memecat saya? Apa semudah itu orang kaya bertindak dan menindas orang-orang kecil?"
Dalam sepersekian detik kemarahan Laura memuncak. Si Arga malah terus menyendok nasi goreng tanpa peduli.
"Anda benar-benar kejam! Kalau tahu pada akhirnya akan dipecat saya tidak mungkin sudi melakukan ini!" Laura melepas apron yang melekat pada baju. Lalu membuang benda itu secara kasar.
Tring!
Ponsel Laura berdering. Laura segera menjauh saat nada dering aya susanti remix dari hapenya mengganggu kegiatan makan Arga.
"Hallo, Ren?"
"Ra, gawat! Gama Ra ... Gama ...."
Deg.
Jantung Laura nyaris tak berdetak mendengar Rena meneriaki nama Gama di balik sana.
"Gama kenapa, Ren?" Perempuan itu berteriak tanpa sadar. Sekujur tubuhnya dingin. Dan ia benar-benar tak menyadari ada Arga yang mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Gama kejang, Ra! Ini aku lagi di ambulan. Lagi otw ke rumah sakit."
"Ya Tuhan! Gama?" Laura memekik semakin jadi. Padahal tadi dia sudah berpikir Gama sembuh. "Aku kesana sekarang, Ren. Cepet kirim alamat rumah sakitnya sekarang!" teriak Laura
"Oke." Panggilan terputus. Laura baru menyadari suaranya di dapur terlalu berlebihan. Buru-buru dia mengusap air mata supaya Arga tidak curiga.
"Ada apa?"
Laura sangat panik saat Arga sudah menyender di depan pintu.
"Siapa yang sakit?" tanya pria itu. Alisnya berkerut menunggu Laura memberi jawaban.
Jantung Laura semakin bertalu-talu tidak jelas. Apakah ini sudah saat Arga tahu, pikirnya.
"Siapa itu Gama?"
Pertanyaan Arga terdengar berdengung di telinga Laura. Lelaki itu mendekat. Memperhatikan Laura yang masih mematung di tempat berdirinya sekarang.
"Siapa Gama dan apa yang terjadi padanya!" bentak Arga dengan teriakan.
Kontan Laura terperanjat. Buru-buru dia mengusap air mata yang sempat jatuh tanpa dia sadari.
"Bu ... Bukan siapa-siapa Pak! Sekarang saya harus segera ke rumah sakit. Maaf saya izin satu hari ini," ucap Laura. Kakinya melangkah berniat pergi mengambil tas, tapi Arga tiba-tiba menghadang dengan gerakan cepat.
__ADS_1
"Jangan harap kamu bisa keluar dari tempat ini sebelum kamu menjelaskan semuanya padaku!" ancam Arga. Suara terdengar marah dan dingin. Laura bahkan bisa mendengar dengan jelas detak jantung Arga menggebu-gebu.