
Sepulangnya Arga dari rumahnya, Laura menjadi gelisah tak menentu. Jelas saja ia pusing karena kesempatan terakhirnya untuk mengakui kehamilan itu telah lenyap.
Laura pun mulai berandai-andai. Ia memikirkan sejuta adegan ketika ia benar benar memberitahu Arga soal kehamilan itu.
Adegan halusinasi mulai berputar di memori halu Laura. Ia menatap langit-langit. Pikirannya terbang menuju cakrawala yang sulit dijangkau manusia biasa.
Di bawah pohon apel yang lebat buahnya, Arga bersandar pasrah setelah mengetahui fakta kehamilan itu. Tangannya bergetar, es teh plastik yang ia pegang juga ikut terguncang atas reaksi tubuhnya yang tercengang.
“Gak mungkin Ra … gak mungkin. Ini pasti salah!”
Arga meraup wajahnya kasar. Kira kira inilah ekspresi yang Laura bayangkan tentang pria itu. Arga pasti tidak pernah menyangka, bahwa kegiatan laknat berdurasi tiga puluh menit itu akan menghasilkan sebuah nyawa di dalam rahim Laura. Padahal ia melakukannya juga dalam keadaan tak sengaja, alias tidak sadar.
“Tapi hasil garisnya dua, Ga Aku juga udah gak datang bulan satu minggu lebih.” Laura jelas menangis sesenggukkan. Jika boleh berkata, ia lebih terpukul dibandingkan Arga. Bagaimanapun juga Laura perempuan, ia akan menanggung malu luar biasa saat perutnya membesar nanti. Belum lagi harus menghadapi keluarga dan nyinyirnya mulut tetangga.
__ADS_1
Lengkap sudah penderitaan gadis yang selalu mendapat peringkat satu sejak SD itu.
“Semua ini pasti kesalahan teknis. Bisa saja alat pengecek itu rusak atau kadaluarsa. Ayo kita cek ke Bidan buat mastiin, kebetulan aku punya kenalan yang kuliahnya di akademi kebidanan. Aku yakin kamu ngga lagi hamil, Ra! Masa iya sekali doang langsung hamil?” Arga sudah menarik tangan Laura. Namun, tiba-tiba gadis itu memegangi perutnya, mual.
“Huekk … huekk.” Nasi bakar dan sate ayam sisa sarapan pagi tadi keluar semua dari perut Laura. Diikuti potongan siomay langganan yang ia beli sepulang sekolah tadi.
“Kamu kenapa?” Arga memijit tengkuk Laura. Ia semakin panik kala melihat gadis itu muntah-muntah. Takut mimpi buruknya jadi kenyataan.
“Jangan mendekat!” Laura menepis tangan Arga dari lehernya. Ia terus memegangi perutnya sambil menjauh dari Arga.
“Arga pergi dulu aja, tiba-tiba perut aku mual banget liat muka kamu,” usir anak itu seraya mendorong tubuh Arga saat mendekatinya lagi. Perutnya benar-benar bergejolak setiap melihat wajah Arga, seperti ada yang mengocok dan berdisko ria di dalamnya.
“Tadi juga engga 'kan? Minum dulu, nih.” Arga mengulurkan es teh manis yang isinya tinggal setengah plastik. Laura menerima dan meminumnya, tapi enggan melihat wajah Arga sedikit pun.
__ADS_1
“Aku juga gak tau kenapa, tapi aku beneran muak liat muka kamu, Ga. Tadi sih engga, tapi sekarang kerasa banget. Di mata aku, muka kamu lebih jelek dari jalanan yang aspalnya rusak, Ga.”
“Kebangetan kamu, Ra!” Arga segera berbalik badan. Meraup wajahnya dengang geramanan tertahan. “Biasanya juga kamu bilang aku ganteng. Aku baik. Aku tampan sedunia.”
“Sekarang udah gak ganteng,” ketus gadis yang masih mengenakan rok seragam SMA lengkap itu.
Cacing gemoy di dalam perut Laura seolah paham, bahwa calon ayahnya memang sangat menyebalkan. Ia seperti sedang membuat garis batasan untuk melakukan perang dingin antara ayah dan anak. Terbukti Laura mendadak mual setiap kali melihat wajah Arga.
*
*
*
__ADS_1
Laura tertawa membayangkan haluan lucu dirinya dengan Arga. Adegan pun berganti lagi.