Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Jam Enam Pagi


__ADS_3

Sekitar jam enam pagi Laura sudah sampai di rumah Arga. Seperti biasa, rumah itu selalu dalam keadaan bersih dan rapi alias tidak berpenghuni.


Laura kemudian berjalan ke dapur. Dia berniat membuat kopi untuk meredakan rasa kantuk yang sejak tadi menggerayangi matanya. Karena semalam Gama terus meracau tidak jelas, jadi Laura harus begadang menjaga anak itu.


Satu gelas kopi selesai dibuat. Laura berjalan menuju ruang keluarga sambil membawa nampan berisi biskuit.


"Santai-santai dulu aja kali, ya? Toh rumah ini gak pernah dipake. Masih bersih juga, 'kan?"


Laura baru saja hendak menghempaskan tubuhnya ke sofa saat tiba-tiba kamarnya terbuka.


"Kemana aja? Bukannya aku suruh kamu jagain rumah ini?" bentak Arga tiba-tiba.


Laura yang terkejut spontan menjatuhkan gelas dari tangannya. Gelas itu jatuh berantakan seperti pikiran Laura saat ini.


"Pa ... Pak, Arga?" Laura menelan ludahnya dengan susah payah.


"Kenapa? Kaget aku pulang? Kamu pikid dengan aku tidak pulang bisa sewenang-wenang melakukan tugasmu."

__ADS_1


"Ma ... Maaf, Pak! Semalam saya ada kepentingan mendesak. Jadi saya harus pulang ke rumah dulu," ucap Laura.


"Kepentingan apa? Memangnya kamu tidak bisa izin dulu?" kesal Arga. Laura makin merasa dipojokkan oleh lelaki itu.


"Maafkan saya, Pak!" lirihnya lagi.


Arga mendengkus. Dia mengempaskan tubuhnya ke sofa single lalu menyilakan kakinya dengan angkuh. "Cepat buatkan makanan untukku. Aku lapar," keluhnya.


"Anda mau makan apa, Pak? Di sini tidak ada bahan makanan segar. Tapi saya punya beberapa menu instan.


"Nasi goreng buluk?" Laura tercengang. "Sepertinya saya tidak pernah membuat itu."


"Buatkan nasi goreng yang seperti itu lagi. Dulu kamu pernah membuatnya untukku. Warnanya hitam buluk, tapi rasanya tidak terlalu buruk," ujar Arga.


Laura makin termenung. Dia berusaha berpikir keras dan mengiangat segala hal. Sepertinya Arga sedang mengajaknya bernostalgia ke masa SMA. Tapi, kapan? Kapan Laura pernah membuat nasi goreng buluk untuk Arga. Sungguh, ia benar-benar tidak ingat.


"Hari selasa!" Arga berceletuk tiba-tiba. Laura masih termenung memikirkan Selasa yang mana. Ada ratusan Selasa yang terlewati, dan dia benar-benar tidak ingat sama sekali.

__ADS_1


"Saat itu aku sedang olahraga. Dari rumah aku tidak sarapan. Uang jajanku juga ketinggalkan. Lalu kamu datang membawakan nasi goreng beracun itu kepadaku. Meskipun penampilannya buruk, tapi nasi goreng itu menyelamatkanku dari pingsan."


Tercengang, Laura tidak bisa berkata-kata. "Jujur ingatanku agak buruk. Tapi jika Anda ingin nasi goreng buluk dengan warna yang sedikit hitam, sepertinya aku bisa membuatnya.


"Kalau begitu buatkanlah!" ucap Arga.


Tanpa banyak bicara Laura segera pergi ke dapur. Beruntung masih ada nasi kemarin yang layak makan. Jadi Laura tidak perlu repot-repot memasak nasi dulu.


Sekitar setengah jam kemudian Nasi goreng buluk kemauan Arga tersaji di depan mata. Pelan, Arga mulai menyendok nasi itu. Dia sedikit menahan senyum saat rasa yang ada pada nasi itu tidak jauh beda dengan nasi yang dulu dibuat Laura.


"Apa seperti itu buluknya?" tanya Laura.


Arga mengangguk. Ada sedikit senyum di bibir Laura saat dia menyendokan nasi ke mulutnya lagi dan lagi.


"Kamu tidak ikut makan?" Arga mendongak saat menyadari hanya ada satu Nasi di sana.


***

__ADS_1


__ADS_2