Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
8 Tahun Berlalu


__ADS_3

8 Tahun berlalu, sekarang Gama sudah menjadi sosok anak laki-laki yang pintar dan tentunya sangat menyayangi ibunya.


Gama juga mampu menempatkan diri. Dia tahu kalau dirinya lahir tanpa ayah sejak kecil. Jadi selama ini Gama tidak pernah menanyakan di mana keberadaan ayahnya, terlebih sekarang Laura punya kekasih. Namanya Satria, dan dia mampu menjadi teman yang baik untuk Gama.


"Bu! Ayo Bu ... Aku udah terlambat ini?"


"Bentar Gama, nanti kalau telor dadarnya mentah kayak kemarin gimana?" Laura berseru dari arah dapur. Dia sedang menggoreng telur untuk bekal anaknya sekolah.


Meskipun usia Laura sudah menginjak angka 26 tahun, tetap saja menjadi ibu tunggal tidaklah mudah untuk Laura.


"Tapi udah jam tujuh kurang 15 menit, Bu."


"Iya, Gama! Bentar!" Laura berteriak lagi. Asap di dapur semakin mengebul karena Laura menumis sayur sekaligus menggoreng telur.


Setelah memastikan bekal dia dan anaknya siap, Laura gagas ke kamar untuk mengambil tas kerjanya.


"Besok-besok gak usah nggosok di rumah Bu RT ya, Bu. Ibu jadi kesiangan mulu!"


"Tapi uangnya lumayan Gama. Lagian 'kan gak setiap hari ibu gosok bajunya."


"Tapi setiap kali Ibu nggosok baju selalu telat bangun! Kita jadi nggak sempet sarapan," omel anak itu.

__ADS_1


"Kan kamu bisa sarapan di sekolah. Kamu juga udah dapet uang jajan lebih, 'kan?"


"Tapi ibu jadi capek banget. Aku mending gak dapet uang jajan lebih, deh," seru Gama. Dia juga mengambil tas sekolah lalu memasukan bekal di atas meja ke dalamnya.


Laura sedikit termenung. Ternyata anaknya semakin pandai menilai gerak-gerik ibunya.


Sambil merenungi perkataan anaknya, dia menuntun motor matic dari hasil nyicil, lalu mengunci pintu kontrakan untuk memastikan semuanya aman.


"Gak mentah lagi, kan, Bu, telornya?"


"Ini telor dadar, pasti mateng semua!" Laura menyalakan motor. "Ayo buruan, katanya udah telat?"


Gama hanya mengeringai lalu nemplok seperti anak kuala.


Setelah sampai digerbang sekolah, tak lupa Gama mencium tangan ibunya sebelum masuk.


"Bu, nanti kalau Gama udah besar, Ibu gak usah kerja lagi ya? Gama gak suka liat ibu kerja."


Laura tak menjawab. Dia hanya menatap datar sambil menahan hati yang terasa nyeri.


"Ya, Bu!" ucap Gama setengah berseru.

__ADS_1


"Sekolah dulu yang pintar! Jangan mikirin kerja. Kamu ini baru kelas 2 SD!" bentak, Laura sambil pura-pura memasang wajah kesal.


"Ya tapi aku nggak suka liat ibu kerja! Aku maunya Ibu di rumah aja kaya Ibunya juan."


"Iya ... Ya udah sana masuk! Udah hampir telat, 'kan?" ketus Laura.


"Ya udah, Bu. Assallamuallaikum."


"Walauikumsallam!" Laura mengusap air mata yang jatuh ke pipi seiring langkah Gama yang berbalik menuju pintu gerbang. Tubuh kecilnya terayun riang, hingga Laura terkadang suka heran dengan watak Gama yang begitu tegar. Padahal dia tahu kalau Gama kerap kali diejek teman-temannya karena tidak punya ayah dan pulang sekolah jalan kaki.


Dia mandiri dan tidak manja. Selain sakit, Gama jarang sekali mengeluh.


*


*


*


Setelah memastikan Gama masuk ke kelas, Laura melajukan motornya menuju tempat kerja. Sudah hampir empat tahun Laura bekerja di salah satu kantor ternama Jakarta dengan jabatan OG, atau office girl.


Tempat kerja Laura cukup nyaman. Gajinya UMR dan masih mendapat beberapa tunjangan, sehingga Laura bisa menghidupi dirinya dan juga Arga.

__ADS_1


Tin .... Tin .... Tin ....


Gelubrakkk ....


__ADS_2