
BUGHH.......
Arga melempar bungkusan yang ia bawa tepat ke wajah Laura. Cowok itu menatap Laura dengan wajah tajam, ada api di dalam jiwanya andai saja bisa terlihat. Bagaimanapun juga Laura sudah mempermalukan dirinya, bahkan menginjak harga diri Arga sebagai seorang laki-laki.
"Maksud lo, apa?" sentak Arga geram. Tidak ada ekspresi lain di wajah Arga selain ekspresi marah, lengkap dengan wajah merah menghitam, dan itu sangat mengerikan.
"Apaan sih, Ga? Ngapain bentak-bentak aku gitu, emang aku salah apa?" tanya Laura pelan.
"Lo bilang salah apa? Lo itu udah keterlaluan banget tau ngga, sih? bisa-bisanya lo ngerjain gue beli benda menjijikan kayak gitu.! Otak lo di taro ke mana?" bentakan Arga semakin keras. Emosi cowok itu mungkin sudah di ambang batas wajar.
"Tadi Arga sendiri yang setuju mau nolongin aku. Kenapa sekarang jadi Arga yang marah? Letak salahnya aku di mana, coba?" Laura menenggak segelas air putih yang ada di hadapnya.
"Lo mikir dong! Lo nyuruh cowok beliin benda kayak gitu, otak lo di pake apa engga, hah?" bentak Arga semakin gila. Lantas cowok itu menendang kaki meja sampai Laura kaget dan tersentak.
Untung Laura sudah kebal dengan sikap Arga. Gadis itu tidak menangis walau Arga membentaknya kasar sekali.
"Tadi Arga yang mau, kok!"
"Itu karena lo ngga mau ngasih tau benda apa yang lo mau. Gue juga gak maksud datang bulan itu apaan!" Lagi-lagi Arga menonyor dahi Laura dengan telunjuknya. Mungkin sudah menjadi kebiasan cowok itu di kala marah.
"Aku kasih tahu, aku udah bilang sama Arga, kalo aku butuh butuh pembalut. Arga sendiri yang gak maksud, tapi Arga ngga mau nanya, malah nyalahin kayak begini," ujar Laura membela diri. Ia merasakan matanya sudah mulai memanas, tapi ia tahan agar air itu jangan sampai keluar.
Perkataan Laura ada benarnya juga, memang Arga tidak paham dengan benda yang dimaksud anak itu. Arga sendiri juga tidak mau bertanya. Akan tetapi, Arga tidak pernah berpikir sejauh itu, tidak ada di otaknya sama sekali bahwa benda yang Laura maksud adalah 'itu' .
__ADS_1
"Asal lo tau ya? gue sampe nahan malu gara-gara diledekin sama mbak-mbak apotik tadi. Ngga ada ahlak lo, emang!"
"Iya, maafin Aku..." Laura menunduk sembari meremas rok sekolahnya kuat-kuat. Perasaanya berkecamuk, antara merasa bersalah dan ingin tertawa.
"Ya udah, ayok kita pulang," ajak Arga acuh tah acuh. Cowok itu terlihat melupakan pertengkaran yang baru saja terjadi. Pura-pura lupa lebih tepatnya.
"Nanti Ga, aku mau nyari toilet dulu."
Laura segera berlari mencari-cari toilet umum. Sementara Arga hanya mengikutinya dari belakang. Langkah kakinya semakin malas, mau diabagaimana pun, cowok itu masih menyimpan dendam kesumat kepada Laura.
"Eh ... Ga?" Laura sedikit kaget saat melihat Arga sedang menunggunya di depan toilet. Lantas ia segera membuka kantong kresek dari apotik, mencari-cari obat sakit perut yang ia butuhkan.
"Ga, kok obatnya ngga ada sih? Aku butuh banget obat itu, loh." Laura menatap Arga dengan dahi yang mengkerut kecewa. Satu tanganya masih memegangi perut menahan sakit.
"Gue lupa beli, udah buruan ayok pulang aja," ajak Arga dingin. Cowok itu segera berjalan ke parkiran motor terlebih dahulu.
Sebenarnya Arga membeli obat pesanan Laura. Tapi karena sangat kesal, cowok itu menyembunyikan obat untuk Laura di dalam kantong celananya. Sengaja ia lakukan agar Laura tersiksa. Anggap saja itu karma untuk Laura karena telah mengerjainya.
Namu, setelah melihat tampang menyebalkan Laura yang tampak begitu tersiksa, Arga jadi tidak tega melihat-nya. Laura seperti orang yang perutnya sedang ditusuk menggunakan belati. Begitulah ekspresi anak itu kira-kira.
Dikeluarkannya obat yang ia sembunyikan dari tadi. Lantas Arga berikan obat itu pada Laura.
"Nih, dasar bisanya nyusahin aja!"
__ADS_1
Tak peduli dengan umpatan Arga, senyum Laura mengembang dadakan. Ia nyaris memeluk Arga kalau tidak ditahan sedari tadi. Demi apa pun, cewek itu semakin sayang pada laki-laki yang ada di hadapanya kini.
Entah mimpi apa ia semalam, yang jelas hari ini Arga sangat berbeda, cowok itu berperilaku seperti anak kucing yang sangat manis. So sweet sekali. Apakah dia sudah mulai cinta?
Hati Laura bertanya-tanya.
"Ga, makasih banyak yah. Aku ngga akan pernah lupa sama jasa kamu yang satu ini, suatu saat bakalan aku balas, kalo kamu butuh sesuatu. Kalo sekarang belum butuh, simpen aja, itu tiket gratis seumur hidup," ungkapnya tulus sekali. Lantas Laura segera mengambil botol air minum dari dalam tasnya. Lalu ia meminum obat itu di hadapan Arga.
"Emang sakit banget?" Pandangan Arga meneliti raut wajah Laura yang terlihat pucat.
"Sakit banget Ga, sakitnya parah. Aku memang kalo lagi haid kayak gini," tuturnya tidak tahu malu.
"Setiap bulan kayak gitu?" tanya Arga penasaran.
"Iya, setiap bulan."
"Sakitnya kayak apa?" tanya Arga lagi. Ia mengatur langkah kakinya lebih pelan. Mensejajarkan langkahnya dengan Laura.
"Sakitnya tuh kaya—" Laura menjeda ucapanya. Di mana Arga bertambah penasaran dibuatnya. "Kaya aku sayang kamu, tapi kamunya engga... Hahaha." Gadis itu tertawa. Begitulah rasa sakitnya menurut Laura.
Bodo amat ... gue ngga denger ... ngga denger. Arga melengos tidak peduli.
Laura terkekeh senang saat mengatakanya. Percayalah, Arga yang tadinya sedikit simpati mendadak mual mendengar ucapan Laura.
__ADS_1
Cowok itu segera berjalan cepat meninggalkan Laura. Arga tidak habis pikir, dosa apa yang ia lakukan di masa lalu. Sampai harus disiksa dengan kehadiran gadis ajaib seperti itu.
***