Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Mirip Dengannya


__ADS_3

Gelubrakkk ....


Motor Laura terjatuh karena tiba-tiba ada mobil yang ikut berbelok. Laura terjatuh, dan mobil itu berhenti tepat di depan Laura.


"Ah, dasar orang kaya! Gak bisa naik mobil apa gimana?" Laura berteriak sambil memegangi sikunya yang berdarah cukup banyak.


"Mbak, mbak tidak apa-apa?" Seorang laki-laki paruh baya keluar dari mobil. Sepertinya dia adalah supirnya.


"Kalau naik mobil hati-hati dong, Pak!" ketus Laura. Sekarang dia berusaha bangun dari posisi terpuruk.


"Maaf, Mba! Tadi saya buru-buru, kalau begitu ayo kita ke rumah sakit," ucap si supir.


"Gak usah, saya lagi buru-buru. Tolong bawain motor saya ke bengkel aja!" Nada bicara wanita itu terdengar kesal karena motor bagian depannya penyok. Peleknya bahkan sampai melengkung.


"Baik, Mba! Motor Mbak akan saya tangani. Tidak sampai sepuluh menit orang bengkel akan sampai ke sini. Mbak mau kemana? Biar saya antar," ucap si supir, masih dengan bahasa sopan.


"Urusin motor saya dulu aja, Pak! Saya mau pesan ojek."


"Baik, Mbak. Nanti saya yang bayar ongkosnya." Si supir itu menunduk sungkan.

__ADS_1


Sesuai janji, sepuluh menit kemudian orang bengkel datang membawa motor Laura untuk diperbaiki. Laura segera memesan ojek online, tapi nahas, sejak tadi pesanannya selalu dicancle.


"Kalau tidak dapet ojek, naik mobil majikan saya saja, Mbak."


"Nggak mau, Ah! Majikan Bapak kayaknya galak," kata Laura menolak. Dia memandang ke arah mobil. Samar-samar terlihat punggung tegas seorang pria berjas mewah dari balik kaca belakang, dan itu jelas membuat Laura merasa sungkan. Apalagi pria itu sama sekali tidak turun dan meminta maaf.


Iya sih, yang salah memang supirnya, tapi sebagai pemilik mobil, sudah sepatutnya lelaki itu turun untuk sekadar minta maaf atau menanyakan bagaimana keadaan orang yang diserempet.


"Saya tanyakan dulu saja bagaimana, Mba? Anggap saja ini sebagai permintaan maaf saya," tawar si supir.


Laura menggulung kemeja. Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan lewat 10 menit. Yang artinya Laura sudah telat sepuluh menit.


"Iya, Mbak! Sebentar. Ternyata Mbak mau ke gedung Perwira ya?"


"Iya, saya kerja di sana," ucap Laura makin ketus.


Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, si supir kemudian langsung meminta izin. Tak lama kemudian dia membuka pintu mobil belakang.


"Ayo, Mbak, masuk ...."

__ADS_1


"Hmmm. Iya ...." Laura berjalan malas menuju mobil tersebut. Baru saja ia mendudukkan diri, pria berjas itu bergeser sambil menoleh ke arahnya.


"A ... Arga?"


Laura membeliak dengan suara lirih yang hanya bisa didengar oleh dirinya. Entah salah lihat atau tidak, yang jelas pria itu mirip sekali wajahnya dengan Arga.


"Arga bukan, sih?"


Batin Laura bertanya-tanya, pria itu malah melengos ke samping tanpa memedulikan Laura yang baru saja duduk di sampingnya.


"Mungkin cuma mirip kali." Laura bergumam lalu menoleh ke kaca sebelahnya juga. Namun, tanpa disadari si supir tadi mendengar sedikit gumaman Laura.


"Maaf tadi ngomong apa, Mbak?" tanya si supir.


"Engga, Pak. Cuma kalau bisa agak cepetan, soalnya aku udah telat," ucap Laura.


"Baik, Mbak. Kencangkan saja sabuk pengamannya."


Laura tak menjawab, tapi ia menarik tali di samping lalu memakainya sesuai arahan. Tak ada obrolan apa-apa lagi setelah itu. Lelaki dingin di samping Laura terus saja berpaling sampai Laura tiba di gedung Perwira.

__ADS_1


__ADS_2