Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
TAMAT


__ADS_3

"Tapi apa, Ga?" Laura berseru tak sabaran.


"Tapi Rena ngelarang aku. Dia bilang kamu udah berjuang cukup jauh supaya bisa nyelamatin masa depan aku. Jika saat itu aku datang ke kama tanpa bekal apa-apa, mungkin sekarang kita udah jadi gembel," ucap Arga.


"Akhirnya dari situ aku berjuang. Aku sekolah di luar negeri supaya bisa mengambil alih perusahaan kakek yang dipegang sama pamanku. Selama delapan tahu ini aku berjuang sampai berhasil menjadi sesuai harapan kamu. Dan sekarang ....


"Aku datang ke kamu. Niatnya aku ingin memperbaiki semuanya. Tapi aku kesel pas liat kamu udah punya pacar. Jadinya aku menghalalkan berbagai cara buat balas dendam ke kamu."


"Sekarang aku udah putus," ucap Laura.


"Aku udah tahu," jawab Arga santai.


Obrolan kembali pada pembahasan yang selama ini belum terungkap.


"Terus selain tahu rahasia ini, apa yang kamu lakuin di belakang aku?" tanya Laura.


"Aku bantu dan Gama buat nyukupin kebutuhan. Tapi aku gak bisa bantu banyak karena Rena gak mau kamy sampai curiga."


"Terus pekerjaan itu? Jangan-jangan kamu yang lakuin juga. Gak mungkin 'kan, secara kebetulan aku kerja di perusahaan kamu."


"Iya, aku yang nyuruh Rena buat masukin kamu ke sana. Awalnya aku mau ngasih jabatan tinggi, tapi karena kamu cuma lulusan SMA. Jadi Rena ngelarang aku karena itu terlalu mencurigakan," ujar Arga.

__ADS_1


Di sini Laura masih menggeleng tak percaya. Semua yang Arga ucapkan seperti bom atom yang siap meledakan seluruh tubuhnya. Dia bahkan seperti melayang di dunia fiksi.


"Masih ada hal lagi yang kamu sembunyiin? Kalo ada kasih tahu, biar aku semakin meledak," ucap Laura.


Arga tertunduk. Ia menatap jari-jemarinya di bawah sana.


"Masalah aku benci kamu pas SMA. Sebenernya ada satu hal yang bikin aku benci banget sama kamu."


"Karena kelakuan aku yang menurut kamu kaya belalang sembah?"


"Bukan."


"Dulu aku tahu kenyataan kalau aku dan kamu dijodohin sama Kakekku. Maka dari itu kau benci banget."


"Dijodohin?" Jantung Laura serasa melompat dari tempat. "Kok bisa? Memangnya Kakek kamu kenal sama keluargaku?"


"Kakek aku itu mantannya nenek aku. Mereka jodohin kita buat nerusin kekeluargaan yang sempat tertunda. Cuma itu si yang aku tahu."


"Masih ada lagi?"


"Ada. Ini menyangkut perusahaanku. Sebenarnya aku gak bisa mengambil alih perusahaan itu kalau kau gak nikah sama kamu. Soalnya perusahaan itu dipersiapkan buat kita berdua. Tapi aku tetep harus sekolah keluar negeri dan berjuang karena Paman aku cukup kuat mempertahankan perusahaan itu."

__ADS_1


"Gila ...." Laura sudah tak mampu lagi berkata-kata.


"Tapi kamu tenang aja. Perusahaan itu udah aku limpahin atas Nama kamu. Maka aku pecat kamu, karena buat apa juga kamu kerja di perusahaan kamu sendiri."


"Ga, kamu gila ya?" Laura sudah menangis sesenggukkan tidak karuan.


"Aku nggak gila, Ra. Semua ini aku lakuin karena aku cinta dan sayang sama kamu. Ini juga sebagai balas budi karena kamu udah ngorbanin diri buat masa depan aku. Kamu berjuang susah payah ngurus gama. Semua itu demi aku si pria brengseek yang merenggut masa depan kamu."


"Jadi sekarang semuanya aku kembaliin ke kamu karena kamu dan Gama adalah satu-satunya masa depan aku. Aku harap kamu bisa nerima perjodohan ini pake hati."


"Ga ....?" Laura langsung meringsek di pelukan lelaki itu. Dia meraung sejadi-jadinya.


"Jadi di terima, Ga, Ra?"


Masih dengan suara meraung-raung, Laura mengangguk. Semua pengakuan Arga membuat Laura lupa dengan gorengan yang hendak ia beli.


"Semoga setelah ini kita bisa bahagia dengan keluarga kecil kita, Ra. Aku sayang kamu."


TAMAT.


Tak ada kata romantis yang Arga ucapkan selama obrolan, tapi entah kenapa Laura merasa suasani ini sangat ramantis.

__ADS_1


__ADS_2