
"Minumnya apa, Mas?" tanya si Abang penjual indomie.
"Teh manis hangat pake es, Bang!" balas Roma konyol. Kemudian ia mengambil kerupuk yang ada di dalam kaleng yang tergantung di dinding. "Lo mau makan gak, Ra? Gue bayarin sekalian mumpung gue punya uang hasil korupsi dari Nyokap."
"Dih! Pede banget bayarin orang makan pake uang hasil korupsi!"
"Biarin aja si, namanya juga berbagi!"
"Berbagi apanya? Berbagi dosa?" Laura mendengkus lalu memalingkan wajahnya. Roma pun kembali mencolek anak itu. Memamerkan tampangnya yang semakin bodoh dengan cara menyeringai.
"Beneran ini mau makan kagak?"
"Gak, gue nggak jadi laper setelah liat muka lo!" balasnya jutek.
"Yaudah kalo gak mau!" Roma kembali dengan kegiatannya.
Laura kemudian mengamati tingkah Roma yang sedang asik mengunyah kerupuk sambil menunggu indomienya matang. Wajahnya tampan, hidungnya mancung, kulitnya putih. Dibandingkan dengan Arga, Roma lebih tampan sedikit. Satu lagi, ada sedikit kemiripan dengan Rena saat mereka sama-sama tersenyum. Dan Laura berharap mereka akan berjodoh suatu saat nanti.
"Gue mau ngajakin lo kerja sama."
Hah?
Laura menganga kaget kembali. Jauh-jauh Roma datang ke rumah Laura hanya untuk mengajaknya bekerja sama. Entah kerja sama apa yang dimaksud Roma. Namun, yang ada di otak Laura semacam kerja dalam hal pelajaran.
"Lo mau ngajakin gue ngerjain PR, gitu? terus gue harus bantuin lo, dan elo akan bayar gue?" tanya Laura menerka-nerka karena Roma adalah anaknya pejabat kaya raya. Dan Laura sendiri termasuk dalam murid berkategori pintar.
"Duh, ekspektasi lo terlalu tidak berguna! Ngapain gue minta bantuan lo buat ngerjain PR? Masalah PR mah gampang, gue bisa nyontek sama Arga," kelakar Roma tergelak.
__ADS_1
Mendengar nama Arga disebut membuat Ana rindu sekali. Lagi-lagi ia menerka - nerka, sedang apakah Arga di jauh sana? Apakah Arga dapat merasakan bahwa Laura sedang merindukanya seperti orang bodoh di tempat ini? Ah, sudahlah.
"Terus kerja sama apa?" tanya Laura penasaran. "Bang, es teh manisnya satu, deh!"
Laura jadi haus karena melihat Roma makan kerupuk tanpa minum. Bahkan sudah habis tiga.
"Gini ya, Ra! Lo comblangin gue sama Rena, dan gue akan comblangin lo sama Arga," ucapnya serius.
Duh, permintaan yang sulit dan mustahil. Rena adalah tipe gadis yang susah untuk dijodoh-jodohkan dengan orang lain. Apa lagi cowoknya Roma, yang notabene paling Rena benci. Tapi benci bisa jadi cinta, kan?
"Gue ngga mau!" tolak Laura secepat kilat. "Es teh manisnya, Neng. Ini indomie pake telur tiga buat Masnya," potong si Abang.
"Aelah ... Laura! Ayolah, kita kan sama-sama merasakan sakitnya digantung ... kayak lagunya Melly guslauw," kelakar Roma sembari melepas senyum jenaka.
"Lo makan dulu aja deh," suruh Laura.
Anak itu berpikir sejenak sembari meminum es teh manis yang menyegarkan di siang hari. Ada jeda sekitar sepuluh menit lamanya.
"Gimana?" tanya Roma sembari mengelap noda saus di sudut bibirnya dengan tisu. Ia baru saja selesai memakan semangkuk indomi itu.
Kini wajah ragu Laura terpancar jelas. Masalahnya, belum lama kemarin Roma mengerjai Laura dengan asumsi gilanya. Dan bodohnya juga Laura mau menuruti bisikan nyeleneh dari mulut Roma.
"Gue ngga mau kerja sama ama lo, lo pasti ngibul lagi. Yang ada nanti Arga makin benci sama gue," kata Laura mengingat kembali kejadian di lapangan waktu.
Akh, Malu rasanya kalau di ingat-ingat.
"Kali ini gue serius, dua rius bahkan! Kalo perlu tiga rius buat kesepakatan ini. Gimana?" tanya Roma serius.
__ADS_1
Memang Roma adalah tipe cowok yang hidupnya selalu ugal-ugalan seperti kelakuannya. Namun, ada saatnya Roma bisa serius, contohnya seperti sekarang ini. Saat ia frustrasi karena terus dicueki oleh Rena.
"Gue ngga janji bisa comblangin lo sama Rena. Tapi gue mau lo setiap hari kasih info tentang Arga. Dia lagi ngapain, dia lagi sama siapa, dia udah makan apa belum dan pokoknya semua tentang Arga. Lo harus laporin ke gue, begitu pun juga tentang Rena, gue akan ngasih tahu aktivitas Rena setiap saat sama lo. Gimana, deal?"
"Deal!" jawab Roma tanpa ragu-garu.
"Ada lagi, Gak?"
"Gue mau lo cari tahu. Sebenernya Arga pecinta terong apa tempe!"
"Uhukk!" Roma terbatuk-batuk. "Bisa-bisanya lo mikir gitu, Ra!"
"Ya abisnya Arga gak pernah keliatan deket sama siapa pun. Gue kan jadi penasaran. Pengin tau sebenernya dia normal apa kagak," jelas Laura.
Bukan hanya Laura. Roma yang setiap hari duduk bareng Arga saja penasaran dengan poin satu itu.
"Okelah, masalah itu bisa gue atur. Gue punya rencana bagus buat lo!"
"Sip!" Laura mengacungkan dua jempolnya.
"Ngomong-ngomong dari mana lo tahu rumah gue?" tanya Laura serius.
"Ada, deeeeeh!"
Tsk. Roma tertawa dalam hati. Ia mengingat kejadian kemarin saat nyelonong masuk ke dalam ruang guru, kemudian ia mencari data alamat rumah Laura dan Rena yang tergeletak di atas meja wali kelasnya. Pintar.
Tunggu dulu!
__ADS_1
Kenapa harus mendatangi Laura di rumahnya? Bukankah mereka dapat bertemu di sekolah untuk membahas hal ini?
Duh, terbukti sekali bahwa Roma memang sudah gila.