
Sesampainya di hotel, Laura dibuat terkejut karena Arga hanya memesan satu hotel untuknya.
"Ini kamarnya barengan?" tanya Laura.
Arga mengedikkan bahu. "Kita gak tidur di sini, jadi kemungkinan Roma cuma reservasi satu kamar. Coba aja kamu tanya sama dia."
"Ah begitu. Ya sudah tidak masalah." Laura tersipu lucu. "Itu makanan boleh dimakan? Saya lapar sekali, Tuan."
"Makanlah." Arga membanting tubuhnya di tengah ranjang. "Satu jam lagi bangunin saya."
"I ... Iya, Pak." Laura menyeringai bahagia. Bukan karena Arga tapi karena makanan enak yang boleh dimakan.
Cacing-cacing di dalam perut langsung berdisko ketika melihat makanan enak yang tersaji di meja. Makanannya masih anget semua, seolah makanan itu memang sengaja dipersiapkan untuk dimakan ketika datang.
"Kok menunya makanan-makanan kesukaan aku semua ya? Ini hotel pinter banget," batin Laura. Dia asik memakan semua yang ada di meja tanpa memedulikan Arga.
"Bodo amat! Punya Boss kayak Arga juga butuh tenaga kali, " gumamnya. Perempuan itu terkekeh sambil terus melanjutkan kegiatan makannya.
Telolet... telolet... telolet.
Tak lama kemudian ponsel Laura berdering. Tertera nama Satria di dalam sana.
"Hallo, Sat? Ada apa?"
__ADS_1
"Ra, kamu kemana? Katanya yang lain bilang kamu keluar dari ruangan direktur pakai baju, bagus? Terus jalan sama Boss," tanya lelaki itu dari balik sana.
Eh?
Laura tercenung sejenak. Ah, sialan. Bagaimana bisa ia lupa menjelaskan pada Satria soal ini?
Perempuan itu melirik pada Arga. Terlihat mata Arga terpejam. Laura kemudian menjauh, tepatnya menuju balkon agar dapat bicara dengan leluasa di sana.
"Ceritanya panjang Sat. Aku dihukum karena ngelakuin kesalahan. Dan ...." Bicara Laura tercekat. Ia yakin Satria akan marah kalau ia melanjutkan bicaranya.
"Dan apa, Ra ...."
"Dan yang jadi Boss baru di kantor kita Arga, Sat." Laura memejamkan mata setelah itu.
"Gak gitu, Sat. Aku dihukum karena ngelakuin kesalahan."
"Hukuman apaan yang sampai berduaan kaya gitu? Itu si jelas nostalgia, Ra. Dia masih berharap sama kamu," maki Satria, lelaki itu semakin jadi marahnya.
"Mungkin Arga dendam Sat. Dulu aku pernah nyakitin dia. Ini bukan jalan berdua kayak yang kamu pikirin. Ini lebih ke penyiksaan batin," ujar wanita itu.
"Halahhhh! Aku lebih tahu isi pikir sesama laki-laki, Ra." Satria berseru posesif dari balik sana. Itu membuat Laura makin capek karena di serang dari berbagai segi.
"Ya ampun, Sat. Harus gimana si aku jelasin ke kamu?"
__ADS_1
"Gak perlu dijelasin, aku tahu kalian mau balikan! Iya 'kan, Ra?"
"Kalau aku mau balikan aku gak bakalan pacaran sama kamu selama ini Sat. Udah mah aku tungguin aja si Arga sampai datangnya keajaiban," kesal wanita itu.
"Udah kamu percaya aja sama aku. I love you Satria say---"
Syuttt ....
Tiba-tiba ada yang menarik ponsel Laura dari belakang. Laura langsung menoleh.
"Ngapain di sini? Ayo cepetan, pestanya mau dimulai."
"Hah, bukannya tadi bilang masih sejam lagi?"
"Salah jadwal!" Arga mendengkus ketus lalu memberikan ponselnya kepada Laura. Perempuan itu langsung mematikan ponselnya demi keamanan.
"Dia lagi kenapa si, Tuhan? Apa dia cemburu liat aku teleponan?" Laura tertawa. Dia menggelengkan kepala lalu memukul keningnya sendiri. "Ngaco kamu Ra. Mana ada orang kaya Arga suka sama kamu."
Laura kemudian mengetikkan di ponselnya. Dia menuliskan kata-kata yang manis untuk Satria supaya lelaki itu tidak marah-marah lagi. Tetapi pesannya tidak terkirim.
Ternyata Satria memblokir nomornya.
"Di blokir lagi?" Laura mendesah. "Lama-lama males deh pacaran sama orang yang bentar-bentar suka blokir."
__ADS_1
***