
"Lo sebenernya kenapa si, Ra? Ngapa jadi aneh gitu liat nasi uduk kesukaan lo sendiri? Tingkah lo kek orang lagi hamil aja!" cetus Rena sengaja memancing.
Tak disangka, pertanyaan gadis itu membuat Laura membeku seketika. Otaknya linglung. Pandangannya menerawang jauh ke arah jendela.
"Ra … Ra!"
Rena menepuk- #nepuk pundak gadis itu. Benar dugaannya. Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan gadis itu, pikir Rena dalam diamnya.
"Ngapa malah jadi ngelamun? Kesambet lo?" kesal gadis itu pura-pura menatap Laura heran. Bukannya menjawab, Laura malah membahas hal lain.
"Emangnya kalo orang hamil jadi benci nasi uduk ya, Ren? Teori dari man itu?" tanya gadis itu agak penasaran. Pasalnya sebelum hamil Laura memang sangat menggemari nasi uduk, namun setelah hamil, ia merasa geli dan mual saat menghirup aroma nasi uduk.
"Ya enggak gitu juga! Biasanya orang hamil benci sama makanan yang dia suka, dan jadi suka sama makanan yang sebelumnya dia benci. Itu si yang gue tau," ujar gadis itu.
"Masa si gitu? Kok Aneh ya, orang hamil?" Laura melipat bibirnya. Tiba-tiba ia memang ingin sekali makan buah apel. Padahal sebelumnya Laura sangat membenci buah apel karena rasanya kurang masuk di lidah menurut Laura.
"Ya emang kalo masih masa masa ngidam suka aneh gitu! Ngapain si lo nanya nanya? Emangnya lo lagi hamil?"
"Hah, hamil?" Laura sedikit melongo cengo.
"Ngelakuin ama siapa lo?" cecar Rena. Berharap gadis itu mau mengakui kalau memang ia benar sedang hamil anak Arga.
Senyum Ana mengembang. "Kalo gue bilang dihamilin sama Arga, Rena percaya kagak?"
Tak langsung menjawab, pandangan Rena sedikit menyelidik. Mencari aura kejujuran di wajah gadis itu.
"Ya, kalo lo ada bukit tespack gue percaya," jawab Rena kemudian. Laura malah terkekeh. Seolah gadis itu tengah menutupi sesuatu dengan tawanya itu.
"Hahaha! Yakali anak kaya gitu sudi hamilin gue, Ren! Liat muka gue aja mau muntah," kilah gadis itu sembari tergelak makin kencang.
"Tapi tadi anaknya ke sini! Gak biasanya si Arga mau ke tempat yang ada elo nya. Jangan jangan lo udah pacaran ye, sama dia? Kalian diem-diem menjalin hubungan tanpa gue tau!" Rena melipat tangannya di depan dada. Menunggu jawaban Laura sambil mengentak-entakkan satu kakinya ke lantai.
"Aminin aja deh! Hamil anak Arga emang cita-cita gue sejak jaman Megalitikum!"
Mendengar itu, Rena menonyor dahi Laura gemas. "Ya tapi gak hamil di masa sekolah juga, Oncom! Awas aja lo berani macem-macem! Ingat ujian tinggal menghitung hari lagi, Bego! Jangan sampe lo batal ujian cuma gara gara hal ga penting kaya gitu! Ngerti gak lo?"
"Iya, Rena! Aku mengerti sekali." Anak itu memajukan bibirnya tiga centi.
"Ya udah! Sekarang lo mau makan apa? Itu perut lo abis muntah harus cepet-cepet di isi lagi!" ucap Rena sambil menaikan jaketnya kembali.
Laura terdiam sejenak. Sebenarnya ia ingin sekali makan buah apel. Namun jika ia menyuruh Rena membelikannya, bisa-bisa gadis itu tambah curiga. Mati-matian Laura menyembunyikan soal kehamilannya, masa iya harus terbongkar begitu saja.
__ADS_1
"Nanti aja deh, Ren! Gue belum terlalu laper. Mendingan lo ke kelas dulu! Ada pelajaran bahasa inggris soalnya. Entar kalo gue laper pasti bakalan bilang sama lo!"
"Hmmm. Yaudah gue ke kelas, ya! Nanti kalo lo laper wa aja! Entar gue izin lagi buat beliin lo makanan." Gadis itu lekas pergi dari ruang UKS.
Pikirannya masih dipenuhi tanda tanya besar. Kira-kira Laura benar hamil atau tidak?
*
*
*
"Aku mau kamu, Ra! Aku mau tubuh kam—"
Tanpa melanjutkan bicaranya yang sempat terjeda, Arga langsung menjatuhkan bibirnya, memagut milik Laura dengan gaya yang serba keren. Bagaimana dengan Laura? Gadis hentai itu sudah terpejam, terbuai oleh kelembutan sang pangeran tampan yang sedang diselimuti gairah cinta.
Tidak seperti yang di ruang ganti baju waktu, kali ini gerakan Arga lebih menuntut meski tetap lembut. Dan gilanya Laura juga mulai membalas perlakuan Arga, tubuhnya seolah menuntun untuk melakukannya. Lidah mereka saling membelit dan mengekspoler satu sama lain.
Tanpa sadar suara lenguhan keluar begitu saja dari bibir Laura. Arga sedikit tersentak, mengangkat tubuhnya lalu menatap gadis itu sejenak, ia menyempatkan diri membuka piyamanya sebelum menjatuhkan tubuhnya dan mulai menyatukan bibir kembali.
Deru nafas Arga mulai tidak beraturan, tangannya sudah menelusuri bagian-bagian sensitif milik Laura. Membangunkan sesuatu yang membuat tubuh Laura menggila hebat.
Tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibir Laura dan Arga selain lenguhan yang mulai sering terdengar dari bibir mereka. Arga sudah lupa siapa dirinya, fokusku hanya tertuju pada sesuatu yang ingin segera dituntaskan saat ini juga.
Detik kemudian Arga mulai merasakan kulit mereka bersentuhan tanpa ada sehelai benang pun. Bukannya merasa malu, Arga malah semakin terpacing untuk lebih gila dari sebelumnya. Alam kesadarannya sudah berceceran entah di mana, matanya terpejam dalam nikmat yang tiada tara.
Arga merasakan sentuhan demi sentuhan, pelan tapi pasti, wajah Laura mulai turun dan menyapu bagian yang lebih sensitif lagi. Perlakuan Laura yang amat agresif membuat tubuh Arga mendadak gemetar hebat. Arga mendesis seraya memanggil nama Laura lebih keras, lebih keras hingga Arga merasa waktu seakan berhenti.
Hingga tiba pada puncaknya, Arga berniat menuntun benda tumpul yang ia miliki agar menerobos mahkota berharga milik Laura Tangan gadis itu meremas seprai, mencari kekuatan atas apa yang ia rasakan.
"Sakit!"
Laura terlihat menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Arga. berhenti sejenak— dikecupnya wajah Laura hingga gadis itu merasa sedikit lebih tenang. Perlahan ia mulai melancarkan aksinya kembali, menghentakkan sesuatu dalam sekali tekan.
"Argh!" Saat itu juga Laura menjerit— rasanya seperti ada sembilu yang menusuk bagian tubuh Arga saat pedang berharganya berhasil masuk ke dalam goa sempit milik Laura. Sakit hingga Arga tak bisa berkata-kata lagi.
Sekali lagi, Arga mencoba menenangkan Laura yang terdengar menangis di bawah kungkuhannya— ia mengecupi wajah Laura berkali-kali, namun di bawah sana mulai memacu dengan ritme yang pelan, menuntut, dan semakin cepat.
Rasa sakit berganti nikmat, kini tubuh Arga seperti sedang di terbangkan ke awang-awang. Sesekali Laura mencakar punggung lebar Arga. Menancapkan sepuluh kukuku, bahkan sampai menggigit lengannya tanpa sadar.
Sensasi ini belum pernah dirasakan Arga sebelumnya, matanya seperti buta. Bagaimana dengan urat malu? itu sudah tidak lagi berfungsi pada mereka. Di pagi hari yang cerah itu, mereka hanya tahu berlomba-lomba— mencari setitik nikmat hingga tubuh keduanya sama-sama mengetat. Lalu diakhiri dengan lenguhan panjang dan saling berpelukan lebih kuat lagi. Mereka berdua mencapai ******* terbaik untuk pertama kalinya. Mengakhiri kegiatan cinta itu dengan senyum yang mengembang bahagia.
__ADS_1
Masih diam tanpa kata, Arga berguling ke samping. Diraihnya tubuh kecil Laura beserta selimut yang menutupi hingga ke bagian dada.
"Oh ****!"
Arga menggeram kesal saat dua matanya terbuka lebar. Ia mendapati dirinya tengah tertidur di meja seorang diri saja. Hilang semua rasa nikmat yang ia rasakan beberapa detik lalu ketika ia menyadari bahwa percintaan panas yang ia lakukan bersama Laura hanyalah sebuah mimpi.
"Kenapa gue jadi mimpi kayak gitu?"
Pandangan Arga kemudian turun ke bagian pangkal paha. Pria itu makin dibuat menggeram emosi tatkala menyadari celananya sudah basah kuyup akibat mimpi tadi.
"Ya salam! Ngapain juga mesti kaya gini di kelas?" Arga segera mengambil tas untuk menutupi bagian yang basah itu.
Semenjak ia merasakan seperti apa nikmatnya bersetubuh dengan wanita, tubuhnya memang banyak mengalami perubahan aneh. Arga mulai sering membayangkan persetubuhan dengan Laura bahkan sampai terbawa mimpi seperti tadi. Itu adalah semacam efek negatif yang ia rasakan selepas menanggalkan keperjakaannya untuk Laura.
"Untung anak-anak udah pada pulang! Kalo belum bisa bisa gue abis diledekin!" Arga bergegas ke kamar mandi untuk ganti baju. Untunya juga ia membawa baju olahraga, jadi ia bisa langsung ganti celana osisnya yang basah.
Setelah berganti pakaian, Arga gagas menuju parkiran untuk pulang. Sekolah sudah sangat sepi karena jam sudah menunjukkan pukul tiga sore.
Arga sendiri sedikit kesal karena tak ada satu pun teman yang membangunkannya sampai ketiduran berjam-jam di kelas. Sampai mimpi basah pula.
Jam tiga lewat lima belas menit.
Motor Arga mulai keluar dari area sekolah. Saat matanya tak sengaja melihat ke arah pedagang buah, Arga mendapati Laura tengah duduk di dekat si abangnya sambil memilih-milih buah apel.
Tanpa sadar, anak itu menghentikan motornya di sana. Membuat si pedagang menoleh begitu pun juga dengan Laura.
"Buah Den," ucap si pedagang.
"Hallo, Ga?" Laura tersenyum girang begitu melihat Arga ada di sana.
"Apelnya sekilo, Bang!" ujar Arga lalu menarik kursi plastik untuk duduk.
"Lagi ngapain lo?" Pandangan Arga tertuju pada Laura yang tengah memegang satu buah apel.
"Lagi mau beli apel, tapi uangnya cuma cukup buat beli apel satu aja!"
"Oh! Udah gue tebak! Makanya kalo gak punya duit kagak usah pengin yang aneh-aneh!" Arga hanya melongo lantas memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Kalo Arga ngapain di sini?" tanya Laura polos.
"Mata lo gak liat kalo gue lagi beli apel juga?" cetus Arga dengan nada sewot. Hal itu membuat Laura memasang wajah cemberut sambil menatap Arga.
__ADS_1
"Jutek banget si!" cibirnya malas.
***