Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Nasi Uduk


__ADS_3

Pertanyaan Arga membuat tubuh Laura membeku seketika. Sejenak Laura ingin membenarkan dugaan anak itu, tapi Laura sadar diri dan tidak ingin merusak masa depan Arga.


Sejak awal Laura sudah berniat menyembunyikan kehamilannya dari siapa pun. Setelah lulus nanti, gadis itu akan pergi jauh untuk melanjutkan hidup bersama bayi yang ada di dalam perutnya.


Sebelumnya Laura juga sudah mencari tahu banyak sekali informasi tentang kehamilan  di mbah google, salah satunya, kalau hamilnya masih sekitar empat bulanan, artinya belum terlalu bisa dilihat dan masih bisa disembunyikan. Jadi setidaknya Laura bisa menyembunyikan aib yang satu itu sampai lulus nanti.


Dengan ijazah SMA yang ia miliki, nantinya gadis itu akan mencari pekerjaan untuk menghidupi dirinya dan juga anak yang masih di dalam perut itu.


"Hei gue lagi nanya! Budek lo?"


Laura langsung tersentak. Ekspresinya yang terlihat seperti orang linglung membuat Arga mengernyit semakin heran.


"Ha … hamil? Hamil apaan?" ujar gadis itu.


"Ya lo hamil apa kagak, biasanya kalo orang hamil kan muntah-muntah kaya lo gini," bisik Arga berpendapat.


"Kagaklah Ga! Kita 'kan ngelakuinnya cuma sekali itu doang. Mana mungkin baru sekali ngelakuin langsung jadi," ucap Laura sambil menyeringai jenaka. Sengaja agar Arga tidak terlalu curiga.


Arga lantas mengangguk. "Oh gitu, ya? Emang harus ngelakuin berapa kali dulu biar bisa hamil?" tanya anak itu nyeleneh.


"Hah?" Laura melongo sejenak. "Apaan si Ga, aku mana tau yang gitu gitu! Gak pastilah, tergantung Tuhan ngasihnya kaya gimana!"


"Oh, kirain ada perhitungan dan teorinya. Tapi bener ya, lo gak lagi hamil?" bisik pria itu sekali lagi.


"Ya engga, lah, Ga! Lagian kalo aku sampe hamil, emang kamu mau tanggung jawab? Kagak 'kan?" ucap gadis itu sengaja memancing. Di luar dugaan, jawaban selanjutnya sangat mengejutkan.


"Ya tanggung jawablah, kan ada anak gue di perut lo!"


Laura refleks menelan ludah. Atensinya masih tertuju pada Arga setengah tidak percaya. "K … kamu serius?" tanya gadis itu tergugu-gugu.


"Hmmm. Ngapain gue bercanda?"


Laura pun menatap aneh pria tersebut. "Bukan—nya waktu itu Arga pernah bilang sendiri ke aku, semisal aku hamil, Arga engga mau tanggung jawab?" tanya Laura mengingatkan lagi bila mana Arga lupa dengan ucapannya sendiri.


"Waktu itu gue gak serius kali, Ra! Ya kali gue bakalan diem aja liat lo hamil anak gue! Lo pikir gue sejahat itu?"


Arga memang terlihat santai saat bicara. Namun, terdengar jelas nada keseriusan saat ia mengatakannya. Pasalnya Arga juga bukan tipe anak yang suka bercanda.

__ADS_1


Sementara Laura hanya diam saja. Hasrat ingin mengungkapkan soal kehamilannya semakin menggebu-gebu karena ucapan Arga tadi. Apalagi ada jaminan bahwa ia bisa hidup lebih dekat dengan pujaan hatinya. Jelas hati Laura mulai tergoyahkan saat ini.


Tapi, Laura masih berpikir logis dan tidak egois, ia juga tidak tega menarik Arga ke dalam masalah yang ia perbuat sendiri.


Masa iya hanya karena ucapan Arga, Laura kembali mengurungkan niat yang sebelumnya sudah direncanakan? Jelas-jelas Laura sudah bertekad kuat untuk menghadapi masalah ini sendirian apa pun yang terjadi. Jadi Laura tidak boleh egois.


Masa depan Arga adalah hal yang utama saat ini. Ia tidak boleh merusaknya.


"Sayangnya aku gak hamil si Ga! Coba kalo aku hamil, pasti enak bisa dinikahin kamu." Anak itu terkekeh geli. Membuat Arga mendengkus dengan candaan garing gadis itu.


"Gak lucu tau! Garing banget candaan lo," kesal Arga malas.


"Ya 'kan emang cita-cita aku pengin nikah sama Arga. Jadi wajar kalo aku kaya gini!"


"Serah lo, deh!" cetus Arga. Pria itu mulai risi dengan candaan Laura yang tidak menarik untuk didengar.


Tanpa pamit terlebih dahulu, akhirnya Arga keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Laura seorang diri.


"Arga mau ke mana?" seru Laura seraya terduduk. Bertepatan dengan itu, Rena masuk sambil membawa sebungkus nasi uduk kesukaan Laura.


"Apaan si, Ren? Orang Arga ke sini cuma mau ngambil obat sakit perut doang."


"Akhirnya lo bisa sadar diri juga kalo Arga ke sini bukan buat lo! Biasanya lo kan selalu ke GR, n duluan kalo ketemu anak satu itu!" Rena mendekat sambil meletakkan nasi uduk untuk Laura di atas nakas.


"Ya, mulai sekarang gue gak akan GR lagi!"


"Waoww. Ada angin apa emangnya? Lo berhenti ke GR, n, kok gue ngeri jangan-jangan dunia ini mau kiamat ya?"


"Apaan si, Ren?" geram gadis itu.


"Apaan ... apaan! Makan nih!" Rena menaruh bungkusan nasi uduk itu di pangkuan Laura.


Tiba-tiba Laura merasa perutnya kembali bergejolak. Ia merasa bau nasi uduk itu sangat aneh di indra penciumannya.


"Huek … huek … huek!" Gadis itu berlari memuntahkan isi perutnya di tempat sampah.


"Lo bawa apaan si, Ren? Ko nyengat banget baunya? Kagak enak gitu, buang sana!"

__ADS_1


Sontak Rena mendelik. "Lah, ini 'kan nasi uduk biasa kesukaan lo? Masa gak enak?" Gadis itu menatap heran tingkah Laura yang menurutnya sangat aneh. Pasalnya nasi uduk itu adalah nasi uduk kegemaran Laura. Rena sengaja membelinya jauh-jauh hanya agar Laura mau mengisi perutnya. Biasanya anak itu hanya mau makan nasi uduk kalau sedang sakit."


"Masa sih itu nasi uduk kesukaan gue? Kok baunya aneh? Kaya makanan basi," ujar Laura.


"Basi apaan si, Ra? Jelas jelas ini masih baru, bego!" Rena membuka bungkusan nasi itu. Ia sudah mencium aroma nasi tersebut, namun tak menemukan keanehan apa pun kecuali bau harum khas nasi uduk yang menggugah seleranya.


"Buang Ra! Gue gak ku—huek … huek!" Laura terus memegangi perutnya yang tak bisa diajak kompromi. Akhirnya Rena terpaksa membuang nasi uduk tersebut ke tempat sampah luar.


"Kenapa si tuh bocah? Perasaan gak ada yang aneh ama nasi uduk yang gue beli? Apa jangan-jangan pedagangnya pake penglaris?" tebak Rena konyol.


"Hi!" Gadis itu menggeleng takut. Sesegera ia membuang nasi uduk tersebut ke tempat sampah.


Rena lantas kembali ke ruang UKS. Dan Laura sudah berbaring lemah di sana.


"Lo sakit apa si, Ra? Masa pingsan seminggu sampe tiga kali?"


"Cuma kecapean Ren, gue kan ada riwayat anemia! Tapi santai aja, nanti juga sembuh sendiri," ujar gadis itu berkata lirih.


"Ya setidaknya lo periksa! " Sama halnya seperti Arga, Rena memberi saran.


Sebenarnya, tadi gadis itu sempat tak sengaja mendengar pembicaraan Laura dan Arga saat membicarakan soal kehamilan.


Rena tak tahu apa yang terjadi dengan mereka berdua, tapi Rena curiga, jangan-jangan Arga dan Laura telah melakukan hubungan terlarang hingga menyebabkan dirinya hamil.


Tanpa basa basi, Rena langsung mengecek google untuk melihat ciri-ciri wanita hamil, dan semua yang ada di diri Laura sangat menjurus pada ciri l-ciri tersebut.


Sebenernya apa yang terjadi?


Batin Rena terus bertanya sedari tadi. Andai Rena tidak mendengar pembicaraan Arga dan Laura tadi, pasti ia tak akan berpikiran negatif ke arah situ.


Yang sekarang menjadi pertanyaan berat adalah, bagaimana mungkin Arga dan Laura melakukan hubungan intim sedangkan Arga saja benci sekali terhadap Laura.


Rasanya aneh jika mereka benar benar melakukan hal seperti itu. Rena paham betul bahwa Laura adalah gadis yang baik, Arga juga termasuk spesies baik meski Rena membenci wataknya yang sok kecakepan saat menolak cinta sahabatnya, Laura.


Jadi, bagaimanakah semua itu bisa terjadi?


Semua ini masih menjadi teka-teki di pikiran Rena. Sejenak gadis itu berharap dugaannya salah besar.

__ADS_1


__ADS_2