
"Ra, cabut yuk! Ada Si Roma ..." Rena menarik lengan Laura panik. Tapi sayang, Laura tidak mau beranjak karena masih berat dengan baksonya.
Cowok itu menatap Rena dengan pandangan jatuh cinta. Ada sekuntum mawar plastik di tangan kanannya, yang pastinya ia curi dari atas meja guru.
"Halo Kakak Rena yang cantik. Selamat siang, lagi makan yah?" tanya Roma menghampiri. Cowok itu menggigit batang bunga ala-ala koboy cinta.
"Makan apa My Sweety?"
"Koral!" bentak Rena kesal.
"Jangan jutek-jutek gitu wahai Ukhti. Aa Roma bawain bunga mawar untuk kamu," goda Roma semakin berani. Cowok itu tersenyum menjijikan di mata Rena. Hal ity membuat Rena makin muak dan rasanya ingin muntah saja.
"Rom, lo itu ngga ada kapoknya deketin temen gue. Rena kan udah bilang, dia ngga mau pacaran sama adik kelas. Pantang katanya...," saut Laura menasehati. Dilihatnya Rena yang sudah menggeliat menahan jijik karena kehadiran Roma si pembawa bencana. Mendengar ocehan Laura, Roma mendekat lantas berbisik.
"Stttttttt ... kita itu di kubu yang sama. Jangan saling menjatuhkan!" protes Roma tidak terima. "Kita itu sama-sama mencinta tanpa dicintai." Si Roma mendadak bernyanyi. "Tak mengapa bagiku, mencintaimu pun adalah bahagia untukmu ... bahagia untukmu ... oooo ... ku ingin kau tahu, diriku di sini, memanggil dirimu. Meski kutunggu hingga ujung waaaaktu...dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya. My heart..."
"Salah lirik, oncom!" Laura berteriak kesal.
Spesies mengerikan itu kumat lagi. Bernyanyi secara tidak wajar, yang pasti membuat si telinga pendengarnya akan bernasib mengenaskan. Tidak hanya namanya yang Roma, orangnya juga roman-romannya ikutan Gila. Sebelas dua belas dengan Laura yang kemarin nekat menyatakan cintanya di muka umum.
"Oh My God, lo ngga nyadar banget suaranya merusak dunia ... udah liriknya salah, ditambahin lagu irwansyah pula. Lengkap banget sih begoo lo!"
"Daku memang bodoh ... bodoh karena telat dalam mengejar cintamu gadis pujaan hatiku,"
__ADS_1
Rena merinding jijik mendengarnya.
"Will you marry me ?"
Roma berlutut disamping Laura denhan percaya dirinya. Tidak lupa bunga hasil curian itu juga ikut andil dalam aksi Roma kali ini.
"Kalo kamu nolak bunga pemberian aku. Itu artinya kamu nerima cinta aku..."
Apa-apaan ini?
Cowok bodoh itu ternyata pintar sekali memainkan trik murahan seperti itu.
Darah Rena mendadak beku. Otaknya kalut melihat aksi nekat adik kelasnya yang satu inim
"Namaku Roma, bukan Gila, Sweety," imbuhnya dengan senyum jenaka.
"Lo emang bukan Gila, tapi otak lo juga ikut gila!"
Entah berapa kali Rena mengucapkan kalimat itu. Yang jelas setiap Roma datang, Rena tidak pernah tidak mengucapkan kalimat andalan itu. Dan jawaban Roma akan tetap sama 'Namaku Bukan Gila, Sweety' .
Rena lantas nyelonong pergi meninggalkan Laura sendiri. Tersisalah dua makhluk yang sama-sama bodohnya di sana. Saling bersitatap namun acuh tak acuh.
"Sakit!" ucap Roma lalu duduk. Ia menarik mangkok bekas baso Rena yang ditinggal begitu saja .Cowok itu memakannya tanpa rasa jijik sama sekali.
__ADS_1
"Ikhkkkk...," decak Laura jijik. Kemudian ia bergumam dalam hati sambil memperhatikan Roma.
Mungkin seru juga kalau mereka berdua pacaran. Yang cowoknya alay bak pujangga. Dan mulut ceweknya pedes kayak congor tetangga. Cocok.
***
Sesampainya di dalam kelas Rena masih saja emosi. Gadis itu tidak habis pikir, mengapa ia bisa sampai sesial itu.
Oooo.
Rena melewatkan sesuatu. Cewek itu lupa menerima bunga pemberian dari Roma. Apakah artinya Rena sudah menerima cinta Roma?
Arghhhhhh!
Rena menggeram frustasi di dalam kelas sendirian. Di saat teman-temanya sedang asik makan di jam istirahat, Rena malah duduk di kelas bersama si esmosi. Bahkan cacing-cacing di perutnya mulai salto karena tidak diberi asupan. Rena baru makan bakso sedikit, maka dari itu ia masih lapar.
Sial ... semua ini gara-gara Roma si manusia gila itu.
Hiksss.
Nasib Rena sungguhlah malang, padahal ia belum pernah ke Malang. Gak nyambung, say!
Auakkh ... bodo amat!
__ADS_1
***