
"Kita mau ke mana, Roma?"
Laura mendengkus. Ia memandang punggung belakang Roma dengan perasaan kesal. Di saat ia belum mandi seperti ini, anak itu malah membawanya pergi entah ke mana.
"Udah ikut gue aja! Gue yakin kali ini lo bakalan suka!" Anak itu menyeringai bangga. Entah apa yang ada di pikiran Roma, yang jelas perasaan Laura mendadak tidak enak.
"Ya tapi mau ke mana dulu? Lo engga lagi ngerjain gue, kan?" Ada getar curiga saat Laura mendapati Roma tersenyum smirk. Ia sempat marah dan menolak mati-matian ajakan adik kelasnya itu, tapi Roma terus memaksa tak kalah mati-matian juga.
Motor anak itu terus melaju. Membelah jalan raya hingga sekitar empat puluh menit kemudian berhenti di sebuah gedung bertuliskan area futsal.
"Mau ngapain ke sini? Udah gue bilang, gue belum mandi," sungut gadis itu. Saat matanya tak sengaja melirik ke arah lain, tiba-tiba Laura mendapati sumber dayanya lewat tepat di depan mata.
"Arga!" Anak itu berteriak girang. Buru-buru Laura berlari menghampiri Arga meski belum mandi. Ia juga tidak peduli dengan penampilannya yang sekarang tampak sedikit lebih buluk dari biasanya.
"Ah, sialan! Ngapain si Roma bawa Cacing Pita itu ke sini?" Arga menggeram sambil mengepalkan kedua tangannya. Pandangan anak itu menatap lurus ke arah Roma yang kini tengah tersenyum jahat ke arahnya.
__ADS_1
"Lo ngapain bawa dia ke sini?" Suara kesal Arga memecah di udara begitu Roma ikut menghampiri.
"Biar lo semangat. Makanya gue bawain pacar lo ke sini. Iya gak, Ra?" Sambil melirik gadis itu.
"Engga deh kayaknya. Soalnya kita belum resmi pacaran karena Arga butuh waktu!" Dengan percaya dirinya Laura menjawab santai.
"Siapa yang bilang gue butuh waktu? Cuih," cibir pemuda itu sewot.
"Jadi Arga mau langsung sekarang aja? Arga beneran mau menjalin hubungan dengan aku tanpa menunggu waktu?"
"Ya ellah! Dasar temen baperan! Masa gitu doang ngambek!" seru Roma sambil menepuk bahu Laura, dan kini Arga sudah benar-benar berlalu karena malas mendengar ocehan mereka berdua.
Sebenarnya yang harusnya latihan adalah Roma, tapi anak itu memaksa Arga untuk menggantikannya dengan alasan kurang enak badan. Sementara Roma sendiri hanya datang sebagai pemain cadangan.
Laura yang kesal pun ikut menyambar. "Lagian lo ngapain ngajakin gue ke sini? Udah tau gue belum mandi, 'kan gue jadi malu! Pasti gue dipandang dekil banget sama Arga!"
__ADS_1
"Biasa aja kali, Ra! Lagian Arganya juga gak mandang lo sedikit pun. Jadi gak usah khawatir, orang kaya Arga gak bakalan punya pikiran menilai penampilan orang lain!"
"Hmmm. Serah lo, Deh! Mendingan gue nyusul Arga daripada ngeladenin orang gak jelas kaya lo!" Laura berjalan ke dalam. Dipikir-pikir sayang juga kalau dia sudah ada di sini, tapi tak ikut menonton permainan futsal Arga dan teman-temannya.
Gadis itu mulai masuk dan mencari tempat duduk. Laura duduk di kursi paling depan sambil berteriak memanggil nama Arga, berusaha menyemangati walau sebenarnya cuma bikin malu saja.
Beberapa teman Arga yang lain mulai saling ledek-meledek. Mereka tengah bersiap hendak latihan futsal untuk pertandingan antar sekolah Minggu depan.
"Cewe lo kenapa agresif banget, si?" kata si teman Arga yang duduk di sampingnya. Pria itu hanya diam, dan pura-pura tidak mendengarkan bacotan salah satu temannya itu.
"Ga!" teriak temannya lagi.
"Hmmm."
"Gue lagi nanya! Kenapa gak dijawab?"
__ADS_1
"Nanya apaan? Kalo pertanyaan lo gak penting, gue males jawabnya. Apalagi ngomongin orang yang bukan siapa-siapa gue!" Arga berdecih. Ia melemparkan bola ke anak itu dengan wajah memicing sengit.