
"Arga ... hiksss! Kamu tega banget sih, ninggalin aku...." Lauran berdiri lemas menatap kepergian motor Arga yang semakin. Ia berjalan lunglai menuju sebuah halte bis yang sudah tidak terpakai lagi. Gadis itu duduk menyandarkan tubuhnya di sana.
"Arga, tega banget sih, sama aku," lirih gadis itu untuk kedua kali. Laura benar-benar tak habis pikir.
Gadis itu melihat suasana di sekelilingnya yang amat sepi.
Lalu menatap jam analog di tangan yang menunjukan pukul 01.00 siang. Di mana matahari jahat sedang panas-panasnya membakar kulit. Laura memutuskan untuk duduk sejenak, sambil memikirkan harus bagaimana selanjutnya supaya bisa sampai ke rumah Arga.
"Kalo naik ojek uang aku gak cukup," gumam Laura.
"Bisa sih, nanti sampe sana aku pinjem uang sama papahnya Arga. Tapi ... masa iya minjem uang sama calon mertua? Mau ditaroh di mana muka aku?" Gadis itu bermonolog sendiri kayak orang gila.
Di tempat ini benar-benar tidak ada angkutan umum sama sekali. Bahkan kendaraan pribadi pun jarang sekali lewat. Jalan kaki tidaklah mungkin, terlalu jauh. Laura bisa mati pingsan di tengah jalan kalau nekat melakukan itu.
Cukup lama ia termenung, sampai seseorang tiba-tiba datang sambil menyodorkan sebotol air mineral dingin ke arahnya.
Gadis itu mendongakan kepalanya keatas untuk melihat objek manusia yang berdiri di sampingnya.
"Arga?" senyum Laura mengembang dadakan. Reflek gadis itu memeluk pinggang Arga girang. "Aku tahu pasti Arga ngga akan tega ninggalin Laura di sini sendirian ... Makasih ya, Ga."
"Hih! Pede banget lo!" Arga memicik tajam. Ia menyingkirkan tangan Laura yang melekat pada tubuhnya secepat kilat.
"Hmmm. Arga masih sok jaim aja! Itu buktinya Arga mau balik lagi. Arga sebenarnya khawatir 'kan, sama Laura?"
"Dih, siapa yang khawatir? Pede banget, lo!Tadi pagi bokap gue tuh nyuruh lo pulang bareng gue, jadi terpaksa gue balik lagi daripada nanti nanyain lo. Gue pusing diocehin," turur Arga, tapi raut wajah bohongnya sangat kentara. Laki-laki itu bahkan tak pandai berpura-pura di depan Laura.
"Yakin papah Arga yang suruh ?" goda Laura sambil tersenyum lucu. Dari raut wajah Arga, Laura bisa menebak kalau cowok itu sedang berbohong.
__ADS_1
Cowok kutub utara itu diam tak bergeming. Ia hanya mau mengatakan hal yang masuk akal. Memang Arga tipe anak yang jarang berbicara, tidak hanya kepada Laura, tapi semua teman-temanya juga diperlakukan seperti itu.
Arga duduk di samping Laura, lalu mengeluarkan sekantong obat yang baru saja ia beli dari dalam tas ranselnya.
"Itu apa, Ga?" Laura menunjuk kantong putih berisi betadin, kain kasa, dan teman-temannya itu.
"Ini buat lo!"
"Buat aku?" Sontan Laura menatap bingung wajah Arga. Untuk apa obat-obat ini, pikir Laura tidak membutuhkanya.
Lebih baik berikan sekuntum bunga mawar untuk aku, batin Laura dalam hatinya. Namun, pandangan Arga tiba-tiba saja tertuju ke bawah.
"Kaki lo!".
"Kaki?" Laura mengernyit.
"Awk, sakit!" rintih Laura.
Sejak tadi kemana? Arga menatap heran sambil mengedikkan bahunya kesal.
Sepertinya Laura terlalu fokus pada Arga, sampai sakit pun tidak dibuat rasa.
Laura menutupi matanya dengan kedua tangan. Gadis itu tidak berani melihat luka pada kakinya.
Laura memiliki riwayat hemophobia, di mana gadis itu mendadak lemas ketika melihat darah, bahkan bisa sampai pingsan jika sudah terlalu banyak.
"Udah diobatin lukanya! Gak usah ala-ala gitu," sentak Arga kesal. Ia memang tidak pernah bisa berbicara lembut pada gadis yang bernama Laura ini.
__ADS_1
"Ngga mau ... aku takut darah, Ga. "Laura menggeleng takut. Wajahnya berpaling tidak mau melihat ke arah kakinya.
Arga mengamati tingkah Laura dengan seksama. Memastikan gadis itu sedang modus atau benar-benar takut. Dilihat dari kelakuannya yang aneh, siapa tahu ia sengaja berpura-pura demi sebuah keuntungan.
"Sini gue obatin." Arga menawarkan bantuan. Jarang-jarang cowok itu ada inisiatif seperti ini.
"Ngga usah, aku takut sakit. Biarin kayak gini ajah!" tolak Laura cepat.
Sontak Arga terperangah, jika gadis itu berani menolak, itu artinya dia memang benar ketakutan.
"Udah jangan takut, kalo dibiarin nanti malah infeksi."
OMG.
Laura menatap gamang wajah Arga yang kini sedang menunduk, menatap bekas lukanya.
Apa yang terjadi dengan Arga?
Bolehkah Laura menyebut ini adalah sebuah bentuk perhatian seorang Arga. Ini pertama kalinya Arga memiliki rasa khawatir terhadap Laura setelah sekian lama mereka saling mengenal.
Tunggu...
Jadi tadi Arga sengaja ninggalin Laura hanya untuk membelikan obat untuknya? Arga peduli sama Laura? Itukan maksudnya?
Uh, so sweet banget!
Laura bermonolog dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.
__ADS_1