Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Sakitt


__ADS_3

Ceklek ….


Terdengar suara pintu yang dibuka di luar sana. Tanpa basa-basi, Arga langsung mengejar si orang yang membukakan pintu tadi.


"Woi! Jangan lari lo …" Arga keluar dari ruangan tersebut sambil terus berlari ke sana ke mari. Ia harus mencari orang yang membukakan pintu tadi untuk membuat perhitungan, tapi sayang, Arga tak dapat menemukan siapa pun di luar sana.


Akhirnya Arga memutuskan untuk kembali ke ruang ganti tadi untuk mengajak Laura pulang. Hari sudah sangat larut di mana jarum jam sudah menunjukkan angka dua belas malam belas lewat seperempat.


"Gimana Ga? Orangnya ketemu?" tanya Laura lirih.


"Gak ada! Ayo kita pulang!" Arga mengulurkan tangannya, namun saat Laura hendak bangun, tiba-tiba ia merasakan ngilu yang teramat sangat di bagian pangkal pahanya.


"Awwkk!" Gadis itu meringis. Arga sontak menopang tubuh gadis itu sambil melihat ke bawah. Darah segar kembali mengalir dari pangkal paha Laura.


"Sakit banget, ya?" Arga pun kembali dirundung perasaan bersalah. Ia berjongkok, lantas mengelap darah-darah yang menetes di kaki Laura dengan jaketnya.

__ADS_1


"Aku nggak papa kok. Udah ayo kita pulang aja," kata Laura semakin lirih. Ia tak mau menunjukkan rasa sakitnya kepada Arga meski tubuhnya sekarang benar-benaru sudah tak ada daya. Bagaimanapun juga semua itu adalah murni kesalahannya. Jadi Laura tak mau membuat Arga ikutan bersalah juga karena kejadian ini.


"Beneran gak sakit? Bisa jalan gak lo?" Arga meneliti setiap inci wajah anak itu. Jelas ia merasa kesakitan meski bibirnya berkata lain.


"Bisa Ga! Tenang aja. Kamu pikir aku cewek lemah?" Senyum ringan terulas dari bibir anak itu.


"Ya udah ayo pulang! Tapi kita harus hati-hati. Jangan sampai ada orang yang liat kita lagi jalan keluar. Ngerti 'kan?"


Laura mengangguk sebanyak dua kali.


"Tunggu dulu, Ga!" Laura menghentikan langkah kakinya. Pangkal paha gadis itu kembali merasakan perih pasca memanjat pagar barusan. Darah pun mengalir makin banyak di kaki gadis itu. Laura begitu takut, ia tidak berani menatap ke bawah untuk sekadar melihat apa yang terjadi pada tubuh anak itu sebenarnya.


"Kenapa?" Arga kontan membulatkan matanya lebar-lebar saat melihat darah yang lebih banyak mengalir di kaki Laura. Laura dapat merasakan itu, tapi ia sungguh tak berani melihat ke bawah karena rasa takutnya terhadap darah.


"Gimana kalo kita ke rumah sakit aja? Gue gak tega liat kondisi lu kayak gini, Ra!"

__ADS_1


"Rumah sakit?" Laura menggeleng tidak setuju. "Engga mau Ga! Kalo kita ke rumah sakit, nanti dokternya pasti tau kalo kita abis ngelakuin itu. Aku gak mau orang tua kita sampe tahu kejadian ini."


"Hmmm. Terus gimana? Mau beli obat merah??"


"Hah?" Di saat seperti ini Arga malah ngelawak. Dia pikir hymen yang robek setara dengan lutut yang jatuh apa? Dasar anak itu!


"Nggak lah! Nanti malah tambah infeksi kalo dikasih obat merah. Biarin gini aja, besok juga sembuh sendiri!" Untuk kali ini Gadis itu menolak kebaikan Arga yang tidak berguna.


"Ya udah kalo gitu dilap aja, ya!"


Arga kembali berjongkok untuk mengelap darah yang terus menetes. Ia kemudian berinisiatif menggendong Laura sampai ke tempat motor.


"Eh, jangan—" Laura tersipu malu. Hatinya sedikit menghangat. Ia tahu kebaikan Arga karena dasar manusiawi, tapi Laura tetap saja bangga diperlakukan seperti itu oleh orang yang paling dia cinta.


***

__ADS_1


__ADS_2