Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Ponsel


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Arga tersenyum sambil membayangkan ekspresi Laura waktu menerima apel darinya. Hanya sekadar buah apel, tapi mampu membuat senyum cerah mengembang di pipi gadis itu.


Glek!


Pria itu seketika menelan ludah saat menyadari ekspresinya sendiri dari kaca spion. Sangat memalukan. Arga jadi geli sendiri melihat dirinya yang sejak tadi senyum-senyum tidak jelas.


Arga pun menghentikan motornya di sebuah konter hape. Setelah sekian lama, akhirnya anak itu berkeinginan memiliki ponsel selayaknya manusia normal.


"Hape yang gampang dipake sama pemula ada, Bang?" tanya Arga saat anak itu sampai di etalase toko. Ia memandang aneka ponsel yang sebenarnya tidak ia pahami sama sekali. Si pedagang pun akhirnya mendatangi Arga yang tengah mengindahi seisi toko dengan wajah kebingungan.


"Banyak Gan! Mau buat anak umur berapa taun?" tanya si Abangnya yang langsung mengira ponsel tersebut akan dipakai oleh anak kecil.


"Buat sayalah, Bang! Saya mau yang gampang dipelajari, soalnya saya gak bisa pake hape," kata Arga agak kesal dengan pertanyaan si penjaga konter tersebut.


Si Abang pun mengernyit sambil memperhatikan penampilan Arga. Dari wajahnya, pakaian, bahkan sampai kendaraan yang pria itu gunakan sama sekali tidak mencerminkan orang miskin, tapi kenapa Arga tidak bisa menggunakan ponsel? Memangnya jaman sekarang masih ada, anak sebesar Arga tapi tidak bisa memakai ponsel, pikir si abang. Sepertinya ini adalah kasus pertama sepanjang sejarah ia menjaga konter di kota Depok—yang notabene kota yang ramai. Mungkin kalau di perkampungan yang susah sinyal, abangnya percaya kalau Arga memang tidak pernah menggunakan ponsel sama sekali.


Tapi ini perkotaan, coy! Bahkan anak si penjaga konter yang umurnya baru tiga tahun saja sudah pintar memainkan game ular-ularan.


"Oh, kalau buat pemula ini aja. Harganya standar, dan gampang dipake, Gan!" Si Abang memberikan sebuah ponsel berperangkat android kepada Arga.


Pria itu menerimanya sambil mengernyit. "Kok gede banget? Gak ada yang kecilan lagi?"


"kalo hape android standarnya segini si, Gan! Kalo yang kecil adanya hape model jaman dulu. Tapi cuma bisa buat teleponan sama sms doang. Jaman sekarang mah udah gak guna hape model kayak gitu!"


"Hmmm. Itu kalo yang gede berapa?"


"Oh, ini TAB Android, harganya 2 juta 500! Gak cocok kalo buat anak muda. Repot, gak bisa dibawa-bawa ke sekolah! Mendingan yang tadi aja lebih praktis, cuma dua jutaan lagi!" ucap si Abang.


"Tapi ada tata cara pakenya 'kan, Bang? Soalnya saya bener-bener gak bisa pake hape!" tanya Arga lagi.


"Iya ada, nanti sekalian beli nomernya aja! Biar saya daftarkan facebook, instagram, sama WA. Kalo suka game, nanti saya daftarkan mobel lejen sama papji juga!"


"Oh, gak usah yang aneh-aneh Bang! Daftarin aplikasi yang bisa teleponan sambil video itu aja! Kayaknya saya pernah liat temen-temen saya kayak gitu!"


"Whatsapp?"


"Iya itulah! Kalo gak salah namanya Video kol," ucap Arga sambil menggaruk kepala belakangnya karena memang tidak mengerti.


"Iya, jadi deal yang ini ya, Gan!"


"Iya Bang!" Arga kemudian menyodorkan uang dua juta yang sebelumnya sudah ia hitung dulu jumlahnya.

__ADS_1


Jangan berpikir itu adalah uang tabungan Arga yang ia pecahkan dari celengan ayam jago. Bukan sama sekali.


Uang itu adalah uang hasil merajuk dari ayah dan ibunya tadi pagi. Karena Arga memang sudah layak memegang ponsel sendiri, ayah dan ibunya l tak ragu memberikan uang untuk anak itu membeli ponsel.


Uang sebanyak lima juta diberikan kepada Arga. Beli ponsel dua juta, yang tiga juga bisa dipakai untuk senang-senang sendiri.


Setelah Arga memberikan uang tersebut, ponsel pun mulai dibuka oleh si pedagangnya. Sebelumnya si pedagang sudah mendaftarkan nomor Arga dengan ktp serta kartu keluarga si pedagang sendiri.


"Nih! Udah bisa langsung dipake," ucap si pedagang setelah empat puluh lima menit mengotak atik ponsel baru Arga.


Tak banyak aplikasi yang ada di sana. Hanya you tube, whatsapp, instagram, dan juga facebook.


"Ini ada gratis kuota tiga bulan! Jadi selama tiga bulan kamu ga usah repot-repot beli kuota lagi," kata si pedagang.


"Makasih, Bang! Bisa tolong masukin nomer ini gak?" Arga menyerahkan sepotong kertas dari saku celananya. Itu adalah nomor Laura yang pernah diberikan gadis itu sekitar satu tahun lalu.


Meskipun selama ini ia membenci Lauda, entah kenapa Arga malah menyimpan nomor tersebut di laci belajarnya.


"Nomer pacarnya, ya? Siapa namanya?" tanya si pedagang.


Mendapat pertanyaan seperti itu, Arga mendadak gugup dan malu. Padahal andaipun Arga berkata bahwa itu nomor pacarnya sekalipun, si pedagang tak masalah sama sekali.


Terpampanglah photo profil Laura disertai filter yang memukau. Arga sampai kaget dan nyaris tak mengenali gadis yang tengah berpose unyu-unyu itu adalah Laura.


"Kalo mau telepon pencet ini. Kalo mau video pencet ini. Kalo mau kirim pesan, tinggal langsung ditulis dan tekan kirim!"


"Ok!" Arga mengangguk paham.


Si pedagang pun mengarahkan kamera belakangnya ke wajah Arga.


Cekrek!


"Buat foto profil, Gan! Biar gak keliatan kayak WA penipu," ujar si abang. Arga hanya mengangguk-angguk saja. Pria itu pura-pura mengerti saat foto datar tanpa ekspresinya dijadikan sebagai foto profil.


***


Sesampainya di rumah, Arga langsung masuk kamar. Ia tak mengutak atik hapenya sama sekali.


Sedari tadi Arga hanya menatap ponsel miliknya sambil berpikir, haruskah ia menekan tombol telepon biasa, atau telepon yang disertai video. Setelah sekian lama akhirnya Arga memutuskan untuk tidak melakukan keduanya.


Pria itu mengetik dan mengirim sebuah pesan singkat.

__ADS_1


[Udah mendingan?]


[Ini siapa, sok perhatian banget lo?] Jawaban ketus dari Laura ia terima secepat kilat. Hal itu membuat Arga marah karena ia sudah memasang foto profil, tapi Laura malah balik bertanya dengan pesan jutek.


Padahal Laura tidak tahu karena nomor Arga tidak tersimpan di ponsel Laura, jadi anak itu memang tidak dapat melihat nomor yang tidak terdaftar di kontaknya.


[Mata lo katarak ya? Lo gak liat foto profil gue segede gaban?] balas anak itu nyolot.


[Ya kan nomor kamu belum disimpen, gimana aku mau liat foto kamu?] jawab Laura kesal. Membaca pesan itu, Arga langsung dibuat malu seketika.


Namun Laura yang penasaran langsung menyimpan nomor tersebut. Dan detik berikutnya, sebuah pesan berderet muncul di hape Kai.


[Argaaa???!]


[Ini bukan mimpi, 'kan?]


[Serius ini beneran Arga?]


[Eh, masa si Arga punya hape? Sejak kapan? ]


[Duh, pasti aku lagi dikerjain, nih!]


Lima pesan dari Laura berderet di ponsel Arga dalam waktu singkat, membuat Arga bingung harus membalas yang mana dulu. Belum sempat pria itu menjawab, panggilan video dari Arga tiba-tiba menggema nyaring sekali.


"Argaaaa!" anak itu berteriak dari balik sana. Terlihat wajah Arga yang terpampang jelas dan begitu juga sebaliknya.


Arga dapat melihat Laura yang tengah duduk sambil memandang heran ke arahnya.


"Jadi ini seriusan nomor kamu, Ga? Sejak kapan kamu punya hape? Kok gak bilang-bilang ke aku?"


"Barusan dibeliin ibu, daripada gak kepake, akhirnya gue coba," kilah Arga lagi-lagi berbohong demi ego dan gengsi.


"Wah asik! Kita bisa video call terus dong?" seru Laura dari balik sana.


Arga langsung mematikan panggilan Laura. Iacmeletakkan ponselnya di atas nakas lantas berbaring sambil memegangi jantungnya yang berdentam tak karuan saat bertatapan dengan Laura.


Meski tak langsung, ini adalah kali pertamanya Arga memandang Laura sebagai seorang perempuan.


"Ternyata dia cantik juga," gumam Arga baru menyadari hal itu.


Sementara Laura terus melakukan panggilan video dari balik sana. Arga memilih untuk membiarkan saja karena bertatapan dengan Laura membuat hatinya merasa tidak nyaman.

__ADS_1


__ADS_2