
***
"Hmmm."
Roma malah memasang ekspresi bingung. "Karena apa ya? Masa iya karena udah nyicipin punya lo dia jadi gak tertarik lagi?" pikir Roma.
"Terus karena apa? Karena gue udah ngambil kecusian dia?"
"Emangnya waktu itu dia sempet marah sama lo?"
Arga menggeleng. "Enggak, lah! Malahan abis anu-anu dia minta maaf ke gue. Dia bilang gak masalah karena dia yang duluan mancing gue," tutur Arga.
"Ya ampun! Kok gue jadi ngerasa bersalah ya? Gue beneran gak pernah nyangka masalah kalian berdua bakalan serumit ini. Kok bisa si lu perkosa Laura?" tanya anak itu nyeleneh.
"Ya bisalah! Kan gue terangsang."
"Ya, tau! Emangnya lo gak bisa nahan?
"Ya mungkin bisa, tapi 'kan akhirnya Lauranya ngasih. Gue di saat seperti itu mana bisa nolak," sungut Arga.
"Emang rasanya gimana?" Roma malah menjadikan curhatan Arga sebagai ajang interogasi.
"Ya begitulah! Saat itu gue ngerasa Laura cantik banget. Cantiknya berkali-kali lipat sampai gue gak bisa nahan semuanya!"
"Hih, ko ngeri banget si!"
__ADS_1
"Ya itu karena ulah lo," sungut Arga makin kesal. Bukannya mendapat solusi, Roma malah sibuk bertanya seperti apa rasanya.
"Sekali lagi gue minta maaf ya, Ga. Gue janji bakalan bantuin lo," ucap Roma.
"Kalo gitu buktiin! Jangan cuma ngomong doang. Gue mau lo bantuin gue buat ketemu sama Laura."
"Iya ... Iya ... Nanti gue cari informasi," ujar Roma.
Hari-hari berlalu. Tak terasa kini Arga sudah naik kelas 12, dan sedang menikmati liburan sekolah tiga Minggu.
Setiap hari Arga selalu mendatangi Roma. Dia meminta bantuan lelaki itu untuk membantunya mencari tahu informasi tentang Laura.
"Ga! Kemarin gua abis nonton yutup. Katanya ada dua kemungkinan kenapa cewek tiba-tiba menghilang setelah melakukan one night stand!"
"One night stand itu apaan?" tanya Arga polos.
"Oh! Maksud lo bercinta?"
"Hmmm." Roma berdeham malas. Sementara wajah Arga terlihat sangat antusias.
"Emangnya kenapa?"
"Pertama karena dia kecewa."
"Kecewa gimana?" tanya Arga makin bingung.
__ADS_1
"Ya kecewa! Dia sakit hati karena lo udah ngambil kesucian dia. Semisal dia gak kecewa, berarti—"
Roma menghentikan bicaranya. Ia tak yakin melanjutkan kalimat berikutnya karena ini terlalu menyinggung Arga.
"Berarti apaan, dodol! Kalo cerita itu jangan setengah-tengah."
"Hehehe." Roma menyeringai. "Berarti anu lo kecil! Makannya dia gak mau lagi sama lo."
"Sialan!" kesal Arga langsung menabok pipi Roma.
"Tuh 'kan! Sejak awal gue ngerasa omongan yutuber itu gak jelas. Seharusnya gue gak udah cerita sama lo," ucap Roma sembari bersengut. Lelaki itu mengusap pipinya yang memerah.
"Ya lo ada-ada aja! Masa alasannya kayak gitu!"
"Tapi bener Ga! Menurut wanita yang sudah nikah, ukuran penting buat mereka."
"Gak usah ngaco!" Arga menendang tulang kering Roma kesal. "Serius dikin napa!" kesalnya makin jadi.
"Iya, Sorry! Ini gue juga lagi berusaha nyari tau lewat Ayang Rena. Tapi nomor gue malah di blokir sama dia. Padahal Rena itu satu-satunya harapan gue, Ga."
"Kok di blokir?" Kini Arga makim tambah curiga.
"Lo tau alamat rumah Rena, gak? Kayaknya gue emang harus cari tau sendiri. Bisa gila kalau lama-lama sama elo!"
"Udah minta tolong tapi kaya gitu."
__ADS_1
"Jadi lo tau alamatnya, kagak?"
***