
Beberapa saat kemudian, Rena keluar setelah memastikan Gama terlelap dengan tenang. Ia menghampiri Laura yang sudah duduk di kursi sembari menikmati teh hangat. Ada dua teh di sana, satu milik Laura ... dan satu lagi miliknya.
"Gama udah tidur, Ren?" tanya Laura saat Rena mendekat perlahan ke arahnya.
"Udah," jawab Rena lalu duduk di samping Laura.
"Pantes aja dari tadi Gama rewel minta ketemu kamu, ternyata kamu berantem lagi sama Satria?" ujar Rena. Laura terdiam, ia menyeka air matanya beberapa kali baru kemudian bicara.
"Sekarang udah gak bakalan berantem lagi, Ren! Aku sama dia udah putus," ujar Laura. Membuat Rena membelalakkan mata seraya menatap kaget ke arah Laura.
"Kamu serius? Kamu gak bercanda, kan?" tanya Rena. Lagi lagi wajahnya selalu saja sumringah tiap kali melihat kisah asmara sahabatnya itu kandas.
"Iya, tapi ekspresi muka kamu gak usah kegirangan gitu. Aku tau kamu gak pernah suka liat aku pacaran ... tapi gak perlu juga kamu tunjukin segamblang itu di depan aku," ucap Laura lalu mendengkus.
"Hehehe." Rena menyeringai jenaka. "Habisnya Satria itu toxic banget mulutnya, Ra! Emang lo gak sadar … tiap kali dia marah lo pasti selalu dikata-katain," ujar Rena. Mereka memang terkadang bicara aku kamu, kadang juga menggunakan bahasa teman lo dan gue.
__ADS_1
"Iya si, emang dia orangnya gitu … tapi selama ini gue nyaman aja, Ren. Soalnya dia hanya begitu kalau lagi marah doang. Selain itu engga pernah berani," ujar Laura
"Kalo emang beneran nyaman, terus sekarang kenapa lo mutusin buat mengakhiri hubungan lo? Apa jangan jangan lo masih ngarepin Arga? Lo mau kembali sama anak itu?"
"Engga." Jawaban singkat itu keluar dari mulut Laura.
"Cuma semenjak ada Arga, gue ngerasa gak pantes aja sama Satria. Akhir-akhir ini gue memiliki kedekatan aneh sama Dia. Dibilang deket, kita berantem mulu. Dibilang berantem, Arga selalu aja nyari alasan buat memperdaya gue. Entahlah … gue juga gak tau maksud dan pikiran anak itu gimana," ucap Laura.
"Kayaknya Arga lagi bales dendam karena dulu lo memutuskan buat gak kenal sama dia lagi. Lo juga dulu pernah ngatain dia macem macem kan? Jadi wajar sekarang Arga begitu."
"Tapi semua udah berlalu. Gak seharusnya dia mengungkit masa lalu," ujar Laura.
"Jadi yang bener yang mana nih? Kok lo nyebelin sih, Ren?"
"Gak ada yang benerlah! Semuanya adalah dua kemungkinan yang gak bisa diganggu gugat." Rena menyandarkan kepalanya ke sandaran belakang. Saat Rena hendak meminum teh di tangannya, tiba-tiba Gama merengek dari kamar.
__ADS_1
"Ya ampun, Ra! Gama ...."
"Ya ampun. Aku lupa kalo Gama sakit!" Laura langsung berlari ke kamar.
Malam ini Rena memutuskan untuk menginap di rumah itu karena malas. Pagi harinya, Rena terbangun pukul lima pagi karena ingin buang air kecil.
"Astaga Ra! Mau ke mana lagi?"
"Ke rumah Arga. Mau bersih-bersih," ucap anak itu.
"Ya ampun Ra! Ternyata lo bukan cuma karyawan aja ya, lo juga dijadiin pembantu ama anak itu. Mendingan lo ngaku deh, kalo punya anak dari dia, kali aja dia berhenti nyiksa lo kalo lo ngaku."
"Ngimpi! Jangan harap itu terjadi." Laura mendengkus. "Hari ini biasa ya ... gue nitip jagain Gama lagi. Nanti pulang dari rumah si gila itu gue langsung ke rumah lo. Oh ya, obat demam Gama jangan lupa dibawa."
"Kan demamnya udah turun."
__ADS_1
"Iya tapi takut demam lagi." Laura berlalu setelah mengatakan itu. Rena tidak pernah keberatan dimintai menjaga Gama, karena ia memang sudah menganggap anak itu sebagai anak kandungnya. Bahkan ia tak keberatan dipanggil ibu ketika berjalan bersama Gama.
***