Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Draft


__ADS_3

Laura mengembuskan napas lega setelah keluar dari ruang ujian. Besok adalah hari terakhir kelas 12 melangsungkan ujian nasional, dan jika sudah selesai, maka Laura berhasil menutupi kebohongannya. Setidaknya anak itu bisa mendapatkan ijasah untuk bekal hidupnya mendatang.


"Ra, Lo dipanggil kepala sekolah!" Tiba-tiba teman Laura nyeletuk saat sedang mengikat tali sepatu. Rena yang ada di dekat Laura langsung membeliak.


"Mau ngapain?" sambar gadis itu cepat.


"Mana gue tahu! Orang gue cuma nyuruh sampein itu doang." Bahu teman Laura mengedik lantas berlalu.


"Ada apa ya, Ren?" Laura menatap bingung. Getar cemas jelas terlihat di wajah anak itu sekarang.


"Gue juga ga tau, Ra! Lo ada bayaran sekolah yang belum lunas kali!"


"Setau gue udah semua," ucap Laura yakin.


"Duh, gimana, dong?" Rena menggaruk kepala belakangnya bingung. "Gue takut para guru udah tahu masalah lo itu," ucap Rena.


Menurut media sosial yang pernah Rena baca, orang dewasa bisa mengetahui ciri-ciri wanita hamil meski perutnya belum terlalu menonjol.

__ADS_1


Jadi walaupun Laura berusaha menutupi itu, Rena takut sebenarnya guru-guru sudah tahu. Apalagi selama ini Laura selalu memakai jaket ataupun baju longgar.


"Ren, gue takut!" Keringat sebesar biji kacang hijau tampak mulai keluar dari pelipis Laura.


Jangan ditanya ekspresi Rena seperti apa. Terus terang saja ia juga takut Laura ketahuan. Apalagi ujian tinggal 1 hari lagi. Sudah dipastikan usaha Laura akan sia-sia jika guru tahu sebelum mereka selesai ujian.


Mungkin Laura akan dikeluarkan secara tidak terhormat. Ditambah rasa malu pasti akan menghantui gadis itu seumur hidup.


Laura akan menjadi contoh buruk bagi semua siswa. Bukan hanya malu, hujatan bahkan makian sudah dipastikan menghujani hidup Laura. Belum lagi Arga, ah, Laura sungguh tak bisa membayangkan jika anak itu sampai terseret dalam masalah sebesar ini.


Laura pasti akan menyesal seumur hidup


Laura mengangguk. "Temenin ya, Ren!"


Anak itu merengek. Tangannya yang berkeringat mencoba menggenggam lengan Rena kuat-kuat. Berusaha menyalurkan rasa takut yang menggerayangi diri.


"Iya, gue temenin sampe depan doang ya, Ra. Gue juga takut kalo liat muka garang Ibu kepala sekolah," ujar Rena, agak melirih saat menyebut kalimat terakhir.

__ADS_1


"Ya sama!" Gue juga takut," sahut Laura


Akhirnya mereka berdua memberanikan diri pergi ke ruang kepala sekolah bersama-sama.


Belum sempat Laura mengetuk pintu, tiba-tiba guru BK yang paling galak seantero jagat keluar.


"Ngapain dua-duaan? Yang di suruh ke sini itu Laura!"


"I ... Iya, Bu! Saya cuma nemenin doang." Rena menunduk takut. Ia berusaha mengintip dari cela pintu, ternyata di ruang kepala sekolah bukan hanya ada kepala sekolah seorang, ada wali kelas Laura, dan guru BK yang membukakan pintu.


Mampuus, pasti ini masalah serius, batin Rena. Ia melirik Laura. Wajah anak itu pucat pasi.


"Saya nggak bisa nemenin, Bu?" Rena berusaha menawar.


"Gak bisa! Laura ayok cepet masuk!" Guru BK galak itu menarik paksa Laura. Membuat cekalan pada lengan Rena terlepas begitu saja.


Laura terlihat pasrah saat guru BK membawanya masuk.

__ADS_1


Brakk!


Rena tersentak begitu mendengar suara pintu ditutup rapat dan kuat.


__ADS_2