
"Ga … Arga!" Sepasang bola mata Laura merambang tatkala pria itu membuka bajunya perlahan. Laura benar-benar tak kuasa menolak ajakan Arga untuk melakukan hal yang lebih gila lagi dari sebelumnya.
Selain karena atas dasar cinta, gadis itu juga kasihan melihat Arga yang tampak tersiksa pasca meminum sebotol air mineral pemberiannya. Bagaimanapun juga ini merupakan salah Laura terlebih dulu. Jadi ia memutuskan untuk bertanggungjawab atas semua perbuatannya barusan.
Pasrah!
Yang bisa gadis itu lakukan sekarang adalah pasrah dalam balutan kungkuhan tubuh Arga. Pria itu semakin berani dan menuntut lebih.
Lelaki itu memperlakukan dirinya dengan kasar. Menarik baju. Celana. Bahkan menjambak rambut panjang Laura hingga gadis itu meringis ngilu.
Laura sendiri jelas bisa saja melawan karena ia mampu bela diri, tapi pria yang ada di hadapannya kini adalah Arga. Tak mungkin Laura berani melakukan itu terhadap lelaki yang sangat ia cintai.
"Argh, panas! Gue udah gak kuat lagi Ra. Gue mau tubuh lo! Gue mau elo!"
Laura tersentak saat tangan Arga menarik jemarinya lalu menekankannya pada benda mengeras yang sejak tadi mengacung lurus. Ia jelas bingung! Tak tahu harus apa, Laura pun memilih diam saja.
__ADS_1
Arga mulai terlihat brutal dan seperti orang kesetanan. Tangannya sendiri makin bergerilya ke segala penjuru tubuh Laura dan sudah tidak bisa dikontrol lagi.
Laura hanya bisa menangis sambil menikmati kelenjar Aneh yang kian menggerayangi diri saat Arga menyentuh bagian-bagian sensitif pada tubuhnya.
Rasa tak nyaman bercampur nikmat pun mulai menghinggapi tubuh Laura. Ini adalah kali pertamanya Laura mendapatkan rangsangan bir*hi setelah selama ini bagian sensitifnya selalu dijaga erat dan rapat.
"Ga, udah, udah! Aku gak nyaman kaya gini!" Laura berusaha mendorong kepala hitam Arga yang kini sedang mendarat di atas tubuhnya. Sayangnya Arga seperti orang mabuk yang tak peduli apa pun kecuali mainan yang ada di depannya saat ini.
Napas Laura makin memburu tak karuan. Sebagian dari tubuhnya sudah mulai berganti rasa, dari yang tadinya tidak nyaman, sekarang berubah menuntut sesuatu yang lebih dari ini.
Tak membutuhkan waktu lama untuk keduanya polos tanpa busana. Entah sejak kapan Arga melepas bajunya, yang jelas saat Laura membuka mata, lelaki itu sudah tak berbusana dan siap melakukan hal bejat pada dirinya.
Dari pencahayaan lampu yang cukup terang, dapat melihat tubuh Arga yang segar dan terawat meski tidak six pack. Samar-sama ia memandang Arga yang sudah sangat berna*su sekali. Lalu detik kemudian pria itu menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Laura dalam-dalam.
Arga mulai melucuti c*lana bagian bawahnya yang hanya tinggal sepotong. Hal itu membuat Laura merona dan segera menutup mata.
__ADS_1
Aku harus bagaimana, ini?
Laura bermonolog dalam mata terpejam. Jika soal melawan, ia jelas mampu melawan Arga, namun jika soal hati, Laura tak sanggup melewati. Jantungnya berdentam. Perasaannya kini sedang menggila hebat sekali.
Ia hanya mampu menarik napas pasrah saat Arga menempelkan batang pisang miliknya di atas milik Laura. Tak membutuhkan waktu lama untuk Arga memasuki gua terlarang milik gadis itu. Laura sudah sangat tidak terkontrol, jadi guanya bisa diterobos hanya dengan tiga kali hentakan saja.
Brakk!
Laura menjerit kuat-kuat saat suara robek di bawah sana ikut mengiringi teriakannya. Arga sempat bingung dan menghentikan perbuatannya sejenak, tapi detik berikutnya ia mulai mengikuti naluriah alaminya kembali.
Di atas tubuh Laura, lelaki itu mulai memacu tubuhnya semakin kencang. Laura terus-menerus berteriak karena rasa sakit yang menjalari tubuhnya semakin terasa saja. Hanya ada sedikit nikmat, tapi sebenarnya lebih dominan sakit karena Arga juga baru pertama kali melakukan hal seperti itu.
Sayang seribu sayang. Arga tak peduli sama sekali. Yang ada di pikiran pria itu hanya menuntaskan keinginannya sampai puas. Arga bahkan terkesan masa bodo saat Laura berteriak kesakitan dan menyuruhnya berhenti.
Pria muda itu terus memuaskan diri sampai h*sratnya benar benar tuntas. Arga mengulanginya lagi dan lagi, hingga akhirnya ia merasa lelah dan memutuskan untuk berhenti.
__ADS_1
***