Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Pertemuan Kedua


__ADS_3

"Mas ... Mas Yanto! Nama direktur barunya ini?"


Laura berteriak saking tak sadar diri. Buru-buru Yanto menghampiri Laura sambil memasang wajah panik.


"Iya, Ra! Tapi jangan pake teriak-teriak. Nanti kalo kedengaran sampai luar gimana?"


"Mas udah pernah liat mukanya belum?" Laura bahkan tak mendengar peringatan Yanto.


"Ya belum lah, Ra. Yang aku tau orangnya ganteng dan masih mudah. Itu pun gak sengaja denger dari bisikan orang"


"Ahhhhh ...." Sontak Laura menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Membuat Yanto makin panik karena keanehan Laura barusan.


"Kamu kenapa si, Ra? Tolong jangan bikin malu aku." Yanto menarik tangan Laura supaya cepat bangun.


"Nama direkturnya mirip kaya temen aku, Mas! Gimana kalau beneran dia?"


"Ya bagus dong, Ra! Kamu bisa minta naik jabatan sekalian!" Yanto menjawab sewot. Ia benar-benar kesal karena Laura malah berulah di ruangan sepenting itu. Bikin malu saja, pikir Yanto geram.


"Udah ayo keluar. Aku udah selesai."


"Tapi, Mas--"


"Apalagi? Nama yang mirip di dunia ini itu banyak Neng Laura! Kamu pasti kebanyakan ngayal? Setauku Tuan Argantara itu kuliahnya di luar negeri. Kamu kuliah aja enggak, gimana bisa temenan sama beliau?"

__ADS_1


"Huh, iya juga si." Laura mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Mungkin saja yang dibilang Yanto ada benarnya. Kesamaan nama di dunia ini sangat banyak. Laura tidak perlu merisaukan sesuatu yang bahkan belum pernah ia lihat dengan mata kepalanya.


Toh ini adalah pengalaman langka untuk pertama dan terakhir. Kedepannya Laura yakin, pasti ia tidak akan pernah menginjakkan kakinya ke ruangan seperti ini.


"Yuk keluar! Kita harus segera keluar dari ruangan ini sebelum direkturnya dateng."


Yanto menarik lengan Laura secepat kilat, tapi baru saja hendak melangkah, tiba-tiba terdengar suara ramai dari arah luar.


"Gawat, Ra! Kayaknya direktur barunya udah dateng."


"Terus gimana?" Laura menatap Yanto. Wajahnya pucat dan terlihat bingung sekali. Yanto sendiri berusaha bersikap tenang karena dia sama sekali tidak ada niatan untuk mencuri. Dia hanya sedang menjalankan tugas dari atasan. Hanya itu saja. Titik.


"Tenang Ra. Kayaknya nggak papa si. Kita ke sini 'kan cuma nyiapin makanan. Nanti kalo ketemu nunduk aja."


"Nyapa dikit terus nunduk."


Laura mengangguk. Namun, lagi-lagi dia harus dikejutkan oleh pintu yang mulai terbuka perlahan. Wanita itu langsung menunduk dan bersembunyi di belakang punggung Yanto. Dia tidak berani melihat siapa yang datang.


"Selamat pagi Pak." Terdengar Yanto menyapa dengan kata Pak, yang artinya seseorang itu adalah laki-laki. Sampai detik ini Laura masih belum berani mendongakkan kepala sama sekali.


"Gimana ini?" Dia membatin dalam hati. Dalam posisinya Laura mulai panik sendiri.


"Pagi juga. Lain kali usahakan ruangan ini dalam keadaan kosong saat saya masuk."

__ADS_1


Kontan Laura mendongak. Dia memberanikan diri untuk melihat pria dengan suara tidak asing itu.


"Arga?" Suaranya tertahan dan hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.


"Kenapa, ada masalah?" Arga menatap Laura tajam. Hal itu membuat Yanto menarik lengan Laura di mana mereka menjawab kompak.


"Tidak Pak, kalau begitu kami per--"


"Tunggu dulu!" Arga memotong pembicaraan mereka cepat. "Tolong singkirkan semua bunga-bunga yang ada di ruangan ini.


"Baik, Pak," Yanto menjawab sigap.


"Bukan kamu!"


Yanto langsung menatap bingung.


"Saya tidak suka dengan tatapan sinis teman kamu. Jadi biarkan dia saja yang membereskan." Arga berjalan menjauh setelah melakukan itu. Dia berjalan menuju meja barunya.


"Hati-hati, Ra. Jangan sampai kamu ngelakuin kesalahan dua kali."


"Jangan tinggalin aku." Laura menarik baju Yanto kuat-kuat sampai Yanto tidak bisa melangkah sama sekali. Wajahnya benar-benar sudah semakin pucat. Bahkan tangannya terlihat gemetar tidak karuan.


"Maaf Ra. Kali ini kamu harus berusaha sendiri."

__ADS_1


Itulah pesan terakhir Yanto sebelum dia berlalu dari ruangan itu.


__ADS_2