Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Hari Minggu


__ADS_3

Akhirnya hari Minggu tiba lagi. Hari Minggu adalah hari yang paling Laura benci sepanjang sejarah hidupnya. Kalau bisa memilih, hari Minggu lebih baik diadakan satu bulan sekali saja.


Semua itu tentunya bukan karena Laura rajin ke sekolah, tapi karena tidak ada Arga si penyejuk pandangan matanya. Di rumah ia merasa uring-uringan. Salah satu alasan Laura rajin berangkat ke sekolah, ialah Arga. Walau pertemuan dengan Arga hanya sekilas dari jarak dua puluh meter, itu sudah lebih dari cukup bagi Laura. Yang terpenting harus melihat Arga setiap hari.


Rasanya lemas, mau makan malas, tidur sudah bosan, mandi malas, belajar apa lagi, tambah malas. Mau main ke rumah Arga juga tidak mungkin. Bagaimanapun juga Laura masih harus menahan harga dirinya sedikit karena kejadian pada malam itu.


Laura masih berharap Arga akan menjelaskan soal ciuman dadakan itu. Setidaknya Arga harus minta maaf pada Laura. Jelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Ra, maafin aku yah, soal ciuman di malam itu. Aku juga ngga tahu kenapa, tiba-tiba aku pengin banget cium kamu. Aku jatuh cinta sama kamu, aku harap kamu mau jadi pacar aku, Ra."

__ADS_1


Tentunya ucapan itu hanya ekspektasi belaka yang ada di kepala Laura. Sama sekali tidak mungkin jadi realita. Begitulah otak gadis jika sedang galau tingkat tinggi dalam kebucinan.


Demi apa pun, Laura ingin sekali bertemu dengan Arga. Kalau pun Laura memaksakan diri untuk main ke rumahnya, pasti ia akan berakhir ngobrol bersama Ibu Arga dan para tetangganya. Mendengarkan gosip para ibu-ibu yang tentunya Laura sendiri tidak paham sama sekali. Sementara Arga pasti akan mengunci diri di dalam kamar sampai Laura pulang, seperti yang sudah-sudah, pemuda itu selalu begitu.


Beginilah ngenasnya mencintai anak orang yang notabene nolep. Mau sms tidak bisa, Arga kan tidak memiliki ponsel. Mau chatting di sosial media, apa lagi. Arga mungkin belum pernah kenalan dengan fac@book, tuwiter, bbm, atau semacamnya.


Laura gulang-guling tidak jelas di dalam kamarnya sejak ia mulai terbangun. Menulis nama Arga berkali-kali seperti yang sering ia lakukan di saat bosan. Mau belajar juga tidak konsen kalau hati sedang merana.


Dengan langkah malas Laura bangun dari singgasana tercintanya. Akhirnya Laura memulai aktivitas pertamanya di hari Minggu. Yaitu keluar kamar untuk membukakan pintu. Ada sedikit ekspektasi bahwa orang yang sedang berdiri di balik bingkai pintu adalah Arga.

__ADS_1


Ora mungkin, Nduk... Begitulah orang Jawa berkata.


"Roma?" Laura membulatkan matanya. Ia terkejut dengan mode mulut yang menganga lebar sekali. Segera saja ia menarik Roma menjauh dari pelataran rumahnya. Lalu berjalan cepat menuju warung indomie yang tak jauh dari rumahnya.


"Lo ngapain kesini? Gue bisa diusir nenek gue kalo ketahuan punya tamu cowok!" bentaknya kesal. Laura mengajak Roma masuk ke dalam warung indomie. Cowok itu nurut saja saat Laura berusaha menarik dirinya ke dalam. Namanya juga Roma.


"Santai, Ra ... santai! Nanti kalau Nenek lo tau gue bakalan ngaku temen sekelas lo yang mau ngajak belajar kelompok!" ujar Roma dengan tampang jenaka. Kemudian ia duduk berdampingan dengan Laura. "Indomie rebus satu telornya tiga ya, Bang! Jangan pake bawang goreng!" seru Roma.


"Eh, ini anak malah pesen indomi?"

__ADS_1


"Lah, lo sendiri yang ngajak ke sini. Kebetulan banget gue lagi laper." Roma berseloroh.


__ADS_2