
Hal pertama yang Laura lakukan saat keluar lobi adalah membeli teh pucuk untuk mengobati tenggorokan yang terasa kering. Setelah itu dia melihat pedagang gorengan. Bau wangi ubi goreng sangat menggugah perut, tapi sayang pedagang itu ada di seberang jalan.
Tanpa basa-basi Laura segera berjalan ke sisi jalan. Ada jembatan penyeberang jalan di atasnya. Namun Laura lebih memilih nyebrang lewat bawah supaya cepat sampai.
Tin ... Tin ...
Tiba-tiba ada motor berlawanan arah yang menyerempet bahu Laura. Dari arah satunya lagi ada mobil yang tinggal lima meter dari posisi Laura saat ini.
"Arghhhhh!" Laura menjerit seperti adegan yang ada di filem india. Tapi tiba-tiba seseorang menariknya dari arah belakang.
"Jangan norak! Mobilnya juga berhenti," bisik manusia yang baru saja menyelamatkan nyawanya. Laura menoleh. Ada Arga yang menatapnya dengan muka garang.
"Mau kabur lagi?" sindir Arga dengan sebelah alisnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata lelaki itu membawa Laura ke tempat yang lebih aman.
Kini mereka duduk di depan logo rumah sakit yang ada air mancurnya.
__ADS_1
"Siapa yang mau kabur. Aku cuma mau beli gorengan," sungut Laura. Arga diam, dia kembali memasang wajah dingin seperti biasanya. "Oh ya, makasih tadi udah nyelamatin nyawa aku," ucap anak itu kemudian.
Arga masih diam tak bergeming. Laura mulai menyadari apa lelaki itu butuhkan saat ini. Saat Laura hendak mulai bicara, tiba-tiba Arga menoleh. Menatap Laura dengan pandangan lemah.
"Mau sampai kapan?" Ekspresi dingin Arga berubah menjadi berkaca-kaca. Hati Laura serasa ditusuk sembil saat menatap wajah Arga saat ini. Bahkan air mata di pelupuk mata Arga nyaris tumpah sedikit lagi.
"Mau sampai kapan kamu nyembunyiin semua ini dari aku? Rena benar ... Gama udah 8 tahun, sudah saatnya kamu kenalin Gama ke aku dan keluarga lain."
Glek.
"Maafin aku, Ga. Aku cuma belum siap. Aku takut kamu ambil Gama dari aku." Kini malah Laura yang menangis duluan. Teh pucuk yang ada di tangannya tak bisa meredakan mata yang tiba-tiba memanas.
"Kalau aku mau rebut Gama dari kamu mungkin udah dari dulu aku lakuin, Ra. Sejak awal aku udah tahu kalau kamu lagi hamil anak aku. Rena yang ngomong ke aku."
"Kok?"
__ADS_1
Laura benar-benar tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Ternyata diam-diam Rena telah menjadi penghianat di antara mereka.
Apa yang Laura dengar tadi terdengar seperti mimpi. Bahkan Laura berpikir Arga sedang ngomong ngawur saat ini.
"Kalau udah tahu dari awal kenapa gak bilang?' tanya Laura.
"Aku udah terlanjur janji sama Rena."
"Jadi?" Laura membungkam mulutnya dengan kedua tangan.
"Jadi kalian berdua sama-sama menghianati aku?" Sekarang Laura merasa menjadi bola permainan. Mati-matian dia menyembunyikan semuanya dari Arga dan keluarga lain. Tapi dia malah dibohongi oleh Rena.
"Kami bukan menghianati, tapi menghargai keputusan kamu. Dulu saat Rena memberitahu semuanya, aku lagi dalam keadaan terpuruk banget karena kamu tiba-tiba ngilang tanpa kabar. Lalu Rena memberitahu aku kalau kamu begitu karena sedang hamil. Saat itu aku hampir buntu, aku hampir ngomong ke orang tuaku dan memutuskan untuk sekolah. Tapi ...."
Sejenak Arga menghentikan bicaranya. Dia sengaja mengambil napas supaya Laura makin penasaran.
__ADS_1