Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Arga Mulai Posesif


__ADS_3

Sore hari mereka semua sedang makan di sebuah Restaurant, di dekat pantai sambil menikmati suasana angin pantai yang sepoi-sepoi.


"Eh ntar malem kita ke kelab yuk! Kelab di Bali kan terkenal bagus-bagus! Sayang 'kan kalo kita ke sini tapi ngga nengokin bentar," ucap Deni sengaja memprovokasi teman-temanya.


"Kuy lah!" saut Robin.


Ridwan dan Jack pun ikut mengangguk pertanda setuju.


"Lo mau ikut kita berempat gak, Ga? Ko lo diem aja kek prasasti?" ucap Deni.


"Ngak mau! Gue gak tertarik main ke tempat kaya begituan. Mendingan gue tidur," tolaknya tanpa mikir-mikir. Setelah itu Arga tak bergeming, ia terus menyantap makanan nya. Tak mau peduli dengan ajakan temanya.


"Kalo aku boleh ikut ngga kak ?" Tiba-tiba Laura nyeletuk ingin ikut. Gadis itu sengaja ingin melihat bagaimana respon Arga.


Suasana mendadak bungkam mendengar perkataan Laura barusan. Teman-teman Arga mulai menyadari ekspresi Arga yang berubah tidak senang. Seperti reaksi marah dan cemburu yang dicampur menjadi satu.

__ADS_1


Tak enak dengan Arga, Deni pun mencoba untuk membuka omongan, memecahkan keheningan di antara mereka semua.


"kita sih fine aja kalo lo mau ikut Ra, tapi kamu izin dulu ya sama kakak sepupu kamu. Ngeri gak diizinin," ucap Deni pada Laura.


"Boleh ngga Gak?" tanya Jack melirik ke arah Arga.


Arga menatap garang temannya satu-persatu. "Boleh aja, sih! Tapi kalo ada yang berani ngajak dia nggak usah temenan sama gue! Nanti dia kenapa-napa, gue yang bakalan disalahin ama bokap nyokak!" Arga langsung beranjak. Kakinya melangkah pergi ke arah pantai, meninggalkan Laurq dan teman-temanya.


Oh sial! Arga memang laki-laki tampan yang menyeramkan, membuat teman-temanya ikut takut ketika melihat Arga sedang menunjukan tampangnya yang dingin bagai pucuk gunung sahara. Padahal Arga sama sekali tidak bisa bela diri, tapi pembawaannya selalu menegangkan.


"Arga, kamu kenapa sih? Aku kan cuma pengin ikut, emang salah?" tanya gadis itu.


Pertanyaan Laura membuat Arga semakin Emosi. Laura pun mencoba mengejar langkah Arga yang cepat .


"Tunggu dong! Kamu marah gara-gara kaya gitu doang?" cerocos Laura lagi.

__ADS_1


Arga kontan menghentikan langkahnya. Ia menatap Laura dengan wajah geram.


"Denger ya Tuan Putri Laura! Tempat seperti itu bukan tempat yang cocok buat perempuan kaya lo! Meskipun lo bisa bela diri, tetep itu bukan tempat yang bagus buat cewek!" tegas Arga dengan nada yang sedikit marah.


"Gue aja yang cowok gak suka dateng ke tempat begituan!" sambungnya lagi.


"Aku udah gede kali Ga! Bentar lagi aku ulang tahun yang ke 18. Aku juga udah punya KTP," ucap Laura mencoba membela dirinya. Sementara Arga semakin marah meladeni gadis ingusan di depanya itu.


"Ya udah sana lo ikut, tapi kalo ada apa-apa sama lo, gue gak peduli! " Arga bergegas pergi meninggalkan Laura dengan langkah yang semakin cepat. Sementara Laura terus berlari mengejar Arga yang melangkah terlebih dahulu di depan.


"Ga, tunggu!!"


Langkah Arga semakin cepat saja.


"Iya! iya! Aku gak ikut, udah dong jangan marah." Laura mengalungkan tanganya di lengan Aega. Hal itu membuat Arga mencelos dan refleks menepisnya.

__ADS_1


"Ngapain lo pegang-pegang tangan, gue?"


__ADS_2