Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Tak Biasanya


__ADS_3

"Lagian gak biasanya Arga beli apel! Kirain Arga mau ngajakin aku pulang bareng."


"Pede banget lo!" Arga ikut menarik kursi plastik lalu duduk di samping Laura. Ia mengambil satu buah apel miliknya dari kantung kresek kemudian memakannya tanpa dicuci.


"Doyan apa laper, tuh? Dasar Arga jorok," ledek Laura. Sementara anak itu memasukkan satu apel yang baru saja ia bayar ke dalam tas. Tak membeli banyak, Laura hanya membeli satu biji apel sesuai dengan isi dompetnya saat ini.


Beberapa hari lalu uang jatah Mingguan Laura habis dipakai untuk membeli aneka macam testpack bermerek, jadi sekarang Laura terpaksa harus sedikit hemat sampai mendapat jatah uang jajan di Minggu berikutnya.


"Ya udah! Aku mau pulang dulu deh! Entar keburu sore angkotnya susah! Babay Arga!" Laura lantas beranjak sambil melempar pose kisbay. Hal itu membuat Arga melengos, lantas melempar sisa apel di tangannya ke sembarang arah.


Entah kenapa Arga kesal lantaran Laura pergi begitu saja. Padahal biasanya anak itu paling suka berlama-lamaan saat ada Arga di sampingnya. Namun, ia lebih kesal lagi lantaran dirinya tak bisa mencegah kepergian Laura. Tentunya semua itu terjadi karena rasa gengsi lebih besar daripada kejujuran.


Sebenarnya tadi Arga sengaja membelokkan motornya karena ingin bertemu Laura. Tapi saat gadis itu ada di depan mata, Arga langsung berubah wujud menjadi cowok paling dingin sekutub Utara.


Alhasil Laura pergi. Akhir-akhir ini gadis itu simulasi mencoba tahu diri untuk tidak mengganggu hidup Arga lagi. Sayangnya Arga malah merindukan momen-momen Laura saat mengganggunya. Arga merasa kehilangan saat Laura lebih fokus pada kegiatan sekolah ketimbang menemui dirinya.


Eh, tunggu dulu!


Bukannya ini yang Arga inginkan sejak dulu? Kenapa sekarang jadi berubah haluan seperti ini?


Arga termenung sejenak. Bola matanya terus memperhatikan Laura yang semakin menjauh dari kedai buah tersebut. Laura berjalan ke arah sekolah kembali. Tepatnya ke sebuah halte di mana ia akan menunggu bus di sana.


"Raaa!" Arga berteriak saat Laura tiba-tiba jatuh membentur aspal. Beberapa orang juga ikut datang. Semuanya mengerumuni Laura untuk membantunya berbaring di area yang lebih aman dan jauh dari hiruk-pikuk jalan raya.


"Ini yang pingsan temannya, Nak?" Salah seorang pedagang bakso yang membantu mengangkat Laura bertanya pada Arga.


"Iya, ini teman saya!" jawab Arga sambil mengatur napasnya yang tersengal-sengal karena berlari kencang lalu menggendong Laura.


"Teman apa pacar nih?" tanya salah seorang lagi.


"Teman, Bang! Kita teman sekolah. Liat aja seragam sekolah kita sama," ujar anak itu sambil memamerkan bajunya.


"Oh, temen! Kirain pacar. Soalnya kalo pacar harus hati-hati. Biasanya kalo cewek pingsan modelan begini, kadang duduk perkaranya karena hamil! Kemarin saja ada anak SMP pingsan di jalan, setelah dibawa ke puskesmas dinyatakan hamil," ujar si pria tua tersebut.


Deg!


Jantung Arga serasa mencolos dari tempatnya.

__ADS_1


Hamil?


Ia terdiam sejenak memikirkan kemungkinan besar Laura hamil atau tidak. Jika dipikir-pikir, akhir-akhir ini Laura memang sering sekali pingsan. Tentunya hal itu membuat Arga heran karena ia tahu persis Laura rajin olahraga dan memiliki fisik yang sangat kuat.


Karena tak ada tempat teduh yang biasa dipakai untuk bernaung, akhirnya orang-orang membawa Laura ke bekas gubug tepi jalan yang dulunya biasa dipakai berdagang oleh warga.


Arga pun berusaha membangunkan Laura dengan cara seadanya. Dari mulai menepuk pipi, lalu membeli minyak kayu putih di warung agar anak itu sadar.


"Emm … Ga! Aku di mana?" Gadis itu bangun sambil memegangi area kepala setelah setengah jam lebih tak sadarkan diri.


"Lo masih di tempat biasa! Cuma geser dikit doang!" Arga membantu Laura untuk duduk. Gadis itu lantas memandang ke area sekeliling. Mengamati lingkungan sekitar sampai ia paham dirinya ada di mana.


"Aku pingsan lagi ya, Ga?"


"Iya," jawab pria itu dengan suara datar.


"Makasih ya Ga! Lagi-lagi aku ngerepotin kamu," ucap Laura.


Arga memberikan segelas teh hangat pemberian dari ibu-ibu di warteg seberang jalan tadi. "Minum dulu, Nih!"


"Aku mau makan apel dulu, ya! Sebenernya aku pingsan karena dari tadi belum makan apa-apa! Perut aku mual banget. Jadi kalo dimasukin makanan dikit langsung muntah."


"Nah itu kagak mual!" cetus Arga.


"Biasanya kalo makan buah emang gak mual. Lagian aku kalo lagi sakit  lemang seringnya cuma makan buah kaya gini," kilah gadis itu sambil terus menggigit buah apel di tangannya sedikit demi sedikit.


"Ya udah cepetan abisin apelnya. Abis ini kita ke dokter!"


"Hah? Dokter? Gak maulah! Entar aja di rumah. Lagian kartu BPJS ku di rumah,"ujar anak itu.


"Ngeyel banget kalo dibilangin! Udah kedokter aja! Nanti kalo lo pingsan lagi siapa yang repot? Awas aja kalo gue lagi yang kena!" tandas Arga.


"Kamu tenang aja! Mulai hari ini aku bakalan jaga kesehatan lebih giat lagi. Aku yakin setelah dua hari nanti pasti sembuh!"


*


*

__ADS_1


*


Sempat terjadi perseteruan antar Arga dan juga Laura. Arga kekeh ingin membawa Laura periksa ke dokter, dan Laura bersikukuh tidak mau periksa ke dokter atau ke mana pun.


Hal itu membuat Arga geram dan curiga bahwa gadis itu tengah menyembunyikan sesuatu darinya.


Karena ketidakberdayaannya, akhirnya Arga mengalah. Toh dia bukan siapa-siapa Laura, jadi tak mungkin Arga memaksa lebih hanya untuk mengantarnya periksa ke dokter.


Akhirnya Arga hanya mengantar Laura ke rumah lantaran tidak tega dengan keadaan gadis itu. Pria itu berhenti di jalan yang cukup jauh dari jarak rumah Laura.


"Sampe sini aja, Ga! Makasih banyak ya!" Laura nyelonong turun begitu motor Arga berhenti. Untungnya Arga sigap menarik jaket anak itu.


"Tunggu dulu!"


"Mau ngapain?" Anak itu menoleh. Arga lantas mengambil sekantung apel dari cantolan motor lalu memberikannya kepada Laura.


"Buat lo aja deh!"


"Eh, ko buat aku? Katanya apel ini pesenan ibu kamu," ucap Laura sembari menatap apel tersebut, tapi belum mau menerimanya.


"Salah beli gue! Ibu mintanya apel ijo, gue belinya yang merah! Daripada nantinya dimarahin mendingan buat lo aja!"


"Ini kamu serius?" Dua bola mata Laura tampak berbinar bahagia. Satu apel yang dimakan tadi memang masih kurang untuk memenuhi ngidam pertama anak itu.


"Iya seriuslah! Nanti biar gue beli lagi yang ijo. Kalo lo gak mau nerima, apelnya mau gue buang di jalan! Gimana? Lo mau kagak?"


"Mau … mau … mau!" Laura langsung menyambar apel tersebut. Setelah itu Arga memutar motornya ke arah balik. Pria itu langsung melajukan motornya tanpa pamit terlebih dahulu.


"Ah, apelku!" Laura memeluk sekantung kresek apel tersebut dengan erat.


Bahagia?


Tentu saja jawaban gadis itu adalah iya. Ini adalah kali pertamanya Laura mendapat sekresek buah dari Arga meski ia mendapatkannya karena Arga tidak sengaja lupa warna.


Namun, bagi Laura itu sudah lebih dari cukup. Gadis itu berjalan ke rumah sambil terus mendekap erat apel pemberian Arga.


Andai Laura tidak sedang menuruti ngidam, mungkin apel itu akan dibuatkan museum khusus di kamarnya. Sebagai pajangan bahwa apel tersebut adalah apel pemberian Arga.

__ADS_1


__ADS_2