
Laura hanya membalas ucapan Robin dengan senyuman, sebenarnya ia sedikit risih melihat tingkah teman-temen Arga yang sedikit genit. Tapi mau diapa, nama Luara memang sudah tidak asing lagi di padepokan itu, wajar jika junior Laura mengenalinya.
"Hey bukanya kalian bertiga keberatan Arga bawa adik sepupunya?" Tiba-tiba saja Jack nyeletuk dengan wajah polosnya.
Teman yang satu ini memang beda, ia tidak dapat melihat siapa yang menjadi sepupu Arga. Entah mereka harus menyebut Jack polos atau bodoh, dua-duanya cocok disandang anak menyebalkan itu.
"Ngga kok ngarang aja lo Jack! " bantah Deni. matanya berkedip satu, memberi sebuah isyarat pada Jack.
Jack memang selalu jujur dan tidak dapat diajak berkompromi, sungguh laki-laki yang polos .
"Iya nggak, kok! Huuuu dasar lo tukang ngarang!! Mana mungkin si kita keberatan, jangan percaya ya Ra! Temen kita yang satu ini memang suka bercanda hehehe," saut Ridwan ikut menimpali.
"Oh ya, maafin aku ya semuanya, soalnya aku lagi bete banget libur seminggu. Jadi aku ikut Arga," ucapnya dengan nada yang lembut. Padahal Laura mau ikut karena ingin membuat momen indah bersama Arga untuk terakhir kali sebelum ia menghilang dari hadapan Arga selama-lamanya.
Karena orang tua Arga yang menyuruh juga, jadi ia sengaja menggunakan kesempatan ini.
"Eng … ggg … engga, papa kok," jawab Robin terbata mendengar suara Laura yang begitu imut. Jauh sekali dengan penampilan gadis itu saat sedang melakukan gerakan karate.
Bagi ke tiga cowo ini, melihat Laura dari jarak dekat adalah hal yang sangat langka, betapa senang nya hati mereka mengetahui sepupu yang dimaksud adalah Laura si senior di klub karate mereka. Kebetulan semua yang ada di sana merupakan pecinta karate di padepokan milik ayah Arga, kecuali Arga.
"Betewe kamu masih jomblo gak, Ra! Kira-kira boleh gaj kita daftar? Siapa tau aja ya ngga, Ga?" goda Ridwan menyikut lengan Arga .
Mendapat candaan seperti itu, Arga hanya bergeming. Ia memang sudah terkenal sebagai cowok yang beraura kaku bagaikan batu prasasti.
Lagi-lagi Laura hanya tersenyuman dengan perkataan Ridwan. Arga yang kesal lantas menarik tangan anak itu. "Temenin gue beli Aer," ucapnya kontan. Mereka berjalan menjauh dari teman-teman Arga.
"Gak usah kecentilan!" bisik Arga. Entah kenapa ia merasa Laura sengaja mencari perhatian pada teman-temannya.
"Siapa yang caper?" balas Laura tidak terima.
"Itu lo tadi sok kecakepan banget di depan temen-temen gue. Kan kemarin udah gue omongin, lo harus bisa jaga sikap karena di sini posisi lo cewek sendiri, paham?"
"Iya, paham?" Laura memanyunkan bibirnya tiga centi. Padahal ia merasa tidak cari perhatian pada siapa pun. Tapi tuduhan Arga membuat dia kesal. Mungkin juga bayi yang ada di perut Laura sekarang jadi ikutan kesal.
Oh ya, mengenai kondisi bayi di peru Laura. Sekarang dia sudah tidak rewel seperti sebelumnya. Laura juga sudah tidak sakit pasca ambruk waktu itu. Jadi Laura bisa menjalani hari-hari seperti biasa tanpa ada yang curiga.
__ADS_1
*
*
*
Beberapa menit kemudian akhirnya mereka semua sampai di sebuah Villa yang tak Jauh dari Bandara.
"Oh ya berhubung kamarnya cuma ada tiga, jadi lo bertiga tidur di kamar pertama. Gue sama Robin di kamar kedua, dan Laura tidur di kamar ketiga sendiri." Arga mengatur tempat untuk tidur. Karena memang ialah yang memesan villa itu.
"Gue ngga mau sekasur bertiga sama Deni! Udah sempit, terus dia kalau tidur ngorok pula! Gue maunya sama Robin!" tolak Jack begitu saja.
"Gak bisa Robin kan tidur sama gue," ucap Arga membantah ucapan Jack.
Sementara mereka berdebat Arga segera menyuruh Laura masuk ke dalam kamar nomer 3. Tanpa basa-basi Laura pun segera masuk ke kamar untuk membereskan barang-barangnya .
Sementara mereka yang masih berada di ruang tamu, masih terus melanjutkan perdebatannya.
"Gini aja deh! Gimana kalo lo tidur sama sepupu lo! Lagian kan lo berdua sodara."Jack memberi saran pada Arga. Karena memang kalau satu kasur bertiga itu sangat sempit.
"Yaudah kalo gak mau, biar gue aja yang tidur bareng Laura kalo gitu," ledek Ridwan tersenyum licik ke arah Arga.
"Kalo kaya gitu gak boleh! Biar gue aja yang tidur sama Laura!" jawab Arga sedikit malu, ia seperti sedang menjilat ludahnya sendiri.
walau sebenarnya ia tak ingin tidur di samping Laura, tapi ia tak rela jika ada laki-laki lain yang berani tidur di samping wanita yang katanya akan menjadi jodohnya suatu hari nanti itu.
"Yaelah akhirnya mau juga kan ? Makanya jangan pake segala jaim-jaiman," timpal Deni terkekeh mendengar jawaban Arga.
Arga menatap Deni dengan tatapan dingin dan tajam, seakan ingin membunuh Deni dengan tatapanya itu. Takut diamuk Arga, Deni pun segera menghentikan tawanya itu.
Akhirnya masalah mereka terselesaikan
Ridwan Dan Deni tidur di kamar nomer 1. Jack dan Robin tidur di Kamar nomer 2 sementara Arga tidur di kamar nomer 3 bersama Laura.
Mereka semua pun masuk ke dalam kamar masing masing yang sudah di tentukan untuk membereskan barang-barang mereka.
__ADS_1
Krakk!!
Arga membuka pintu kamar, Laura yang sedang membereskan barang-barangnya langsung kaget melihat Arga masuk secara tiba-tiba.
"Arga ngapain kesini ?" tanya Laura dengan nada agak jutek. Entah kenapa, semenjak hamil watak gadis itu berubah total. Bawaannya ia ingin selalu bersikap jutek tiap kali melihat wajah Arga.
"Ya naro barang-barang gue dong! "jawab Arga ikutan cetus dan singkat.
"Bukanya tadi kamu mau tidur sekamar sama Robin?" Laura menatap keheranan
"Gak Jadi!" Arga membereskan barangnya. Menatanya dengan rapih di samping barang Laura.
"Yah, aku gak bisa sekamar bareng cowok! Pokoknya Gak mau ah! " ucap Laura kontan menolak.
"Yaa mau gimana lagi? Siapa suruh lo maksa pengin ikut," jawab Arga tak berdosa.
"Arga juga gak bilang kan, kalo liburanya bareng cowo semua!" saut Laura menyalahkan Arga.
"Lupa." jawab Arga dengan entengnya, membuat Laura sedikit kesal. Langsung saja ia melemparkan bantal ke arah Arga.
"Ikhh!" Laura berdecak.
"Ngga usah protes lo, oh ya! Bisa ngga? kalo di depan temen-temen gue, lo ngga usah kecentilan gitu, jijik tau!"
"Maksudnya, apa Ga? Aku caper sama mereka?"
"Lo centil bego!"
"Suka-suka dong , Arga cemburu ya?" Laura menyerngitkan alisnya.
"Cih! Siapa yang cemburu? Sebagai cowo gue cuma ngomongin lo doang, biar ngga tumbuh jadi makhluk yang genit. Norak tau!"
Arga pun berlalu pergi meninggalkan Laura yang sedang marah bersungut-sungut, tak habis fikir dengan perkataan Arga yang begitu kasar padanya. Bagi Laura kata-kata Arga telah merendahkan harga dirinya.
Tapi bukankah itu sudah biasa. Kenapa sekarang rasanya beda?
__ADS_1
****