Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Arga Tercengang


__ADS_3

"Ra, berarti sekarang kita pacaran, 'kan?"


Pertanyaan Arga membuat Laura membeku seketika. Ingatannya langsung tertuju pada sosok janin yang kini bersarang nyaman di dalam perutnya.


Nggak, aku nggak bisa kayak gini, batin Laura. Saking terbuainya ia pada suasana romantis yang Arga ciptakan sedemikian rupa, Laura sampai lupa bahwa ia sudah berjanji takkan melibatkan Arga dalam masalahnya saat ini.


Laura gagas menggeleng cepat. Ia memundurkan langkahnya. Air mata pun menetes perlahan di pelupuk matanya.


"Maaf Ga," lirih gadis itu tiba-tiba.


"Kenapa, Ra?" Arga menatap heran.


"Maafin Aku, Ga! Kayaknya aku harus tarik kembali ucapan aku tadi. Kita nggak bisa jadian."


"Tapi kenapa?"


Hati Arga serasa dirobek. Jiwanya seperti dijatuhkan dari langit ke tujuh dan langsung membentur bebatuan runcing.


Arga sudah merasa senang dengan jawaban Laura barusan, tapi tiba-tiba gadis itu malah ragu tanpa alasan.


"Maafin aku, Ga! Aku beneran gak bisa!" ucap gadis itu.


"Ya, tapi kenapa? Kenapa lo tiba-tiba berubah pikiran kayak gitu? Terus apa artinya ciuman sama jawaban lo tadi kalau ujung-ujungnya jadi kayak begini?" tanya Arga. Agak murka suara anak itu saat didengar.


"Maaf Ga … Aku lupa kalo beberapa minggu lagi kelas 12 harus ujian, jadi aku mau fokus belajar dan gak mau mikirin cinta-cintaan! Aku nggak mau mikirin pacaran dulu."


"Kalo gitu gue tunggu sampe lo lulus, gimana?"


Glekkk.


Laura menelan ludahnya dengan susah payah. Tak menyangka … ia sungguh tak menyangka bahwa Arga akan sebucin ini kepadanya. Ia pikir Arga akan paham, tapi ternyata rasa suka anak itu sudah terlanjur dalam.


"Maaf Ga, kayaknya tetep nggak bisa! Nanti aku malah jadi tambah gak konsen kalo begitu caranya," ujar gadis itu. "Pasti aku bakalan kepikiran kamu terus. Pengin deket kamu. Pengin sama kamu," ujar anak itu.


Mendengar itu, Arga tampak marah. Ia merasa dirinya seperti dipermainkan oleh gadis itu.


"Sebenarnya mau lo apa si? Dulu lo ngejar-ngejar gue kayak orang kesetanan, sekarang giliran gue mau seriusin lo malah kayak gitu! Lo sadar gak kalo udah mempermainkan hati gue?" bentak Arga lagi.


Sekujur tubuh Laura serasa dikuliti. Bergetar hati dan juga jiwa anak itu. "Bukan gitu Ga, tapi emang waktunya yang gak tepat!"

__ADS_1


"Kan gue udah ngasih lo waktu luang! Kalo lo mau ujian ya udah, gak masalah, gue juga gak bakalan ganggu!" seru Arga. Kali ini terdengar lebih keras lagi.


"Maafin aku Ga!" Laura kontan berlari meninggalkan tempat itu. Dengan cepat kakinya melangkah turun. Hal itu membuat Arga harus menyusulnya dengan perasaan kalut.


Gagal sudah surprise yang ia buat malam ini. Padahal Arga merogoh kocek yang cukup lumayan demi ingin menunjukkan keseriusannya kepada Laura.


"Ra!"


"Luara tunggu!" Arga mengejar gadis itu. Ia menarik lengan Laura dengan kasar, lantas mengajak gadis itu masuk ke mobilnya kembali.


"Gak usah lari-larian kayak anak kecil! Kalo lo gak mau pacaran sama gue ya udah, ayo kita pulang!" ucap anak itu.


Mobil Arga mulai melaju meninggalkan tempat itu. Laura hanya menangis sepanjang perjalanan mereka, membuat hati Arga makin bingung dan bertanya-tanya kenapa Laura menjadi seperti ini.


Shittt!


Arga menghentikan mobilnya.


"Lo sebenarnya kenapa si?"


"Kenapa apanya?" tanya anak itu sembari mengusap air mata yang terus menetes di pipi.


"Lo kenapa nangis? Orang gue yang ditolak aja bisa bersikap biasa," kesal Arga.


Lagi pula!


Siapa sih yang tidak bahagia ketika orang yang kita cinta tiba-tiba membalas perasaan kita? Kalau keadaannya tidak seperti ini, Laura pasti sudah jingkrak-jingkrak seperti orang gila.


"A … aku ngerasa bersalah sama kamu!" kata gadis itu. Ada helaan napas yang keluar dari lubang hidung Arga saat mendengar Laura berkata seperti itu.


"Bukannya ini udah jadi keputusan lo? Kenapa harus ngerasa bersalah segala? Ada pun orang yang seharusnya menangis itu gue, Ra! Gue yang baru aja lo tolak," ucap Arga. Matanya memerah.  Aura murka jelas terlihat sekali di wajahnya saat ini.


"Maaf Ga!" Laura hanya dapat menunduk sambil mengucapkan kata maaf.


Arga perlahan mendekat. Hal itu membuat Laura spontan menatap gugup ke arah lelaki itu.


"Sebenarnya lo cinta gak si sama gue?"


"Ci … cinta … ta … tapi?"

__ADS_1


"Tapi lo gak mau pacaran?" kesal Arga.


Tubuh lelaki itu makin condong ke depan. Posisi mereka kini nyaris berciuman.


"Gue boleh tanya sesuatu gak?" Ucapan Arga, kali ini terasa seperti bisikkan yang menggoda di telinga Laura. Ia mengusap air mata gadis itu, menatapnya begitu intens hingga Laura merasa benar-benar sudah dikunci oleh anak itu.


"Ma …mau nanya apa?" tanya gadis itu makin gemetar gugup.


"Pas gue cium lo tadi, apa yang lo rasain?"


"Aku malu," lirih Laura dengan suara tertahan.


"Cuma malu doang? Bener lo gak ngerasain apa-apa?" Arga menaikkan sebelah alisnya tinggi-tinggi. Lelaki itu mencengkeram tangan Laura kuat-kuat, lalu menindih gadis itu dengan tubuhnya sendiri.


"Bener lo nggak pernah ngerasain apa-apa saat kita berdua kayak gini? Yakin cuma malu doang?"


"Ar ... Ga! Maksud kamu apa? Kenapa jadi kayak gini?" Tubuh Laura semakin gemetar ketakutan. Arga seperti bukan Arga yang selama ini dia kenal.


"To … tolong jangan seperti ini Kai! A … aku takut!"


Laura berusaha meronta, mendorong Arga sebisanya, tetapi lelaki itu terus mendekat, membuat Laura mengingat kembali kejadian beberapa bulan lalu saat mahkotanya terenggut karena obat perangsang yang merongrong nafsu birahi Arga.


Arga mencium paksa bibir gadis itu. Kali ini tak ada kelembutan sama sekali. Lelaki itu mencium Laura dengan kasar, bahkan tangannya sudah menyusup di balik baju gadis itu.


"Ga ……" Isak tangis Laura tak terbendung lagi. Sekujur tubuhnya yang gemetar hebat, membuat Arga berhenti dengan aksinya lalu memeluk gadis itu seerat mungkin.


"Tenang aja, gue gak bakal ngapa-ngapain lo kali ini. Gue masih punya kesadaran penuh. Gue begini cuma mau tanya, lo masih inget sama hal ini, 'kan? Lo gak lupa kalo dulu kita pernah ngelakuin kesalahan ini, kan?" tanya Arga. Penuh penekanan dalam setiap nada bicaranya.


"I … iya!" lirih anak itu sambil mengangguk. Mereka masih berpelukan. Di kepala Laura timbul banyak sekali tanda tanya. Kenapa Arga melakukan hal ini kepadanya.


"Itu sebabnya gue mau seriusin lo, Ra Kalo nggak inget sama hal itu, mungkin gue gak akan segila ini mikirin hubungan kita. Awalnya gue emang terkasan ogah, tapi makin kes sini gue makin merasa bersalah karena udah ngambil kesucian lo," ujar lelaki itu.


Laura tertegun. Ia kembali menelan saliva tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Karena rasa salah itu … gue terus mikirin elo! Tanpa sadar juga, ternyata gue jatuh cinta sama lo. Gue mulai mandang lo beda dari sebelumnya," kata Arga lagi.


Kini ia kembali ke kursinya sendiri. Arga mulai melajukan mobilnya menuju arah pulang.


"Tapi ya udahlah, kalo itu udah jadi keputusan lo, gue terima, gue bakalan nunggu sampe lo berubah pikiran!" ujar lelaki itu.

__ADS_1


Tak ada obrolan apa-apa lagi setelah itu. Laura tidak mau membuat hati Arga makin terluka, jadi ia sengaja tak mau bicara.


***


__ADS_2