Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Ujian


__ADS_3

***


Beberapa hari berlalu setelah kejadian itu.


Sekarang murid kelas dua belas sedang menjalani ujian nasional. Para adik kelas diliburkan agar semua siswa dapat mengerjakan soal ujian dengan hikmat.


"Ra, lo gak papa?" tanya Rena seraya memberikan satu botol air mineral kepada Laura.


"Gak papa Ren! Emangnya gue kenapa?" tanya Laura balik. Kini keduanya sedang ada di mobil Rena.


Kebetulan hari ini anak itu berangkat menggunakan mobil. Laura juga selalu menginap di rumah Rena dari sejak kejadian itu sampai sekarang. Alasannya tentu saja karena mereka ingin belajar bersama.


"Muka lo pucet banget, Ra. Kayaknya lo harus buka korset lu deh, biar gak terlalu engap. Gak tega gue liatnya," ujar anak itu.


"Tapi kalo dibuka agak menonjol, Ren. Gue takut ketauan. Gimanapun juga gue gak boleh batal ikut ujian karena itu adalah satu-satunya bekel gue buat nyari kerjaan dan ngidupin anak gue nanti!" tegas gadis itu.


Rena yang tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa diam sambil memandangi Laura dengan perasaan iba. Sejujurnya ia kasihan dengan kondisi gadis itu, tapi mau diapa, ia juga tidak mau Laura gagal ujian karena ketahuan hamil.


Usia kandungan Laura sendiri sudah menginjak empat bulan lebih. Jadi sekarang Laura harus lebih ekstra hati-hati agar kehamilannya tidak diketahui orang lain, terutama Arga. Ia berusaha sebisa mungkin menghindari lelaki itu. Bahkan mereka sudah lama sekali tak bertemu sejak kejadian itu.

__ADS_1


"Ya udah, sekarang mendingan lo fokus ujian aja, toh tinggal beberapa hari lagi kita selesai, Ra," kata gadis itu. "Abis ini kita bisa sambil napaslah, nanti cap tiga jari kemungkinan pas lo udah selesai melahirkan. Paling engga 5 atau 6 bulan lagi ijazah kita baru keluar, jadi kayaknya momennya pas banget itu."


"Iya, gue juga mikirnya gini," ucap anak itu.


"Ya udah, coba lo buka dulu perut lo deh. Lagian masuknya masih setengah jam lagi, kan?" kata Rena.


"Tapi entar lo yang bantu ngancingin ya, soalnya susah," kata gadis itu.


"Iya tenang aja. Lo ribet banget si! Sejak kapan gue gak bantu lo?"


Laura pun menyeringai. Rasa lega menyeruak di dada saat kancingnya korsetnya terbuka perlahan. Gadis itu mengelus lembut perutnya dari atas ke bawah. Membelainya penuh cinta layaknya seorang ibu.


"Aduhhh!" Laura merintih tiba-tiba. Membuat Rena yang sedang ngaca langsung menoleh ke arah gadis itu.


"Perut gue kayak ada yang nendang, Ren!"


"Hah, lo serius?" Rena lantas menyentuh perut Laura. Tangannya yang nakal masuk ke dalam baju tanpa kara permisi.


"Mana, kok ga ada apa-apa?" Gadis itu menatap bingung.

__ADS_1


"Coba tahan dulu, soalnya kadang gerak kadang engga," ucap Laura.


Rena yang masih penasaran menurut saja. Tak lama kemudian, dua bola matanya dibuat membelalak seketika saat munculnya tanda gerakan di perut Laura.


"Eh … eh … eh…. Beneran nendang!" Rena menjerit. Buru-buru Laura membekap mulut gadis itu karena suaranya terlalu berlebihan meski tak ada orang lain yang mendengar.


"Jangan berisik Ren!" Kamu ini mulutnya gak bisa dikontrol ya!"


"Eh, maaf! Soalnya ini pertama kalinya gue megang kayak begitu. Entar kalo udah selesai ujian kita periksa ya, aku penasaran! Aku pengin mastiin jenis kelaminnya sekali lagi. Mau tau cowok apa cewek. Soalnya yang waktu itu kan belum terlalu jelas," ujar Rena.


"Iya, entar kita periksa kalo udah ada waktu," kata Laura. Sudah lama mereka tak mengetahui keadaan bayi itu. Laura memang selalu menolak dengan berbagai alasan tiap kali Rena mengajaknya periksa kandungan.


"Beneran ya, pokoknya sepulang ujian kita periksa. Lagian bu bidan yang itu enak, dia tetep santai meski tau lo belum menikah."


"Iya sih, tapi kadang gue malu ngantri sama ibu-ibu. Mereka pada ditemenin suami, sedangkan gue cuma sama lo."


"Ya, terus lo maunya gimana? Mau gue suruh Arga buat nemenin lo? Bisa … sekarang juga bisa kalo lo ma—" Laura segera memutup mulut Rena untuk kedua kali.


"Jangan ngaco deh! Iya abis selesai ujian kita ke sana … tapi di jam mau tutup aja, biar ibu-ibu yang liat kita ngantri periksa gak pada saling bisik."

__ADS_1


"Iya ndoro Laura yang mulia!" tandas Rena.


***


__ADS_2