Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Wajah Yang Sama


__ADS_3

"Boleh 'kan, Dok?" ulang Arga sekali lagi.


Hal itu membuat Laura dan Rena saling pandang karena Arga terlihat sok kenal sekali dengan Gama.


"Boleh boleh. Jika mau dijenguk silakan! Tapi kalau mau menunggu maksimal hanya boleh dua orang," kata si Dokter berseru mempersilakan.


Arga tersenyum dan berterima kasih. Tanpa peduli dia masuk terlebih dahulu. Tapi sesampainya di sana Arga bingung karena ada enam pasien yang dirawat. Makluk, asuransi yang dipakai Laura adalah asuransi murahan kelas tiga.


"Yang mana?" Arga menoleh ke belakanh.


"Makannya jangan sok tau! Tuh yang paling pojok," sungut Rena sambil menunjuk dengan dagunya. Tentunya ia lakukan dengan cara berbisik mengingat semua yang ada di sana orang-orang sakit kecuali penunggu.


Arga mendekat. Dia membulatkan dua bola matanya saat melihat sosok anak kecil berbaring di ranjang dengan selimut hingga sebatas dada.


Langkahnya terhenti tepat dia depan tubuh Gama. Perlahan dia mulai membelai wajah tidak asing itu dengan satu tangannya.


Sementara Laura pura-pura membenarkan selimut. Dia juga menyentuh badan Gama untuk mengecek suhu badannya. Bersyukur panasnya saat ini agak menurun.


"Sehat-sehat ya, Gam," lirih Laura yang jelas di dengar oleh Arga. Lelaki itu menoleh dengan tatapan menuntut.

__ADS_1


"Kayaknya nggak perlu di jelasin dia udah tahu Gama siapa, 'kan, Ra?" Rena nyeletuk lagi dari belakang. Tidak mungkin Arga tidak mengenali wajah Gama karena mereka terlihat seperti roti Aoka dibagi dua.


Sementara Laura di samping Arga memejamkan matanya. Dia tidak berani menatap lelaki itu sama sekali. Laura menjerit dalam hati.


Siapa saja tolong selamatkan aku, batinnya. Laura memang tidak berniat menyembunyikan Gama dari Arga. Tapi sekarang waktunya belum tepat. Demi apa pun Rena belum siap memperkenalkan Gama pada bapaknya.


"Kamu paham 'kan apa yang aku makdud," celetuk Rena pada Arga.


"Dia anak kamu," imbuhnya lagi.


Laura yang kesal langsung menoleh pada Rena. Dia memberi isyarat pada anak itu supaya mulutnya diam. Tapi Rena tak peduli. Dia malah semakin berani bicara semaunya tanpa menunggu Laura.


"Ren ...." Laura melotot garang.


Rene mendengkus lalu melipat tangannya di depan dada. "Aku cuma ngingeti aja. Siapa tahu Arga lupa kalau dia pernah jungkir balik bikin anak sama kamun," ujar Rena.


"Siapa suruh kamu diem aja. Makannya jelasin dong. Udah saatnya Arga tahu semuanya. Gama udah delapan tahun, mau sampai kapan kamu sembunyiin ini dari orang-orang."


"Woi berisik!" Pasien sebelah yang kakinya patah berteriak. Di saat ia harus menahan kaki yang nyut-nyutan karena ditabrak becak keluarga cemara itu malah berdebat.

__ADS_1


"Kalau mau rapat di luar. Ini tempatnya orang sakit," ucap si pasien kaki pagah itu.


Arga menoleh pada Laura. Sorot matanya menyorotkan berbagai pertanyaan yang ada di kepala.


"Keluarga Pasien Gama Argantara." Sontak semua menoleh, tapi hanya Laura yang mengacungkan tanga.


"Saya. Saya ibunya, Sus." Kontan Arga menoleh pada Laura. Entah apa itu maksudnya.


"Anda ditunggu di ruangan adimistrasi. Ada beberapa file yang belum ditandatangi," ujar si suster.


Saat itu juga Laura mengembuskan napasnya lega.


"Baik, Sus. Saya segera ke sana." Laura keluar mengikuti si suster. Dia senang karena bisa lolos sementara waktu dari tatapan Arga yang menunggu penjelasannya.


Sesampainya di ruang administrasi Laura langsung menandatangani beberapa berkas yang perlu disetujui oleh walinya.


"Kok aku aus banget ya?" gumam anak itu. Dia mengindahkan pandangannya ke luar lobi. Tampak banyak pedagang terlihat dari kejauhan.


"Beli gorengan sama teh pucuk kayaknya enak nih," gumamnya lagi.

__ADS_1


***


__ADS_2