Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Arga Kecewa


__ADS_3

"Emangnya kenapa, Ga? Di Bali 'kan bebas. Lagian aku sendiri ngga keberatan kok," jawab anak itu sengaja memancing, ia merasa tak bersalah. Hidupnya diatur olehnya, bukan Arga ataupun orang lain.


"Gue ngga suka liat cewek kegatelan kaya gitu! Karena sekarang lo adalah tanggung jawab gue, jadi mau gak mau lu harus nurut," balas Arga ketus.


"Oh jadi ini alesan kamu ngajak aku pergi menjauh dari mereka? Kamu cemburu?"


"Apa lo bilang? Cemburu?" Arga memekik tidak terima.


Kata cemburu adalah serangan mendadak untuk Arga. Bahkan ia tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Ia hanya menganggap bahwa ia tidak terima seseorang yang pernah ia renggut keperawanannya itu sampai disukai orang lain.


Sekali lagi itulah yang ada di benak Arga. Dan tubuh sexy itu, sebenarnya Arga merasa tak rela jika ada orang lain yang melihatnya.


"Gue cuma ngga suka liat lo jadi bahan tontonan temen-temen gue atau orang lainya, emang lo ngga risih diliatin sama orang-orang? Apalagi cowo kalo ngeliat matanya sampai mau lepas gitu," terang Arga secara logis, namun tampak jelas ia sedang menutupi rasa cemburunya.


"Aku ngga begitu merhatiin orang sekitar sih, hehehe. Terus kalo kamu gimana?" Laura menatap Arga serius. Membuat laki-laki itu sedikit salting beberapa detik.


"Gimana apanya?"


"Gimana liat penampilan Aku? Mata kamu mau copot engga, BTW?"


"Kalo gue beda. Soalnya gue udah gak peduli sama cewek seksi, dan gue juga nggak tertarik ngeliat cewe berpakaian minim," bohong Arga seraya memalingkan wajahnya, ia yakin pasti mukanya sudah merah merona karena apa yang dia ucapkan berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan saat ini.


Nyata Arga cemburu, Arga merasa tak senang ketika bagian tubuh Laura dilihat orang lain selain dirinya. Terlebih, jantungnya berdetak tidak wajar saat melihat penampilan Laura sekarang.


Arga sendiri juga merasa gugup dengan pertanyaan Laura barusan. Jujur saja, ia juga sama seperti laki-laki lain pada umumnya. Sebagai pria norma ia juga terpesona melihat kecantikan dan penampilan Laura yang begitu Sexy. Tak ayal lagi, ia terus menelan salivanya sedari tadi.


"Ya udah lah, gak usah dibahas. Pokonya makasih ya, Ga! Ternyata kamu peduli banget sama aku, dan maaf aku udah salah paham sama kamu." Laura nampak serius menanggapi, ia menggengam erat tangan Arga.


Di saat-saat begini Laura jadi merasakan sensasi mempunyai suami. Hal yang paling ia impikan sejak dulu, yaitu punya suami dengan wajah mirip Arga yang bisa melindungi dirinya.


Arga terdiam, sejenak ia melamun. Akan sangat baik jika Laura bisa bersikap kalem terus seperti itu. Berbicara dengan bahasa manis dan tidak kecentilan seperti biasa. Tentu saja suara dan sikap seperti itu akan lebih enak didengar telinga Arga.


"Kamu ko diem, Ga?"


"Hah?" Arga tersadar dari lamunannya setelah beberapa saat terdiam.

__ADS_1


"Kamu ngelamunin apa Ga?" tanya anak itu sedikit menebak bahwa Arga memang sedang melamunkan sesuatu.


"Ngga ada kok! ayo jalan lagi." Arga kembali menggandeng tangan Laura tanpa sadar. Sekarang langkahnya pria itu lebih pelan. Tidak hanya pelan, Arga juga mensejajarkan langkahnya, mereka bak sepasang kekasih. Sangat serasi jika dilihat.


Langkah Arga berhenti tepat di depan sebuah dermaga, ternyata Arga telah menyewa sebuah Kapal luxury boat yacht yang mewah, Ia berniat untuk mengajak Laura berkeliling melihat pulau-pulau kecil di sekitar pantai.


Entah kenapa, Arga sendiri juga bingung kenapa hatinya begitu tergerak ingin menyenangkan hati Laura.


"Woawh! Ini keren banget. Kita mau berlayar naik kapal ini ya, Ga?" Gadis itu berdecak, matanya terbelalak kagum, senyumnya pun mulai bertebaran dimana-mana.


"Gak usah banyak omong. Ayo naik aja!" Arga kemudian menggandeng tangan Laura. Mereka berdua melangkah naik ke dalam kapal, menit kemudian kapal pun mulai berlayar


Mata Laura tak hentinya melihat ke arah sekeliling. Bagaimana pun juga, itu adalah pengalaman pertamanya di dalam kapal pribadi. Sesuatu yang baru pertama kali ia rasakan, tak disangka Arga mempunyai pikiran seromantis ini.


"Ini keren banget, dulu Aku selalu bermimpi bisa naik ini sama pangeran lho, Ga!" Gadis itu memejamkan matanya, tangannya bertaut mulai menghayal. Mendadak ia merasa seperti orang yang ada di dalam drama kesukaanya.


Pangeran apanya, lebay lo, gumam Arga dalam hati. Arga sendiri masih diam sambil memperhatikan wajah Laura.


Suasana terlihat romantis, karena hanya ada mereka berdua, nakhoda dan satu pelayan yang akan melayani mereka.


"Ayo makan dulu," ajak Arga, ia menuntun Laura menuju meja makan yang telah disiapkan. Bak tuan putri Arga juga menarik kursi dan memakaikan serbet makan untuk anak itu. Karena sudah lapar, mereka pun segera menikmati makan siang romantisnya di atas kapal.


Setelah makan Arga berkata pada Luara.


"Sebelumnya lo jangan salah paham dulu. Gue nyiapin semua ini sebagai bentuk permintaam maaf gue karena udah ngambil keperawanan lo waktu itu. Anggap aja ini hadiah permintaan maaf dari gue."


"Sebenarnya kamu gak perlu ngelakuin itu, Ga." Bicara Laura tertahan. Matanya sedikit berkaca-kaca.


"Gue cuma gak mau ada utang sama lo," tandas Arga secepat kilat.


Padahal keperawanan yang hilang tidak bisa digantikan dengan apa pun. Namun, bagi seorang Laura yang bucin, semua kebaikan Arga lebih dari cukup untuknya.


••••


Hari semakin sore dan gelap. Kapal mereka berhenti pelan tak jauh beberapa kilo dari bibir pantai. Ombak laut mengayun sangat tenang, terlihat banyak cahaya lampu-lampu dari tepi pantai begitu indah, menambah suasana menjadi semakin romantis. Apalagi mereka hanya berdua. Mereka berdiri di pembatas kapal, menatap pantai dan langit yang mulai dipenuhi bintang.

__ADS_1


Melihat langit yang kuning, Laura terkagum-kagum kembali. Hal seromantis ini baru pertama kali ia rasakan. Mengapa Arga melakukan ini untuknya? apalagi ia tahu kalau kejadian itu adalah kesalahan Laura sejak awal, dan Arga adalah korban. Itu sebabnya Laura tak mau membeberkan soal kehamilannya pada siapa pun.


Semenjak Laura dan Arga terlibat hubungan badan, Arga selalu melakukan banyak cara untuk membantu kehidupan sehari-hari gadis itu. Apa pun keinginan gadis itu, Arga selalu menurutinya. Termasuk ingin ikut jalan-jalan ke Bali yang semula tidak ada di daftar rencana liburan Arga.


"Ga, kenapa kamu ngajak aku naik beginian, bukanya ini mahal?"


"Ngga masalah, asal lo suka," jawab Arga seadanya. Namun nada bicaranya masih datar dan dingin, itulah sikap yang belum bisa ia rubah hingga kini.


"Aku suka banget, tapi harusnya kamu ngajak pacar kamu, apa lagi suasananya romantis kaya gini! Bukanya malah ngajak aku, orang yang gak pernah kamu anggap ada" Laura menoleh, menunggu jawaban Arga selanjutnya.


"Gue bukan orang yang berkesempatan buat hal semacam itu. Gue males kayak begitu."


"Hmmm. Ya udahlah kalo begitu. Tapi makasih banyak ya Ga, buat semua ini!Berkat kamu aku bisa ngeringanin semua masalah aku, dan aku ngga tau harus gimana buat bales semua kebaikan kamu," ucap Laura melow.


"Cukup lo ngga nyusahin gue aja, sebenarnya gue udah seneng," jawab anak itu singkat, dan tidak ada romantis-romantisnya.


"Ikhh kamu, Ga! Kata-kata kamu mengacaukan suasana," protes Laura.


"Suasana yang kaya gimana emang?" tanya Arga. Ia menatap Laura lurus, membuat anak itu jadi salah tingkah menghadapi tatapan itu. Tak dipungkiri, sore ini Arga terlihat sangat tampan di mata Laura.


"Emm ... emmmp ... ya suana kita yang lagi ngga berantem mulu kaya bisa." Laura menelan ludahnya, agak gugup. Darahnya berdesir aneh mendapat tatapan seperti itu. Detak jantungnya mulai tak terkontrol, gadis itu terpesona.


" Duduk yuk!" Arga menarik lengan Laura untuk duduk.


"Iya," jawabnya lembut.


"Oh ya Ra. kamu paling suka sama apa??" tanya Arga sengaja memecahkan kegugupan gadis itu. Ekspresi Laura perlahan mulai biasa kembali.


"Ngga ada hal-hal yang paling aku suka sih, cuma kalo aku suka sama sesuatu itu harus banget dapetin. Makanya Aku susah buat ngelepasin perasaan aku sama kamu."


"Gitu, ya?"


"Iya. Sekarang terus terang aja masih belum bisa, tapi kemarin-kemarin aku udah janji sama diri sendiri, kalo mulai sekarang aku bakalan cobacmove on pelan-pelan dari kamu."


"Bagus deh, berarti lo emang udah dewasa, ngga terlau bucin lagi." Arga tertawa, tapi jauh di dasar hatinya, Arga merasa agak kecewa mendengar Laura ingin berhenti menjadi bucin.

__ADS_1


__ADS_2