Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Kepikiran Laura


__ADS_3

Arga menghentikan motornya di dekat pedagang pecel lele yang kebetulan masih buka.


"Laper gak, lo?" Ia menoleh ke belakang. Sejak tadi wajah Laura terlihat pucat sekali, jadi lelaki itu berinisiatif mengajak Laura makan.


"Gak! Aku gak laper!" Gadis itu menggeleng. Mana mungkin ia berkata bahwa dirinya lapar di saat keadaannya tidak kondusif seperti ini.


"Yakin kagak laper? Bukannya lo belum makan dari tadi siang?"


"Kok kamu bisa tau?"


"Cuma nebak! Yaudah kalo gak mau makan di sini, gue beli bungkus biar lo bisa makan di rumah," ujar Arga.


"Ya udah kalo dibungkus aku mau!" Laura tersenyum. Akhirnya setelah sekian lama memasang wajah pucat dan mengerikan, gadis itu bisa tersenyum seperti sedia kala.


"Mau ayam apa lele?" tanya anak itu seraya turun dari motor dan menaruh helmnya di atas spion.


"Ayam aja, Ga! Sebelumnya makasih ya," kata gadis itu. Arga lantas memesan dua pecel ayam untuk dirinya dan juga Laura. Dua-duanya minta dibungkus karena jam sudah sangat larut.


Setelah memesan pria kembali ke motor untuk menemani Laura.


Arga memperhatikan Laura yang tengah duduk di atas motor. Terlihat sekali bahwa gadis itu tidak nyaman dengan kondisinya saat ini.

__ADS_1


"Masih sakit, gak?" Tanpa sadar Arga menanyakan pertanyaan yang membuat Laura kembali diingatkan dengan kejadian tadi. Padahal susah payah anak itu berusaha melupakan segala hal buruk yang terjadi di sana.


Gadis itu menggeleng. Laura memilih berpaling ke arah lain demi menutupi rasa malunya.


Bagaimana tidak malu?


Jika dipikir-pikir lagi, Arga adalah pria yang ia cintai, ia juga pria pertama yang melihat dan merasakan tubuh Laura secara langsung.


Meskipun selama ini Laura terkenal tidak tahu diri saat mengejar Arga, tapi kali ini rasanya berbeda. Semenjak mereka saling melihat tubuh masing-masing, Laura sedikit gelisah saat ditatap oleh Arga. Entah kenapa, rasanya jauh berbeda dengan Laura yang biasanya selalu berani menatap Arga lama-lama dalam keadaan apa pun.


"Ra!" Arga memanggil. Membuat Laura menoleh kikuk ke arah anak itu.


"Ada apa?" lirihnya pelan.


"Gak kok! Kamu tenang aja! Aku bakalan lupain semua yang pernah terjadi di antara kita malam ini!" kata gadis itu mantap.


"Terus kalau suatu hari suami lo protes masalah itu gimana?" tanya Arga lagi. Hal itu membuat Laura tertegun sambil menatap Arga bingung.


"Gimana ya?"


Gadis itu menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal. "Aku si maunya kalo udah gede bisa nikah sama Arga. Tapi kalau bukan jodoh, nanti aku tinggal bilang apa adanya ke calon suami. Aku yakin cowok yang sayang sama kita pasti akan ngertiin kondisi dan kekurangan kita apa pun itu. Iya 'kan?"

__ADS_1


"Iya kali! Gue mana tau!" Pria muda itu mengedikan bahu setengahnya.


Tak lama kemudian pecel ayam mereka siap. Keduanya pun kembali melanjutkan perjalanan pulang.


***


Sesampainya di rumah. Perasaan Arga semakin tidak menentu.


Sepanjang perjalanan pulang tadi, Arga sangat dirundung perasaan bersalah. Apalagi saat melihat nenek Laura yang marah-marah. Wanita tua itu sampai tidur di teras lantaran cucunya tidak kunjung pulang.


Akhirnya Arga terpaksa turun tangan. Ia meminta maaf dan menjelaskan kronologi yang sebenarnya—bahwa mereka terkurung di sekolah sampai jam setengah dua belas malam. Tentunya Arga hanya menjelaskan poin singkat tanpa memberitahu apa saja yang mereka lakukan selama di ruang ganti tersebut.


"Setan! Kenapa gue jadi gak bisa tidur gini?"


Jam di dinding kamar Kai sudah menunjukkan angka empat subuh. Namun, Arga masih belum memejamkan mata barang sedetik pun.


Pikirannya terus tertuju pada kejadian di ruang ganti tadi. Ada rasa bersalah, tapi rasa nikmat yang menggila lebih mendominasi pikiran gila Arga.


Tubuh Laura yang putih dan sintal terus menari-nari di pikiran anak itu. Sebagai pria muda yang baru barunya merasakan bir*hi, jelas Arga tak bisa mengelak bahwa kepolosannya langsung luntur saat disuguhi hal gila seperti itu.


Arga pun tak menyangka akan segila ini perasannya. Hasrat menggebu gebu. Ingin mengulanginya lagi. Dan ya … untuk kali pertamanya Arga memiliki ketertarikan luar biasa terhadap hal-hal yang berbau ****.

__ADS_1


Akhirnya pria itu tak tidur sama sekali karena terus saja terbayang tubuh Laura dan suara rintihannya. Tidak munafik, Arga menikmati segala perbuatan bejat yang ia lakukan terhadap Laura tadi malam.


***


__ADS_2