Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Acara kelulusan.


__ADS_3

"Jadi bagaimana, Pak? Apa saya masih bisa mengikuti ujian?" tanya Laura kembali memastikan.


Tadinya para guru sempat berdiskusi ingin bertemu langsung dengan wali asuh Laura. Tapi hal seperti itu dinilai mencurigakan.


Takut orang lain curiga, dan itu jelas akan memperburuk citra sekolah. Pasalnya tahun lalu, ada satu siswi yang dikeluarkan dari sekolah karena hamil seperti Laura. Jadi kalau orang luar sampai tahu Laura hamil, sudah dipastikan pihak sekolah tidak bisa membantu apa-apa untuk Laura.


Jadi mereka memutuskan untuk bungkam. Pura-pura tidak tahu dan menyerahkan masalah itu pada pihak keluarga dan Laura sendiri.


"Apa kamu bisa memastikan tidak ada orang lain yang tahu soal kehamilan itu? Jika bisa, saya baru mau mengizinkan," ucap Pak Kepala sekolah.


"Bisa, Pak! Saya janji bahwa saya akan memastikan tidak ada satu orang pun yang tahu!" balas Laura sigap.


Meskipun Rena tahu, Laura tak menganggap dia sebagai manusia berbahaya. Jadi anggap saja Rena tidak penting.


"Tapi kamu harus ingat. Di sini, kami dari pihak sekolah berusaha pura-pura tidak tahu dengan apa yang menimpamu. Jadi, semua kesalahan dan tanggung jawab akan dibebankan kepadamu dan keluarga. Paham!"


Laura mengangguk. "Paham, Pak! Untuk yang satu itu saya tidak masalah. Saya akan membawa sekolah ini. Dan saya akan berusaha untuk tidak mencoreng nama baik sekolah ini."


"Bagus kalau kau paham! Oh ya, setelah ujian sekolah sebaiknya kamu tidak usah kesini lagi. Tidak usah mengikuti acara kelulusan juga."

__ADS_1


"Baik, Pak!" Laura mengangguk.


Tak terasa waktu berjalan sangat cepat. Setelah dihadang badai kehidupan, naik-turun gunung, akhirnya acara yang paling ditunggu-tunggu datang juga.


Seluruh siswa dinyatakan lulus. Termasuk Laura yang mendapat penghargaan atas juara 1 pararel. Sayang anak itu tidak bisa hadir seperti siswa lain.


Banyak yang bertanya kemana perginya Laura.


"Orangnya gak dateng, Ga!" Roma menyodorkan sebotol minuman dingin pada Arga.


Kini mereka sedang berada di kantin. Arga meminta Roma menemaninya, karena hari ini anak itu berniat mengucapkan salam perpisahan kepada Laura.


"Gak ada gimana? Emangnya gak ada yang ngejelasin kemana perginya Laura?" tanya Arga heran. Pasalnya selepas ujian, Laura benar-benar tidak pernah menampakkan batang hidungnya lagi di sekolah.


"Hah, masa sih?" Arga menggaruk kepalanya bingung. Entah kenapa perasaan lelaki itu tidak enak sekali.


"Coba aja nanti lo samperin ke rumah Laura. Barang kali anaknya masih di rumah."


"Tapi kalo dia gak mau nemuin gue gimana?"

__ADS_1


"Ya elah, Ga! Kalo dia gak mau ketemu ya pulang. Jangan dibikin ribet." Roma menepuk gemas bahu Arga. "Kalo gitu gue temenin ke sana, deh! Kasian anak orang lagi bucin," cibir Roma.


Dari sekolah, Arga dan Roma beralih tempat menuju rumah Laura. Karena Arga tahu kalau Laura tidak boleh diapeli cowok selain dirinya, akhirnya Arga menyuruh Roma menunggu di jalan raya.


sementara Arga mengetuk pintu. Berharap Laura yang membukanya, tapi ternyata malah wajah kisut nenek Laura yang muncul dari balik pintu.


"Lho, Nak Arga?" Nenek Laura agak terkejut.


"Siang, Nek! Lauranya ada?"


"Laura?" Neneknya malah mengernyit bingung. "Dia kan sudah satu bulan lebih tidak pulang. Katanya dia lagi menyiapkan persiapan tes masuk universitas di Jogja," ucap Nenek Laura.


Tanpa ia tahu semua itu hanya karangan dan rekaya belaka.


"Jadi Laura kuliah di Jogja ya, Nek?"


"Iya, memangnya dia tidak ngomong sama kamu?"


"Hehe." Arga hanya tertawa ringan sebagai jawabannya. "Tidak, Nek! Kalau begitu Arga pamit permisi lagi ya, Nek!"

__ADS_1


"Lha, buru-buru banget? Tidak mau mampir dulu?"


"Tidak, Nek! Arga lagi sibuk. Nanti salamin aja kalau Lauranya pulang."


__ADS_2