Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Ceritakan


__ADS_3

"Pak, saya mohon! Saya mau ngelakuin apa aja asal saya masih dibolehin ikut ujian sekali lagi!" pinta Laura.


"Tunggu ... tunggu! Skip dulu masalah itu. Sekarang mending kita hubungi keluarga Laura saja," usul si wali kelas.


Mendengar itu, sekujur tubuh Laura gemetar hebat. Jangan tanya berapa banyak keringat yang keluar dari tubuhnya. Air mata dan keringat Laura seakan tak ada habisnya. Terus menetes sampai Laura lemas.


Bugh!


Tiba-tiba tas yang di pegang Laura jatuh ke samping. Anak itu menyender tak sadar diri setelahnya.


"Ya Tuhan!" Guru BK menjerit. "Apakah kita terlalu kelas mengintrogasinya? Kenapa sampai pingsan?"


Wanita paruh baya itu buru-buru menghampiri Laura.


"Tolong urus dia, Bu! Usahakan jangan ada orang luar yang tahu keadaan ini." Pak Kepala sekolah berdiri. Lantas ia beralih menatap Bapak wali kelas.


"Oh ya, Pak Darman! Karena Anda adalah wali kelasnya, mari kita bicarakan ini!" kata Pak kepala sekolah.


Selagi guru BK mengurus keadaan Laura, mereka berpindah tempat untuk mengadakan rapat dadakan.


Ibu guru BK segera membuka jaket Laura. Mencopoti satu persatu kancing baju, lalu ....


"Astaga!" Mata wanita paruh baya itu dibuat membola saat mengetahui betapa ketatnya korset yang dipakai oleh Laura.

__ADS_1


"Pantas saja perutmu tidak kelihatan! Ternyata kau pakai benda ini." Ia gagas merenggangkan korset yang melekat di perut Laura. Perlahan, perut mungil berisi dedek bayi itu menyembul semakin besar.


"Ya Tuhan! Bayi yang ada di perutmu pasti sangat menderita," batin si wanita yang sering di panggil dengan nama Santi itu.


***


Setelah beberapa menit tak sadar diri, akhirnya Laura membuka matanya perlahan. Ia langsung bangun ketika menyadari perutnya terasa longgar.


"A ... Aku habis diapain, Bu!" tanya Laura panik.


"Ibu cuma membuka korsetmu, Laura. Kamu pikir ibu mau melakukan apa pada wanita hamil sepertimu?"


Laura yang bingung langsung menutupi perutnya menggunakan tas. "Maaf, Bu! Saya minta maaf," lirih anak itu.


"Jadi saya mau dikeluarkan, ya, Bu?"


"Ya mana saya tahu! Kita tunggu saja keputusannya nanti."


Mendengar itu, bola mata Laura kembali berkaca-kaca. "Bu, memangnya Ibu Santi tidak bisa membantu saya ya, Bu? Jika saya dikeluarkan, bagaimana dengan masa depan saya, Bu? Saya mau kerja, saya mau kuliah," ucap Laura memohon penuh ampunan.


"Tolonglah, Bu! Izinkan saya mengikuti ujian sehari lagi. Saya benar-benar butuh ijasah itu!" ucap Laura.


Ibu Santi mendesah. " Meskipun ujian tinggal satu hari lagi, tapi Ibu tidak punya wewenang Laura. Semua keputusan ada pada wali kelasmu dan Pak Kepala sekolah. Merekalah yang akan memutuskan semuanya."

__ADS_1


"Memangnya Ibu Santi tidak bisa membantu saya membujuk Pak Kepala sekolah dan Pak Darman?"


"Tidak bisa Laura! Maafkan ibu ... Bagaimanapun juga kamu bersalah, jadi mari sama-sama kita tunggu keputusan mereka."


Terjadi hening sejenak. Dalam keadaan lemas dan pusing, Laura kembali melanjutkan kegiatan menangisnya.


Kini ia benar-benar bingung harus bagaimana? Semuanya ia pasrahkan.


Andaikan ia dikeluarkan ya sudahlah, pikir Laura.


Tring ...


Tiba-tiba ponsel Bu Santi berdering. Ia segera mengangkat.


"Baik, Pak!"


"Baik!"


"Baik, saya akan coba tanyakan."


Panggilan tertutup. Ibu Santi baru saja mendapat perintah untuk mengintrogasi Laura. Barang kali jika dengan sesama wanita, Laura mau cerita.


"Pak kepala sekolah bilang akan mempertimbangkan lagi, tapi kamu harus jujur. Ceritakan semua dari awal sampai kamu berujung seperti ini!"

__ADS_1


***


__ADS_2