Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Takut Darah?


__ADS_3

"Udah, udah gue bersihin darahnya," ucap Arga bohong. Dengan bodohnya Laura menoleh ke arahnya.


"Eughh ...!" Gadis itu segera menutup matanya dengan kedua tangan. "Arga jahat banget, sih!"


Arga terkekeh melihat tingkah Laura. Sampai kemudian ia mendapati tubuh gadis itu gemetar ketakutan, barulah ia berhenti tertawa.


"Lo beneran takut banget sama darah, ya?" tanya Arga penasaran.


Arga bodoh!


Laura mengumpat kesal. Jelas-jelas tubuh gemetar itu membuktikan bahwa Laura sedang ketakutan hebat melihatnya, tapi Arga menganggap semua itu sebagai candaan semata.


"Udah, gue hapus, nih."


"Bohoong!"


"Seriusan, liat aja kalo ngga percaya!" Laura membuka tangan yang menutupi matanya perlahan.


"Ga, itu sakit ngga?" tanya Laura. Ia ingin sekali mengobati, tapi sayang ia tidak berani melihat luka di bibir Arga.


"Engga, kok! Cuma perih buat ngomong. Makannya jangan ngajakin gue ngomong terus elonya!" Arga sedikit meringis menahan luka di sudut bibirnya.

__ADS_1


"Obat yang tadi Arga beli masih ada di tas aku, mau di pake?" tanya Laura lagi.


"Lo yang pakein, ya?"


"Ikh, ngga mau lah, aku takut ngobatin luka, obatin sama Arga sendiri aja!" Laura mencebik lucu, yang kemudian dibalas gelak tawa dari bibir Arga.


"Ngga usah kalo gitu, biar nanti aja diobatin di rumah."


Sejenak, laura merasa ada yang aneh dalam diri Arga, semenjak kejadian tadi, Arga jadi baik pada Laura. Bahkan cowok itu mau tertawa, itu jelas sesuatu yang langka. Semenjak Laura mengenal Arga dari dulu, cowok itu belum pernah sama sekali tertawa pada Laura.


"Ga, kamu lagi baik moodnya yah?" tanya Laura heran. Bahkan gadis itu menyerngitkan dahinya saat bertanya.


"Tau gak sih, Ini pertama kalinya Arga senyum sama Laura, pertama kalinya juga Arga engga bersikap jutek. Pertama kali kita ngga berantem, pertama kali jug—"


"Stop! Jangan diterusin, mood gue bisa lagi lagi kalo lo sampai nyerocos terus, kepala gue pusing denger ocehan, lo," sergah Arga cepat. Laura langsung mengerucutkan bibirnya kesal.


Tapi ngomong-ngomong, Laura sampai segitunya mengetahui detail kehidupan Arga. Bahkan cewek itu sampai tahu kalo itu pertama kalinya Arga tertawa melihat tingkah laku Laura.


Arga juga tidak tahu, mengapa tadi ia ingin menunjuklan tawa langka itu terhadap Laurat. Yang jelas Laura sedang tidak menyebalkan sekarang ini, tidak tahu kalau nanti.


"Gaaa ...," panggil Laura manja.

__ADS_1


"Hmmmmm." Arga berdeham malas.


"Itu di depan kayaknya ada pasar malam, mampir yuk, aku laper banget." Laura memegangi perutnya yang sedang dilanda keroncongan.


Tuh, kan... Baru juga Arga merasa gadis itu tidak menyebalkan, sekarang mulai kumat lagi gilanya.


"Makan di rumah aja, ini udah sore, nanti dimarahin nenek lo kalo pulang malam." Arga mencoba menasehati Laura. Tentu saja alasanya karena malas menemani Laura makan.


"Ngga mau!" Gadis itu menggelengkan kepalanya tidak berdosa.


Oke, lah. Anggap ini adalah kebaikan Arga karena Laura sudah melindungi Arga dari tiga preman urakan tadi.


"Ya udah, ayo ... tapi makan aja, abis itu pulang!"


Biar pun Arga tidak pernah peduli dengan Laura, Arga tetap harus mengantarkan Laura pulang tepat waktu. Arga takut dimarahi nenek Laura yang katanya galak. Apalagi kata sang ayah Laura hanya tinggal berdua dengan neneknya di rumah, Arga semakin tidak enak kalau telat mengantarkan Laura pulang.


Laura memang tinggal hanya berdua saja dengan neneknya. Dari kecil hidup Laura sudah diurus oleh neneknya. Sementara kedua orang tua Laura tinggal di Jakarta, bersama adik Laura yang masih duduk di bangku SMP.


Laura memilih tinggal di Depok, tempat kelahiran mamahnya. Waktu kecil Laura pernah diajak tinggal di Jakarta, tapi gadis itu tidak terlalu betah, malah sakit-sakitan. Akhirnya kedua orang tua Laura menitipkan Laura pada neneknya.


***

__ADS_1


__ADS_2