Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Baby Boy


__ADS_3

Sesampainya di sana. Laura langsung diinterogasi sesuai dugaannya. Seluruh tubuhnya bergetar saat bidan menanyakan siapa nama bapak kandung anak yang ada di perut Laura.


Karena untuk memberikan buku merah muda alias KIA, biasanya di data siapa nama ibu dan ayahnya.


"Arga, Argantara Mega," ucap anak itu lirih. Si bidan itu mulai mengisi data. Bidan itu sepertinya sudah paham kalau Laura hamil di luar nikah, jadi saat Laura berkata lupa membawa identitas KTP, bidan itu hanya meminta data diri Laura via mulut tanpa meminta kelengkapan data lebih lanjut.


"Semua data sudah di isi! Ini nanti buku KIA nya tolong dijaga ya. Soalnya berguna sampai anak usia lima tahun."


Laura mengangguk paham.


"Ya sudah, Ibu bisa tolong berbaring! Sekarang kita periksa USG dulu," ujar si bidan. Laura lantas berbaring dengan wajah ketakutan. Sepanjang bidan itu memeriksa, Laura hanya berani menatap Rena seorang.


"Coba lihat ke arah monitor. Itu gambar anaknya. Jenis k*laminnya diperkirakan laki-laki, tapi nanti masih bisa berubah. Ini hanya perkiraan sementara" Laura kontan membelalak. Tubuhnya mendadak hangat begitu melihat bayi mungil itu dari layar monitor. Dalam diam Laura tersenyum. Kelopak matanya tak mengerjap barang sedetik pun.

__ADS_1


Rena yang ikut bahagia juga tersenyum. Bayinya laki-laki, batin Rena merasa senang.


Sejak dalam perjalanan ke sini Rena memang sangat berharap bayi Laura laki-laki, dengan begitu Laura bisa memiliki pengganti Arga, dan suatu saat nanti anak Laura bisa menjadi penolong untuk wanita itu.


Setelah pemeriksaan selesai. Rena dan Laura pulang dalam keadaan lega. Bidan itu bilang kondisi kehamilan Laura cukup baik. HB dan posisi janin pun sangat normal.


"Ra! Sekarang hubungan lo sama Arga gimana?" Kini mereka sedang duduk di halte menunggu bis arah pulang. Mereka hanya berdua saja, maka dari itu Laura memberanikan diri untuk bertanya soal lelaki itu.


"Sebenarnya waktu itu Arga udah pernah nembak aku, tapi aku tolak!" Air mata Laura menetes saat menjawab pertanyaan Rena. "Emang kalo nggak jodoh itu susah ya, Ra. Dulu mati-matian gue ngejar anak itu. Sekarang giliran dia nembak, gue malah nolak!"


"Ya, begitulah hidup, Ra! Kita nggak bisa memaksakan kehendak kita."


"Iya bener! Gue juga ngerasa begitu." Gadis itu mengangguk. Membenarkan perkataan Rena. Sejak hamil, ia memang sudah mengubur dalam-dalam semua harapannya bersama Arga.

__ADS_1


"Jadi sekarang lo sama Arga kembali gak kenal kaya dulu lagi?"


"Hmmm. Arga selalu buang muka tiap kali liat gue, dan gue berusaha biasa aja!"


Emangnya lo kasih alesan apa pas nolak dia?"


"Gue cuma bilang kalo gue mau fokus ujian. Tapi Arga sempat maksa minta diterima dengan alasan gak akan gangguin kegiatan belajar gue, tapi pas gue bersikeras nolak, dia langsung ga terima. Dia bilang cinta gue ke dia cuma omong kosong!"


"Sampe segitunya?" tanya Rena heran.


"Ya begitulah! Sejak saat itu kita kayak dua orang asing yang gak saling kenal."


"Ya ampun Ra! Gue bener-bener gak tau harus ngebela siapa. Sekarang semuanya terserah lo. Sebagai teman gue cuma bisa kasih suport semampunya. Semoga saja lo nggak akan pernah menyesali pilihan yang udah lo pilih sendiri," ujar Rena.

__ADS_1


Memaksakan hal yang tidak diinginkan Luara juga bukan hal yang baik. Jika nanti pernikahan Laura dan Arga tidak berjalan baik, pasti ia akan ikut menyalahkan diri sendiri.


Jadi biarkan saja Laura nyaman dengan pilihannya sendiri.


__ADS_2