Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Ada Apa?


__ADS_3

"Wow ... Wow ... Wow! Ada apa ini?" Seseorang masuk di saat suasana sedang panas-panasnya.


Laura menoleh. Dari suaranya jelas tidak asing, dan makin tidak asing lagi saat wanita itu bertatapan langsung dengan orang yang baru saja datang.


Yups!


Lelaki berjas hitam rapi itu adalah Roma. Sosok pria menyebalkan yang dulu berperan penting dalam merubah hidup Laura jadi seperti ini.


Dia yang membuat Arga memperk*sa Laura hingga muncul Gama ke dunia.


"Roma?" Laura spontan berseru.


"Hai, long time no see, Laura!" Dengan tidak tahu dirinya lelaki itu memeluk Laura. "Kebetulan banget kita ketemu di sini. Kenalin, gue sekretaris baru di kantor ini."


Roma menyodorkan tangan, dan itu membuat Laura semakin gila mendengarnya.


"Apa kamu bilang, sekretaris?"


"Yups! Arga jadi direkturnya, dan aku adalah sekretaris kesayangannya."


Sial!


Laura mengepalkan kedua tangannya. Saat dia hendak melangkah, Roma tiba-tiba menarik tangannya dengan kekuatan penuh. "Tunggu dulu Bebie, sepertinya ada kesalahpahaman yang harus diluruskan."

__ADS_1


"Gak ada yang perlu diluruskan. Aku mau beresin barang-barang, hari ini aku resmi dipecat karena mengacau di ruangan bos," jawab Laura angkuh. Dia sudah yakin sekali akan dikeluarkan mengingat apa yang dilakukannya barusan cukup fatal.


"Santai dulu, Ra! Aku denger semua pertengkaran kamu sama Arga kok."


"Terus?"


Laura memiringkan kepalanya malas. Persetan dengan kenyataan Roma adalah atasannya. Sekarang dia benar-benar tidak peduli bila mana dirinya dipecat tanpa rasa hormat.


"Dengerin penjelasan aku dulu! Arga gak bermaksud ngatain kamu sampah!"


"Oh ya?" Laura memutar bola matanya. "Kalau pun dia gak bermaksud ngatain aku, kamu tetap gak ada hak buat ngejelasin Roma."


"Tapi Ra—" Roma berusaha mencegah.


Roma mendesah. "Kamu kan tau sendiri Arga kayak gitu! Udah dengerin dulu. Gak ada orang yang ngatain kamu sampah."


*


*


*


Lima belas menit berlalu.

__ADS_1


Sofa panjang dengan isi tiga orang menjadi pemandangan berikutnya. Ada Laura yang berapi-api sejak tadi. Roma yang menjadi wasit, dan Arga si tembok yang diberi nyawa.


"Serius,Ra. Arga itu bukan ngatain kamu, dia lagi ngatain pacar sew--"


"Ehem!" Arga berdeham sambil melotot ke arah Roma.


"Maksudnya ... Arga lagi kesel sama perempuan lain. Arga ngatain perempuan itu sampah karena perempuan itu tiba-tiba batalin janjinya."


"Janji apaan?" Entah kenapa Laura merasa dejavu pada masa lalu.


"Ya janji soal pekerjaan. Harusnya nanti siang Arga sama perempuan itu mendatangi pesta di Singapur, tapi perempuan itu malah ngebatalin janji seenaknya. Kan kita jadi pusing. Soalnya semua yang hadir di pesta itu harus bawa pasangan."


"Oh gitu?" sahut Laura singkat. Atmosfer di wajahnya mulai menunjukkan rona malu karena sempat menuduh orang sembarangan.


"Iya, Ra. Arga yang sekarang udah berubah kok. Dia udah gak kayak kulkas dua pintu lagi," ujar Roma.


Laura melirik Arga sedikit. Lelaki itu masih saja diam dari sejak kedatangan Roma. Tidak seperti kulkas apanya? Bahkan Arga yang sekarang jauh lebih dingin dari kulkas dua pintu.


"Ya udahlah, kalo gitu Aku minta maaf karena sempat nuduh orang sembarangan. Aku janji kalian berdua gak akan pernah liat aku ada di kantor ini lagi!"


Kali ini Laura terpaksa senyum. Dia menyodorkan tangannya kepada Arga. Arga yang bego langsung menyambar tangan itu.


"Eh tunggu dulu!" seru Roma.

__ADS_1


__ADS_2