Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Dimuntahin Laura


__ADS_3

"Mendingan lo jujur dari sekarang selagi gue masih bisa nanya baik-baik. Gue bukan tipe orang yang suka narik balik ucapan. Gue serius! Kalo nantinya lo beneran hamil, jangan harap gue sudi tanggung jawab, sekalipun lo nangis-nangis gue gak peduli!"


Deg!


Perkataan Arga untuk kedua kali membuat hati Laura mencelos. Sejenak gadis itu terdiam. Ia jelas merasa takut dengan ancaman Arga saat ini.


"Siapa yang gak mau dinikahin kamu si Ga! Andai kamu udah lulus SMA pasti aku mau dinikahin kamu. Aku cuma gak mau merusak masa depan kamu, Bodoh," batin Laura dalam hati. Ingin rasanya ia menjerit pilu saat ini juga.


Bibirnya masih saja kelu. Ingin sekali ia mengatakan apa yang ada di benaknya saat ini, tapi semua itu jelas tak mungkin.


"Sebenarnya …." Laura menatap Arga. Wajahnya sangat serius saat hendak mengatakan ini.


"Sebenarnya apa?" bentak Arga tak sabaran. Laura sampai menutup mulut anak itu lantaran takut sang nenek di luar sana mendengar ucapan Arga.


"Sebenarnya aku jadi pengin pura-pura hamil. Karena Arga ngomong kalo Arga mau tanggung jawab, rasanya aku jadi pengin pura-pura hamil supaya dinikahin, tapi aku bingung kalo udah sembilan bukan cari bayinya ke mana." Anak itu tertawa setelahnya.


Percayalah. Di titik ini batin Laura menjerit kesakitan. Ini adalah kisah nyata seorang gadis SMA yang mencoba bersikap dewasa. Tentunya dengan sejuta kepolosannya.


"Gak lucu bego!" Arga menonyor dahi Laura dengan ujung telunjuknya. Geram jelas ia rasakan saat ini.


"Lagian Arga aneh banget. Orang gak hamil disuruh ngaku-ngaku hamil. Emang kamu gak liat perut aku sedatar ini?" Laura membuka kaos dan menampakkan perutnya yang masih sangat sintal. Ada kotak-kotak di sana, hal itu membuat Arga menelan ludahnya dengan susah payah. Lalu terpaksa melengos ke arah lain.


"Masa perut se, seksi ini dibilang hamil. Kamu yang bener aja deh," ucap Laura lalu terkekeh.


"Tapi kata Rena …."


"Kata Rena kenapa?" Wajah Laura langsung berubah pucat saat Arga menyebut nama itu. Ia merasa belakangan ini Rena memang agak gimana. Seperti ingin memaksa Laura mengakui rahasia yang sedang ia simpan rapat rapat itu.


"Katanya Rena gak sengaja denger pembicaraan kita pas di UKS kemarin. Pas bagian gue nanya lo hamil apa kagak. Rena curiga bahwa kita udah ngelakuin sesuatu sampe lo hamil!"


"Hah, kamu serius?"

__ADS_1


"Ya serius! Itu sebabnya gue ke sini, gue mau mastiin sekali lagi, gue juga mau denger pengakuan langsung dari lo! Kalo lo beneran hamil, berarti dugaan Rena bener! Lo sakit-sakitan kaya gini karena lagi hamil," ujar anak itu.


Laura masih terdiam. Belum mampu mencerna apa yang dikatakan Arga barusan. Lagi lagi ia bimbang apakah ia harus mengutarakan rahasia yang sebenarnya. Ini adalah kesempatan terakhir Laura, karena setelah ini Arga mungkin tidak akan peduli lagi terhadapnya.


"Tapi kamu gak bilang kalo kita udah sampai ngelakuin hal itu 'kan?" Akhirnya Laura menemukan pertanyaan penting untuk ditanyakan.


"Ya kagaklah! Tapi Rena gak percaya, apalagi dia udah denger sendiri pas kita bahas soal kehamilan."


"Oh, jadi kamu ke sini bukan karena disuruh Rena? Tapi karena kamu yang inisiatif ke sini buat tanya aku hamil apa kagak?"


"Hmmm." Arga berdeham. "Ini terakhir kalinya gue tanya, gue harap lo jujur sebelum masalah kita makin panjang!"


"Aku janji gak akan bawa kamu ke masalahku Ga," ucap Laura dalam hati. Gadis itu kemudian menggeleng samar.


"Aku gak hamil, Ga! Kamu tenang aja."


"Gimana gue mau tenang kalo lo sakit-sakitan terus begitu? Apalagi gue yang dijadiin sasaran empuk sama sahabat lo!" cetus Arga.


"Nanti aku bilang ke Rena kalo Arga gak hamilin aku. Tenang aja, aku pasti akan selesein masalah ini," ucap gadis itu.


Huekk!


Gadis itu muntah di pangkuan Arga. Pria itu sontak berdiri sambil menutup hidungnya geli.


"Ngapain lo muntahin gue?"


"Maaf Ga! Aku gak sengaja," ucap gadis itu. Arga bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia bahkan sampai mandi karena tak tahan dengan bau amis pada tubuhnya itu.


"Makan apaan si ini bocah, bau banget muntahnya!" Arga keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggangnya.


Nenek Laura yang sudah diberitahu bahwa Laura muntah di pangkuan Arga, langsung memberikan satu stel baju tidak terpakai milik anak itu.

__ADS_1


"Ini baju cowok! Punya Laura," kata si Nenek.


"Makasih banyak, Nek!"


Arga pun masuk ke kamar mandi lagi. Ia memakai kaos, namun saat hendak memakai cel*na, pria itu dikejutkan dengan pakain dalam berbentuk segitiga yang ada di atas tilapan celana.


"Gila ya, masa gue disuruh pake ginian!" Arga menjumput segitiga milik Laura. Bergambar hello kitty yang tengah memegang sebuket bunga pemberian kekasihnya. Entah kekasih atau suami, di mata Arga itu tidak penting.


Akhirnya Arga mengurungkan niatnya untuk memakai segitiga milik anak itu. Ia mengambil ********** sendiri, lantai memakai benda itu lagi. Beruntung bagian dalam tidak terlalu basah, jadi Arga bisa memakainya untuk sementara waktu.


***


Sementara di kamar, Laura benar-benar merasa tak enak hati pada Arga. Entah kenapa janin di dalam perut itu seolah mengamuk saat Laura bilang bahwa dirinya tidak hamil.


Ingin rasanya Laura turun dari kasur lalu menyusul Arga, tapi kondisi tubuhnya masih sangat lemas. Laura seperti daging tak bertulang pasca memuntahkan isi perutnya.


"Ni punya lo!" Arga yang baru saja masuk ke kamar langsung melempar segitiga hello kitty milik Laura.


Laura terperanjat. Matanya membulat sempurna saat mengetahui Arga baru saja memegang barang privasi miliknya.


"Kok bisa ada di kamu?" Laura langsung menyembunyikan barang memalukan itu ke bawah bantal.


"Mana gue tau! Tiba-tiba ajacnenek lo dateng ngasih baju. Dia pikir gue mau apa pake daleman perempuan! Rasanya juga beda kali! Lo juga, ngapa lo diem aja pas nenek lo nyariin baju ganti buat gue. Harusnya lo bilangin, gak usah ditambahin barang kek begitu kalo niat ngasih baju ganti!"


"Maaf Ga, namanya juga nenek-nenek. Pasti Nenek aku gak paham, makanya asal kasih aja!"


"Gue juga tau kalo nenek lo ga paham, tapi setidaknya lo paham, lo bisa ngasih tau sebelumnya," ujar anak itu lalu mendengkus.


"Maaf Ga! Ini emang salah aku. Maaf juga karena udah muntah sembarangan ke badan kau.. Tadi aku beneran udah gak kuat lagi soalnya."


"Hmmm." Arga berdeham malas. Lebih baik sekarang ia pulang daripada dimuntahin lagi oleh Laura.

__ADS_1


"Yaudah, gue mau pulang! Jangan lupa kasih tau temen lo kalo gue udah ke sini," ujar Arga seraya mengambil tas sekolahnya di atas meja nakas milik Laura.


"Ati-ati ya Ga. Maaf udah ngerepotin kamu." Laura tersenyum. Menampilkan deretan gigi putihnya sampai Arga keluar dari kamar dan menutup pintunya kembali.


__ADS_2