Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Dokumen Usang


__ADS_3

"Selow aja si, Ga! Gue cuma pengin ngomongin Laura doang. Gue penasaran pelet apa yang lo pake sampe bisa bikin cewek cantik macam dia kelepek-kelepek begitu!" bisik si teman Arga itu.


"Dia bukan siapa-siapa gue! Gak usah ngaco mulut lo! Kalo lo mau deketin aja sendiri." Arga makin merasa risi. Sambil mendengkus ia pura-pura mengecek isi ranselnya.


Menyeringai jenaka, teman Arga tersenyum sambil manggut-manggut. "Okelah kalau bukan siapa siapa lo! Berarti gue boleh 'kan, deketin Laura?"


Sontak Arga menoleh. "Deketin aja, ngapain lo bawa-bawa nama gue segala? Lo pikir gue peduli? Lo pikir gue bakalan cemburu kalo liat lo deketin dia?" Arga lantas melangkah ke tengah lapangan dengan membawa helaan napas kasar yang keluar dari mulutnya.


"Tenang, Bro! Oke kalo gitu! Itu artinya gue gak perlu sungkan lagi sama lo!"


Teman Arga kemudian menyusul pria itu sambil menepuk bahunya. Acara latihan pun dimulai. Semuanya mulai bertanding sesuai jadwal. Tidak ada penonton di tempat ini kecuali Laura dan Roma yang tak hentinya menyemangati Arga.


"Satu Minggu lagi lomba antar sekolah! Senen pagi lo juga harus dateng buat nyemangatin Arga! Nanti biar gue usulin lo ikut Cheerleaders! Gue yakin Arga pasti kelepek-klepek," ucap si Roma kepada Laura.


"Duh, kayaknya kalo hari Senin gue gak bisa, Roma! Gue ada ulangan!"


"Ya elah! Cemen banget si, lo. Bolos aja napa? Ini demi Arga loh! Gue yakin Arga bakalan semangat kalo lo masuk ke tim cheerleaders."

__ADS_1


"Gak yakin! Yang ada dia frustrasi karena gue gangguin mulu!"


"Enggak, lah! Pokoknya lu harus dateng buat semangatin Arga apa pun yang terjadi! Oke!"


"Gak janji gue, tapi okein aja dulu!" Mereka melakukan tos tangan sambil terkekeh geli.


*


*


*


Tak mungkin seseorang benci tanpa alasan. Itulah yang terjadi pada hidup Arga setelah mengenal Laura lebih dalam lagi.


Pada saat itu, Arga pernah tak sengaja melihat sebuah dokumen perjanjian milik ayahnya yang tersimpan rapi di dalam lemari.


Di dokumen usang itu tertulis sebuah surat perjanjian perjodohan bertuliskan nama Arga dan Laura.

__ADS_1


Awalnya Arga tidak begitu paham dengan isi surat tersebut. Namun, setelah dibaca beberapa kali, Arga baru paham, bahwa setelah mereka menginjak usia dua puluh lima tahun, mereka akan dijodohkan.


Nama Arga dan Laura terpampang nyata di kertas tersebut. Perjodohan itu adalah sebuah perjodohan keluarga yang dilakukan oleh Kakeknya. Sepertinya nenek moyang Arga dan Laura sangat dekat sampai berniat sekali ingin menjodohkan kedua cucu-cucunya.


Sejak saat itu, Arga pun menjadi benci sekali terhadap Laura. Apalagi mulai terlihat gelagat-gelagat aneh yang dilakukan kedua orang tuanya.


Baik Ayah maupun Ibu Arga, mereka kerap kali menyuruh Laura datang ke rumah dengan berbagai alasan.


Meskipun Lauranya sendiri tidak tahu kalau mereka akan dijodohkan suatu hari nanti, tapi Arga tetap merasa risih. Setiap kali melihat Laura, ia selalu terbayang-bayang dokumen itu. Ia bahkan mulai membayangkan nasib buruk akan menimpanya saat menikah dengan Laura nanti.


Arga sendiri pernah berniat untuk menanyakan hal ini secara langsung kepada ayah dan Ibunya, tapi dia urungkan kembali. Pria itu takut kebebasannya terenggut jika mengetahui rencana perjodohan itu.


Bagaimanapun juga Arga masih ingin bebas. Ia ingin menemukan wanita spesial yang mampu menggetarkan hati dan juga jiwa.


Bukan cewek modelan Cacing Pita seperti Laura, yang hanya mampu membuatnya marah, kesal, dan selalu ingin muntah tiap kali ada di dekatnya.


Amit-amit! Andai bisa memilih, Arga lebih baik mati dari pada harus menikahi wanita seperti Laura

__ADS_1


CATET!


__ADS_2