
Tiba-tiba petugas yang ada di belakang mereka berdeham. Laura dan Rena pun tahu artinya. Mereka bungkam setelah sempat tersenyum jail.
Upacara pun dimulai. Petugas pembawa acara mempersilahkan pembina upacara untuk memasuki lapangan. Suasana hening karena yang menjadi pembina kali ini adalah kepala sekolah.
Hanya saja Laura yang pada awalnya yakin akan baik-baik saja tiba-tiba merasa tubuhnya makin aneh. Ia merasa hidungnya mulai panas. Suhu tubuh juga meningkat drastis dan jantung tiba-tiba juga berpacu cepat.
Duh, ini gue kenapa? Nggak pernah pernah kayak gini. Laura membatin dalam hati.
Ia berusaha melihat keadaan sekitar dan merasakan pandangannya mulai tidak fokus. Warna semua bertabrakan hingga akhirnya semuanya memburam. Warna merah dan kuning bertubrukan hingga akhirnya gelap dalam sekejap. Laura tak mampu mempertahankan kesadaran dan berakhir terjerembab.
Rena yang melihat itu tentu segera membantu. Bahkan beberapa siswa menatap ke arah mereka. Akhirnya Rena dibantu petugas PMR menggotong Laura ke UKS tanpa membubarkan upacara. Mereka mengevakuasi Laura dengan tenang, seperti yang sudah-sudah. Siswi pingsan saat upacara itu sudah biasa makanya tidak ada yang heboh.
"Ra, lo nggak apa-apa, 'kan?" tanya Rena saat melihat Laura mulai mengerjap. Saat ini selain Laura, ada Rena dan satu orang petugas PMR di sana.
Rena terus mengusap punggung Laura dengan minyak kayu putih. Betis bahkan telapak kaki Laura juga ia kasih. Ia merasa takut anak itu kenapa-napa.
"Gue di mana, Ren?" tanya Laura.
"Di UKS, oon." Rena duduk di sebelah Laura yang mulai duduk, lantas memperhatikan Laura yang masih kelihatan linglung.
__ADS_1
"Gue pingsan?"
"Ya iyalah. Lo pingsan. Lo sih, dibilang nggak usah ikut upacara malah ngeyel. Sekarang jadi pingsan kan?" omel Rena, ia ambil air mineral gelas di atas meja lantas memberikannya pada Laura.
"Nih, minum! Biar enggak dehidrasi."
Pasrah, Laura pun menyeruput sedikit lalu menatap wajah cemberut Rena.
"Heran gue sama lo. Lo sebenarnya kenapa? Nggak pernah pernah lo sampe pingsan begini."
"Gue juga enggak tau, Ren. Biasanya juga gak kayak gini," ulang gadis itu.
"Udah sarapan kan tadi pagi?" Rena menyelidik.
"Lo anemia?" tanya Rena.
Laura hanya mengerjap. "Nggak tau gue."
Namun, tiba-tiba gadis itu teringat menstruasinya yang tak kunjung datang, bahkan sudah telat seminggu lebih kalau dihitung-hitung.
__ADS_1
Apa mungkin?
Spontan gadis itu menutup mulut, matanya membulat besar dan itu membuat Rena heran.
"Kenapa lo? Mau muntah?" cecar Laura. Satu orang petugas PMR bahkan telah mendekat, tapi Laura mengangkat tangan sebagai kode bahwa ia baik-baik saja.
"Gue nggak mau muntah, gue baru ingat kalau kita ada tugas yang belum di kumpul. Yuk ke kelas!" Laura berusaha turun dari ranjang.
Hanya saja Rena yang merasa tak tega menahan tangan anak itu. Matanya sayu gadis itu berserobok dengan Laura.
"Lo masih sakit, Ra. Istirahat aja. Tugas nanti-nanti aja, lah."
"Enggak bisa, Ren. Yuk ke kelas!"
"Nggak mau istirahat dulu?" Rena mencoba menengahi tapi Laura tidak peduli. Ia ingin ke kelas segera karena berhadapan dengan Rena membuatnya semakin gugup. Apalagi sambil memikirkan dugaan buruk itu. Lebih baik Laura mengerjakan tugas agar prasangka buruk yang ada di otak sedikit teralihkan.
Iya gugup. Saat ini di kepala Laura terlintas satu pikiran yang membuatnya merinding ketakutan luar biasa. Dan jika berlama-lama bertatapan dengan Rena, ia takut sahabatnya itu semakin curiga. Lebih baik di kelas, begitu pikirnya.
Karena permintaan Laura, Rena pun pada akhirnya menyetujui. Ia papah Laura kembali ke kelas dengan satu pertanyaan besar dalam kepala, apa yang terjadi sampai Laura pingsan begini?
__ADS_1
Apakah jangan-jangan Laura punya penyakit serius?
***