Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Mual-Mual


__ADS_3

Sudah satu bulan lebih pasca kejadian itu, Laura dan Arga tidak berinteraksi lagi. Laura juga tidak pernah ke rumahnya lantaran gadis itu tengah disibukan dengan kegiatan belajar menjelang ujian. Bahkan saat Arga sengaja menghentikan motornya di depan gerbang sekolah agar Laura datang menggodanya, gadis itu tak pernah muncul di hadapan Arga sama sekali.


Hubungan Arga dan Roma sudah lebih baik. Roma meminta maaf karena waktu itu ia hanya sekadar coba-coba dan memang kurang paham dengan fungsi obat perangsang.  Arga pun memutuskan untuk memaafkan karena ia tak mau Roma sampai tahu, bahwa gara-gara obat itu mereka harus kehilangan kesuciannya.


"Ga!" sapa Roma sambil menepuk pundak pria itu. Arga tak lekas menjawab, pandangannya masih tertuju ke arah lapangan, di mana Laura dan teman-teman kelas 12 lainnya tengah berkumpul di lapangan sambil mendengarkan ceramah.


Tiga bulan lagi.


Ujian kelulusan akan berlangsung. Mereka para anak kelas 12 sedang mengadakan doa bersama dengan para guru di tengah lapangan.


Arga berusaha mencari keberadaan Laura dari jarak yang cukup jauh. Namun, batang hidung gadis itu tak terlihat sama sekali.


"Lo lagi nyariin Laura ya?" Roma bertanya lagi. Hal itu membuat Arga menoleh ke samping dengan wajah memberengut.


"Apaan sih!" balasnya ketus.


"Ya kalo lo lagi nyariin dia gue kasih tau, oncom. Tadi si Laura pingsan lagi, terus dibawa ke UKS. Keknya dalam waktu satu Minggu ini tuh anak pingsan ada tiga kalian deh. Jangan-jangan dia kena penyakit kanker," ujar Roma sambil memamerkan ketiga jarinya.


Arga hanya mengernyit tanpa jawaban. Sama sekali tak ada pikiran negatif di otaknya saat Roma berkata seperti itu, apalagi yang mengarah pada dampak dari kehamilan seorang wanita. Arga masih terlalu awam untuk memikirkan ciri-ciri wanita hamil itu seperti apa.


"Sana lo tungguin. Barang kali aja kalo ditengokin lo bakalan langsung sembuh!"


"Ogah!" cetus Arga. Padahal dalam hati ia sangat penasaran dengan kondisi Laura saat ini.


Semenjak mereka terkurung bersama hingga membuka segel kesuciannya bersamaan, Arga selalu memikirkan Laura setiap malam. Ada rasa bersalah yang amat besar di hati pria itu mengingat Laura tidak lagi perawan karena dirinya.


"Ya elah! Sekali kali kek, lo baik ama fans lo itu! Lagian bentar lagi dia juga bakalan out dari sekolah kita. Jadi gak papa kali, kalo lo kasih perhatian dikit sebagai kenang kenangan sebelum lulus," ujar pria itu menyeringai jenaka.


"Perhatian mata lo soak! Makan tu perhatian!" Arga menonyor pelipis Roma hingga anak itu terbentur tembok di sampingnya.


"Yah, salah lagi gue!" Roma usap dahi itu dengan lembut. "Awas aja lo! Gue doain lo nyesel seumur hidup kalo Laura udah ga ada di sekolah ini lagi!" kesal anak itu lantas pergi meninggalkan Arga.


Sementara itu, hubungan Roma dengan Laura sudah tidak berjalan baik lagi pasca Laura merasa kecewa dengan anak itu. Tiap kali Roma mengajak Laura bicara, ia tidak mau menjawab. Apa yang pernah mereka rencanakan sebelumnya juga tidak pernah terjadi sama sekali. Laura memutuskan untuk berhenti melakukan interakis dengan Roma, apa pun itu, termasuk mengobrol dengan pria itu sekali pun.


Di titik ini Roma sedikit merasa bersalah meski ia tidak tahu kejadian apa yang terjadi di dalam ruang ganti saat ia mengunci mereka di sana.

__ADS_1


Roma sendiri juga sama sekali tidak kepikiran bahwa mereka akan melakukan adegan anu-anu. Yang Roma tahu, milik Arga hanya akan berdiri, itu saja sebatas pikiran anak kelas dua SMA tersebut.


***


Setelah Roma pergi, Arga bergegas ke ruang UKS untuk mengobati rasa penasarannya. Kebetulan kelasnya sedang mendapat jam bebas karena guru-guru tengah berdoa bersama.


Glekkk.


Pria itu menelan ludahnya dengan susah payah saat memasuki ruang UKS. Di sana ada Laura yang tengah berbaring seorang diri. Wajah gadis itu banyak mengalami perubahan selama mereka tidak bertemu satu bulan ini.


Laura terlihat lebih kurus, dan tentunya sangat pucat.


"Lo kenapa?" Suara berat Arga membuat gadis itu menoleh. Matanya seketika berkaca-kaca saat melihat bapak dari anak yang ada di dalam perutnya tengah berdiri tepat di samping gadis itu.


"A ... Arga! Ngapain Arga di sini?" tegur gadis itu dengan suara serak yang tertahan.


"Gue sakit perut! Mau nyari obat. Lo kenapa?" Arga berjalan ke etalase. Ia bahkan mengambil obat sakit perut agar sandiwaranya di mata Laura lebih terlihat sempurna.


"Aku abis pingsan Ga!" lirih gadis itu.


"Kenapa bisa pingsan? Lo darah rendah?" tanya pria itu sambil mengerutkan dua alisnya hingga ujungnya sama-sama menukik tajam. Arga duduk di ranjang sebelah Laura. Pandangannya tertuju intens pada gadis itu.


Ingin rasanya Laura memberitahu masalah yang membuat dirinya stress selama beberapa harian ini.


Hamil dalam keadaan sekolah, tentunya hal itu menjadi ketakutan yang paling mengerikan sepanjang sejarah anak remaja. Laura seolah mendapat selaksa lara.


Padahal melakukan untuk pertama kali, tapi kenapa bisa hamil?


Terkadang Laura berpikir kenapa dunia ini bisa setidak adil itu kepadanya? Teman Laura bahkan katanya ada yang sering melakukannya, tapi mereka selalu aman bahkan hingga bergonta-ganti pasangan sekalipun.


"Ini lo sendirian aja, ya?" Arga lantas menjuntaikan kakinya ke bawah. Ia berjalan ke arah Laura lalu duduk di depan wajah gadis itu.


"Tadi ditemenin Rena, tapi kayaknya ada perlu ke kelas," ucap gadis itu.


"Tapi sekarang lo baik baik aja, Kan? Udah periksa ke dokter belum?"

__ADS_1


"Hah?" Pertanyaan Arga membuat dada Laura membusung seketika. Bahagia jelas ia rasakan saat ini karena bentuk perhatian Arga yang jarang sekali terjadi. Sejenak ia merasa damai dan melupakan sedikit masalah hidupnya.


"Belum si! Tapi ini juga udah mendingan. Biasanya aku kalo pusing minum paramek langsung sembuh," ujar Laura.


"Masa minum obat warung terus? Gimana kalo kita nanti ke dokter," ucap Laura menawarkan diri.


"Ga?"


"Paan?" Sambik melirik ketus.


Laura menggeleng samar. Masih dalam posisi berbaring sambil menatap dagu Laura yang lancip dan runcing.


"Gak papa. Aku cuma heran aja, kenapa Arga tiba-tiba jadi perhatian gitu sama Laura?" ujarnya.


"Siapa yang perhatian? Ini mah pas kebetulan aja gue juga pengin ke dokter. Jadi kalo lo mau bareng sekalian aja," kata Arga. Lagi-lagi ia beralibi agar kesan sandiwaranya makin terbukti.


"Enggak, deh! Aku gak biasa ke dokter!" ucap Laura. "Tapi makasih buat perhatiannya, ya. Jujur Aku seneng banget Arga mau perhatian kayak gitu sama Aku."


"Hmmm. Yaudah terserah lo kalo gak mau!" Akhirnya Arga menurunkan kakinya lagi. Saat pria itu hendak berjalan keluar, tiba-tiba Laura bangun sambil menutup mulutnya.


"Huek … huek … huek!" Suara mual Laura membuat Arga menoleh dan langsung berlari menuju gadis itu kembali. Ia mengambil tempat sampah, lantas menyuruh Laura untuk memuntahkan isi perutnya ke dalam situ.


Arga juga tak tinggal diam. Satu tangannya memijit tengkuk Laura agar mualnya segera reda. Setelah itu Arga menjauhkan tempat sampah dan memberikan Laura air mineral dalam kemasan gelas.


"Lo beneran baik baik aja apa kagak si?" kata Arga mulai terdengar emosi. "Udah gue ajakin ke dokter juga! Bandel amat lo!"


Arga kembali berjalan. "Tunggu sini! Gue mau cari bantuan dulu. Abis ini kita langsung ke dokter."


"Gaaaa!" Laura kontan meneguk salivanya panik. Dokter adalah tempat yang paling ia hindari karena ia takut hamilnya terdeteksi.


"Aku gak papa, kok!" balas Laura sambil menyeringai jenaka.


"Gak papa kok sampe muntah-muntah begitu!" cetus Arga setengah mencibir. Tiba-tiba ingatannya bergerak ke arah lain.


"Eh, tunggu dulu ….!" Arga terdiam. Ia menatap Laura dengan pandangan menyelidik.

__ADS_1


"Lo muntah bukan karena hamil, 'kan?"


***


__ADS_2