Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Melamun


__ADS_3

Selama pelajaran berlangsung Laura terus melamunkan soal keterlambatan itu. Ia tak fokus dengan pelajaran.


Masa iya si hamil? Melakukannya kan nggak sengaja. Lagian hanya sekali ini, nggak mungkin langsung jadi. Laura membatin. Ia terus membuang pikiran itu jauh-jauh, hanya saja tetap merasa ada yang tidak beres.


Ini gila. Ini nggak mungkin terjadi.Tapi gue harus tetep mastiin.


Laura membatin lagi. Entah sudah keberapa kali ia membatin saat jam pelajaran. Ia terus gelisah dan tak sabar untuk pulang. Ia ingin pulang agar bisa memastikan bahwa apa yang ada di pikirannya saat ini tidaklah benar, bahwa tidak akan ada apa-apa di dalam perutnya, bahwa semuanya akan baik-baik saja.


***


Karena penasaran, Laura pun akhirnya berniat membeli tespack sepulang sekolah. Ia melewati sebuah apotek. Ia lewati karena ragu, haruskah masuk sedangkan saat ini masih mengenakan seragam sekolah. Ia takut kalau ada yang melihatnya, takut kalau ada orang yang mengenalnya dan menyebarkan hal yang tidak-tidak.


Membayangkan itu makin berdebar jantung Laura, tapi ia juga tidak bisa membuang waktu dengan berganti baju lebih dulu. Ia ingin segera memastikan kalau isi kepalanya saat ini tidaklah benar.


Dengan percaya diri Laura memasuki apotek. Ia bergaya seperti tengah menelepon, ponsel ia letak ke telinga.

__ADS_1


"Ah iya, Kak, Iya. Aku sekarang ada di apotik. Perlu berapa biji Kak alatnya?" ucap Laura seolah-olah ia tengah berbicara dengan kakaknya. Kakak yang entah siapa. Hanya Laura yang tahu. Ia tahu ini konyol tapi ini jalan ninja agar dia bisa mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.


"Oh iya, Kak! Iya. Habis ini aku langsung pulang. Sabar." Segera Laura memasukkan ponselnya ke dalam tas, lantas mendekati apoteker yang sudah berada di belakang etalase obat.


"Mbak, Kakak saya minta beliin alat pengecek kehamilan. Bisa dicariin nggak Mbak? Yang bagus katanya."


Si Mbak penjaga apotek pun tidak mencurigai. Ia memberikan beberapa merek tespek dan Laura pun dengan segera membeli semua itu. Total ada 5 merek tespack di tangannya saat ini.


Setelah membayar Laura pun memasukkan benda itu ke dalam tas, lantas memegang erat talinya begitu kuat. Ia berusaha tenang setenang-tenangnya. Ia takut jika gelisah maka orang bakalan curiga.


"Itu anak kenapa?" ucap Nenek bingung tapi kembali sibuk menyirami tanaman.


Setibanya di dalam kamar Laura segera mengunci pintu. Jantungnya bertalu-talu kencang sekali. Keringatnya sebiji jagung pun keluar lagi bahkan lebih banyak. Laura rogoh isi tas dan mengeluarkan lima merek alat tespek tersebut. Sekilas ia baca dan sudah paham cara penggunaanya.


Tak ingin membuang waktu Laura gagas mencari sesuatu dalam keranjang sampah. Dapat Satu gelas bekas air mineral.

__ADS_1


Setengah berlari Laura masuk ke kamar mandi. Ia menampung air seninya sendiri setelah itu memasukkan 5 merek alat tespek tersebut ke dalamnya.


Detik demi detik terasa lama. Lutut Laura sampai gemetar menunggu hasilnya.


Ya Tuhan semoga ... semoga ini benar-benar salah. Semoga ketakutan aku nggak jadi kenyataan. Please maafin aku, Tuhan!


Laura melemah dia duduk di kloset sembari menatap horor gelas yang penuh alat tespek serta air kencingnya. Setelah menunggu hampir tiga menit ia pun mencoba berdiri, lalu mendekati gelas tersebut.


Dengan tangan gemetar Laura mencoba meraih salah satu benda itu, dan sebuah kenyataan seketika membuatnya tubuhnya limbung. Punggungnya membentur dinding. Air matanya tumpah ruah karena ada dua garis merah di sana.


Masih ingin berpikir positif Laura pun mengambil satu alat tespek lainnya dan tetap saja memunculkan garis dua. Bahkan lima alat di sana pun mempertunjukkan garis yang sama.


Laura melemah, ia meraung sembari membekap mulut sendiri. Ia tumpahkan rasa frustasi, marah, dan kecewa dalam tangisan. Ia bekap mulutnya. Sekarang ini begitu banyak ketakutan yang menyergap Laura. Ia sungguh takut. Takut akan masa depan. Takut bagaimana cara melewati masa ini. Takut bagaimana cara mengatakannya pada orang tua dan juga takut menghadapi cibiran tetangga.


Hati Laura mencelos. Ia terus mengutuk diri. Tak hanya itu, ia juga memukul kepalanya dengan empat buku jari.

__ADS_1


Bodoh! Bodoh! Tolol! Kenapa bisa jadi kayak gini?


__ADS_2