
Pagi harinya, Laura dan Rena berangkan menaiki bus kota. Namun, sebuah insiden tak terduga datang tiba-tiba. Laura tak sengaja terdorong oleh seseorang hingga tubuhnya tersungkur di lantai bus.
"Arghhh!" Gadis SMA itu menjerit, merasakan sakit dan keram mendadak pada bagian perutnya. Rena yang panik langsung menyuruh bus itu berhenti. Ia memapah Laura untuk turun.
"Ren ... ngapain kita turun? Ini udah jam setengah tujuh, lo gila ya?"
Rena hanya diam. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya.
"Ren, ngapain si? Tadi aku tuh cuma kaget aja! Ini juga udah ga sakit lagi," ujar gadis itu. Laura paham bahwa Rena pasti khawatir, tapi turun dari bus mendadak juga bukan ide yang bagus. Apalagi hari ini ada materi penting yang harus mereka pelajari.
"Rennn ...." Laura mendesahkan napasnya.
Bukannya berhenti, Rena malah semakin jadi. Gadis itu menghentikan taksi lalu putar balik menuju rumahnya.
"Kita mau ke mana, Ren?" Gadis itu hanya bisa bertanya pasrah. Mobil kian menjauh.
"Kita pulang ke rumah gue dulu, Ra!"
"Ya, tapi mau ngapain? Kalo pulang ke rumah lo dulu pasti telat, Ra!" Gadis itu sedikit meninggikan nada suara. Hal itu membuat Rena terpaksa berbisik di telinga Laura.
__ADS_1
"Hari ini kita nggak sekolah dulu, Ra! Ada hal yang lebih penting dari pada sekolah.
"Hah? Hal apaan?"
"Entar juga lo bakalan tau sendiri, Ra! Pokoknya lo cukup nyimak aja." Mobil taksi itu pun kian melaju hingga setengah jam kemudian sampai di rumah gedong milik Rena. Lagi-lagi Laura hanya menurut saja saat Rena mengajaknya langsung masuk ke dalam kamar.
Rena adalah anak tunggal, ayah dan ibunya sibuk bekerja, sehingga jika siang Rena hanya tinggal sendiri bersama satu pembantunya.
"Sebenarnya ada apa si, Ren?" Laura mulai mendudukkan diri di tempat tidur Rena. Jelas ia penasaran kenapa Rena sampai mengajaknya bolos sekolah. Padahal ujian mereka tinggal menghitung hari lagi.
"Perut lo nggak papa?" Rena berjongkok. Layaknya seorang dokter, ia mengelus perut keras Laura beberapa kali sambil melayangkan tatapan khawatir.
"Oh, ya udah! Bagus kalo gitu." Rena pun menyodorkan sebuah daster yang baru saja ia ambil dari lemari. "Pake ini. Sekarang juga kita ke tempat bidan buat periksain perut lo."
Mendengar itu, Laura spontan membeliak.
"Renaa! Yang bener aja! Lo itu kalo ngomong suka bercanda, deh," ujar Laura gemas.
Jelas ia menolak ajakan Rena yang satu itu meski Laura ingin sekali tahu kondisi bayinya.
__ADS_1
"Gue serius Laura! Ngapain gue bercanda? Sekarang kita ke bidan buat periksain kandungan lo. Sekalian USG juga biar kita tau jenis kelaminnya apa," ucap Rena. Sontak Laura menggeleng tidak mau.
"Jangan gila Ren! Yang namanya periksa itu harus sama suami, oncom! Harus pake data KTP dan lainnya juga. Terus nanti kita mau jawab apa kalo ditanya sama bidannya?"
"Itu dipikir nanti aja, Ra! Yang penting sekarang kita periksa kandungan lo dulu. Lo pasti juga pengin tau 'kan, kondisi bayi lo kayak gimana?"
"Iya tapi--"
Rena memotong pembicaraan Laura secepat kilat. "Udah lo tenang aja! Selama ada gue pasti semuanya akan aman terkendali," ujar anak itu.
"Tapi, Ren! Gue gak punya uang banyak. Di dompet gue cuma ada uang seratus lima puluh ribu. Kalo biayanya mahal gimana?"
Rena tersenyum. "Masalah itu gak usah di pikirin, Ra. Gue ngajaki lo pulang ke rumah buat ngambil duit. Lo boleh pake tabungan gue dulu, yang penting kita tau kedaan bayi di perut lo kayak apa," ujar Rena.
"Tapi, Ren! Gue gak enak kalo kayak gini caranya. Terus terang gue gak mau terlibat terlalu banyak, terutama soal materi."
Rena pun mendengkus. "Terus lo mauanya gimana? Lo mau gue aduin ke Arga biar kita periksa pake uang dia aja?" kata Rena sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Jangan dong, Ren! Iya gue mau. Gue mau diperiksa. Laura pun terpaksa mengiyakan. Akhirnya mereka berangkat menuju bidan terdekat untuk memeriksakan kondisi kehamilan Laura.
__ADS_1
***