Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Seperti Orang Cemburu


__ADS_3

Keluar dari kamar, Laura duduk di samping kolam. Ia memandangi bintang yang indah dan tampak begitu bersinar. Ia mengingat semua hal yang terjadi beberapa hari ini, lebih tepatnya Laura mengingat masa depannya yang buruk karena hamil di luar nikah. Tanpa didampingi calon suami pula.


Laura tak bisa membayangkan bagaimana nasibnya setelah lulus nanti. Ia akan berjuang sendiri, merawat bayi hanya dengan modal nekat dan ijazah SMA sebagai bekal hidupnya nanti.


Mampukah ia melakukan semua itu? Kadang Laura merasa tak sanggup. Tapi segala sesuatu tak akan bisa jika belum dicoba.


Laura pun berusaha untuk menguatkan hati serta jiwa raganya. Ia yakin Tuhan tidak tidur, ia yakin Tuhan akan memaafkan dirinya jika ia mau bertaubat dan berserah diri kepada- Nya.


Karena Arga juga tidak bisa tidur, ia pun akhirnya memutuskan untuk keluar kamar dan menyusul Laura.


"Hey bocah, ngapain nangis sendirian di pinggir kolam? Mikirin apa lo?" Suara Arga mengagetkan Laura yang tengah duduk berlinang air mata. Arga melangkah cepat, lalu menghampiri Laura dan duduk di sampingnya.


"Hemm, kamu ngapain kesini? Aku lagi ngga mau di ganggu!! "ucap gadis itu tidak mau melihat wajah Arga sama sekali.


"Ngapa emangnya. Lo masih ngambek gara-gara gue gak mau tidur di sofa?" tanya Arga. Laura hanya menggeleng sebagai jawabannya.


"Kalo kagak ngambek, terus kenapa lo nangis di pinggir kolam?"


Arga merapatkan duduknya lalu menarik-menarik kepala Laura agar bersandar di bahunya. Hal itu membuat Laura tersentak karena ini adalah pertama kalinya seorang Arga peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Alias Laura yang selama ini dianggap kasat mat.


"Khusus malam ini doang! Lo boleh sandarin kepala lo di bahu gue kalo lo emang butuh! Mau cerita juga boleh," ucap Arga sambil mengelus kepala Laura dengan lembut. Jelas Laura merasa ini seperti mimpi di siang bolong baginya.


Perasaan baper tak terelakkan lagi saat ini.


Laura akhirnya bersandar dan menangis di bahu Arga. Ia menangis dan tak mengucapkan sepatah kata pun sampai tak sadar ia tertidur di bahu anak itu.


"Yee, malah tidur ini anak!" Arga menggeram. Padahal ia ingin sekali mendengar keluh kesah Laura. Entah kenapa sampai saat ini Arga merasa bahwa gadis itu sedang menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


Setelah dilihatnya Laura benar-benar terlelap, Arga gagas menggendong Laura ke kamar. Ia membaringkan Laura dengan hati-hati dan tak lupa menyelimutinya.


"Good night, Ra! Sorry kalo gue selalu bikin lo kesel. Gue juga gak tau kenapa sikap gue ke elo bisa kayak gitu," ucap Arga dengan suara lirih. Dipastikan juga Laura tak akan mendengar semua itu.


kemudian Arga mengusap rambut Laura tiga kali.


Malam itu Arga memutuskan untuk tidur di sofa kecil yang berada di samping tempat tidur agar tidak mengganggu tidur Laura. Lagian ia sendiri juga tidak bisa tidur kalau ada wanita di sampingnya. Jadi lebih baik Arga mengalah sekali-kali.


Pagi hari kemudian.


Laura terbangun dari tidurnya. Ia kaget kenapa hari sudah pagi padahal semalam ia masih bersandar di pundak Arga. Ia juga merasa semalam dia sedang berada di pinggir kolam, tapi setelah bangun ternyata anak itu sudah di atas kasur dengan selimut hangat menutupi sekujur tubuhnya.


"Kenapa bisa di kasur ? Apa jangan-jangan aku semalem terlalu nyaman sampe aku tidur di bahu Arga? Ko aku lupa ya? Memalukan banget sih! Ah elaah, Arga mana lagi, ko ngga ada di atas kasur?" gumam Laura dalam hati.


Dilihatnya sekeliling ruangan, ternyata Arga tidur di sofa. Laura pun tersenyum melihat Arga yang bersedia mengalah dan tidur di sofa . Walau sebenarnya ia sedikit kasian melihat Arga tidur di sofa sempit.


Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di area pantai. Mereka berenam berpencar, Deni dan Robin pergi ke Resort. sementara, Arga, Jack, dan Ridwan berganti pakaian karena mereka ingin berselancar di pantai.


"Let's go!" ucap Ridwan berseru pada yang lainnya.


Mereka bertiga segera menuju air dan mulai berselancar di antara ombak-ombak seakan mencoba memecahkan deburan ombak yang cukup tinggi itu. Dadanya yang agak bidang membuat Arga terlihat sangat keren ketika dia sedang bermain dengan papan kayunya.


Sementara Laura, ia lebih memilih duduk di tepi pantai menikmati angin sepoi-sepoi sambil mengoleskan sun block ke tubuhnya.


Laura menggunakan mini tank top berwarna putih yang dipadukan dengan tied split skirt outer berwarna putih, terlihat sangat cantik dan seksi.


Tak berapa lama mereka pun istirahat karena matahari sudah berada tepat di puncak kepala. Arga dan teman-temannya menghampiri Laura, mereka tak hentinya memandang Laura dari atas ke bawah. Mengagumi body Laura yang terlihat begitu sexy, terlebih ia hanya menggunakan pakaian dengan bagian perut yang ketat, sungguh pemandangan yang membuat mata laki-laki tak akan berhenti berkedip saat melihatnya

__ADS_1


Melihat itu, Arga tidak bisa tinggal diam, gadis ini memang tidak ada tingkat kewaspadaan sama sekali. Dengan wajah marah seolah ditekuk seribu kali, ia segera menarik lengan Laura menjauh dari teman-temanya.


Dengan perasaan bingung pula, Laura terus berjalan mengikuti Arga. Digandeng oleh Arga, anak itu bagaikan tawanan yang harus patuh terhadap tuanya. Ia bahkan tidak tahu apa yang membuat Arga sangat kesal, ia merasa tidak melakukan kesalahan apa pun saat ini.


"Kamu apa-apaan sih, Ga? Aku kan masih pengin main di Pantai sama yang lainnya." Kali ini Laura menyentak tangannya dari gandengan Arga. Ia tidak terima dengan perlakuan Arga yang begitu kasar, apalagi tanpa menjelaskan duduk perkaranya terlebih dahulu.


"Temenin gue dulu!" Arga menarik tangan Laura lebih kasar dari sebelumnya. Gadis itu bukan hanya bingung, tapi ia sudah mulai takut mendapat perlakuan kasar seperti itu.


"Gak mau! Kamu kasar, kamu nyakitin aku Ga!"


Mendengar itu, Arga melemah, menurunkan amaranya lalu sedikit merenggangkan genggaman kuat pada jemari Laura yang sudah memerah.


"Maaf, gak sengaja," lirihnya lembut. Namun langkahnya masih saja cepet .


"Nanti kalo temen-temen lo nyariin gimana?" tanya Laura kembali, namun ia masih mengikuti langkah jalan Arga yang semakin cepat. Mau tidak mau, karena Arga enggan melepas genggamannya pada gadis itu.


"Tenang aja gue udah bilang kok, kalo kita mau pergi kesuatu tempat," jawab Arga. Ia masih merasa kesal dan cemburu. Entah kenapa tiba-tiba saja ia tidak suka jika ada seseorang yang berani menaruh hati pada Laura, meskipun itu adalah temannya sendiri.


"Ya tapi mau kemana?" tanya Laura penasaran.


"Ikut aja dulu, jangan bawel. Nanti lo juga bakalan tau." Arga menghentikan langkahnya mendadak, tubuh Laura tersentak, ia menabrak punggung Arga dari belakang.


Belum sempat Laura protes, Arga langsung berbalik badan dengan mata yang menyalang.


"Dan inget! Lain kali lo nggak boleh pake pakean sexy di depan temen-temen gue, di tempat umum lainya juga ngga boleh! Pokonya selama liburan berlangsung lo harus jaga sikap sama penampilan!"


Tatapan Arga terlihat marah, sikapnya terasa aneh seperti orang yang sedang cemburu. Tentu saja itu membuat Laura menaruh rasa curiga, mungkin saja Arga sudah menyukainya tapi belum mau ngaku?

__ADS_1


Pikir Laura dalam hati.


__ADS_2