Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Main Keroyokan


__ADS_3

"Kalian jangan beraninya main keroyokan!" Laura menatap wajah mereka satu persatu, matanya menyalang tajam penuh kebencian. "Lawan gue aja kalo berani!" seru gadis itu. Sontak semuanya tertawa geli mendengar ucapan Laura.


"Stttt, lo manis banget kalo marah! Gue j*lat juga, lo, lama-lama!" seru ketua geng yang wajahnya sengaja dibuat garang.


Tak lupa ia menjawil dagu Laura penuh arti. "Mending lo sama gue daripada cowok tulang lunak kaya dia! Gue bisa jagain lo, apa lagi puasin lo, bisa banget!" imbuhnya kemudian.


Mendadak Arga merasakan hawa panas meradang di dadanya. Ia bisa terima ketika anak urakan itu memukul dirinya atau mengejek ketidakbecusannya dalam berkelahi, tapi ia tidak rela melihat seorang gadis dilecehkan seperti itu.


Arga bangun dari keterpurukannya, dengan satu gerakan mantap, Arga menonjok pipi cowok itu hingga tersungkur jatuh. Walaupun Arga tidak pernah berkelahi, tetap saja ia memiliki jiwa laki-laki ketika dilanda emosi.


"Widihhh ... bisa ngelawan juga lo, ternyata? Udah siap by one!"


"Ngga usah gangguin dia! Kalo lo emang cowok sejati, lo nggak akan berantem sama cewek!" balas Arga emosi.

__ADS_1


Tiga cowok itu mulai mengelilingi Arga yang sedang berdiri emosi. Sementara Laura masih memperhatikan Arga di belakangnya, ia ingin melihat dulu, apa yang akan dilakukan Arga selanjutnya.


Dengan wajah sinis menghina, salah satu anak buah ketua geng itu menendang kaki Arga hingga ia tersungkur dan jatuh ke aspal kembali. Mereka bertiga menendangi tubuh Arga bertubi-tubi. Arga diam seraya menahan sakit, cowok itu tidak berani melawan. Percuma juga, dia pasti kalah melawan mereka bertiga.


"Stop...!"


Laura berteriak kencang sekali. Dengan satu gerakan mantap, cewek itu melompat tinggi, mengambil gerakan memutar tubuh lalu melayangkan sebuah tendangan tepat di rahang ketiga cowok itu. Mereka tumbang dalam sekali tebas gerakan kaki Laura.


"Gila! Lo cewek jadi-jadian, ya?" Ketiga cowok itu menggeram kesakitan, merasakan rahangnya yang sepertinya mau patah.


Untuk pertama kalinya mereka merasa diinjak harga dirinya sebagai geng tawuran. Bagaimana mungkin seorang cewek yang kelihatan manja mengalahkan tiga cowok sekaligus dalam satu gerakan?


"Sorry ya, kita ngga level berantem sama mahluk cewek.l!" Mereka bertiga mundur serentak mengikuti instruksi ketuanya. Lalu menyalakan motor dan naik satu persatu. "Awas lo, ya! Ketemu sekali lagi gue habisin," Ancam mereka pada Arga. Kemudian mereka pergi setelah melayangkan tatapan sinis ke arah Arga.

__ADS_1


"Jangan berani sakitin, Arga gue!" teriak Laura saat motor mereka melaju pergi. Laura segera menghampiri Arga yang duduk tersungkur menahan sakit. "Ga, ayo bangun!"


Laura memapah tubuh lemas Arga ke pinggir trotoar, mendudukan cowok itu lalu memberikan sebungkus tisu sembari memalingkan wajahnya.


"Hapus darah di bibir Arga, aku takut lihatnya!"


"Ngga mau, biar kayak gini aja, biar lo ngga mau liat muka gue lagi," ledek Arga kepadanya.


Entah mengapa, Arga merasa senang melihat Laura ketakutan seperti itu. Lucu saja, dibandingkan Laura yang suka kegilaan terhadap dirinya, Arga lebih suka melihat Laura yang ketakutan seperti anak kecil.


Darah mampu membuat seorang Laura berhenti memandangi wajah Arga seperti biasanya. Alangkah indahnya jika Laura mampu berhenti over protektif pada Arga. Mungkin Arga tidak akan sebenci ini terhadap Laura.


"Ga!"

__ADS_1


"Paan?"


"Pliss! Jangan main-main. Cepetan dihapus darahnya. Kalo Arga ngga mau lakuin, aku mau teriak aja! Biar Arga dikira lagi jahatin aku, terus Arga digebugin lagi," ancamnya kesal.


__ADS_2