Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Negosiasi


__ADS_3

Selagi Laura menceritakan soal kehamilannya pada Bu Santi, Pak Darman dan Pak Kepala sekolah saling bernegosiasi masalah ujian yang tinggal satu hari lagi.


Pak Darman ingin Laura tetap bisa mengikuti ujian seperti siswa lain, sedangkan Pak Kepala sekolah tetap kekeh bahwa Laura harus dikeluarkan demi peraturan yang sudah berjalan bertahun-tahun silam.


"Begini loh, Pak! Laura adalah murid yang sangat pintar. Selagi kita bisa menutupi soal kehamilannya, saya rasa tidak masalah jika Laura tetap ujian. Setelah menjalani ujian, nanti kita bisa melarang Laura berangkat sampai acara kelulusan," ujar Pak Darman.


"Tapi menurut saya keputusan ini terlalu beresiko Pak Darman! Jika berita ini sampai terdengar keluar, kita akan dianggap pilih kasih terhadap Laura." Pak Kepala sekolas meremas tangan yang saling bertaut. Tatapannya sangat yakin saat menolak permintaan Pak Darman barusan.


"Saya mohon, Pak! Kasihan Laura jika harus gagal di hari terakhir," ucap si Darman.


"Saya juga kasihan, tapi—"


"Tolong Pak!" Dua tangan Pak Darman tertaut di depan wajah. "Tolong beri kesempatan untuk Laura. Saya sangat mengenal anak itu. Selain pintra dan berprestasi, dia juga murid yang baik. Jadi sangat disayangkan jika pihak sekolah sampai setega itu padanya. Apalagi selama dua tahun bersekolah di sini, dia sering mengharumkan nama sekolah dengan berbagai prestasi yang diraihnya. Apa Bapak tidaj ingat, jasa Laura yang satu itu?"

__ADS_1


Pertanyaan Pak Darman pada akhir kalimat membuat si Bapak kepala sekolah terdiam.


Belum sempat Pak Kepala sekolah membua mulut, tiba-tiba Ibu Santi masuk. "Maaf menyela Pak Kepala sekolah. Menurut saya yang diucapkan pak Darman ada benarnya. Laura hamil bukan karena dia nakal atau sebagainya, tapi dia adalah korban! Laura diperkosa oleh seseorang," ujar Bu Santi.


"Diperkosa?" Pak Darman dan Pak Kepala sekolah sama-sama terkejut.


"Iya, Pak! Tapi yang saya tidak habis pikir, Laura tidak mau memberitahu siapa pria yang melakukannya. Entah karena takut atau apa, yang jelas dia tidak mau membuka mulut," ucap Bu Santi lagi.


"Baik, Pak!"


Maka kegiatan itu berlanjut pada pokok permasalahan berikutnya. Bu Santi terus menyuruh Laura memberitahu siapa yang memperkosanya, tapi Laura tetap saja bungkam.


Pak Darman dan Kepala sekolah juga ikut turun tangan. Namun, lagi-lagi Laura hanya menggeleng sambil menangis sesenggukkan.

__ADS_1


"Jadi kamu benar tidak tahu siapa yang menghamilimu? Sangat disayangkan sekali Laura, padahal jika kamu memberi tahu, kau bisa lanjut sekolah lagi."


Laura tertunduk dalam. Lebih baik ujiannya gagal daripada harus menyeret Arga pada masalah sememalukan ini. Cukup Laura saja yang diperlakukan seperti ini, ia tidak mau Arga harus ikut menderita karena ulahnya.


"Sepertinya Laura tidak berbohong, Pak! Dia memang tidak tahu siapa yang menghamilinya," ucap Pak Darman.


"Iya, Pak! Saya benar-benar tidak tahu siapa yang menghamili saya. Saya hanya ingat bahwa dia laki-laki, tapi saya tidak tahu siapa namanya," ucap Laura.


Demi Tuhan! Laura sungguh malu dengan perbuatan tercelanya saat ini. Ingin rasanya ia memaki diri karena telah membohongi banyak orang.


Tapi nasi sudah menjadi bubur dan Laura tidak bisa mundur. Ia harus terus bersandiwara sampai berhasil lulus dengan membawa ijasah SMA.


***

__ADS_1


__ADS_2