
"Yang bener aja Rena! Ya kali anak gue dikasih nama Arga Sumanto."
Rena mendelik. "Dari pada Arga Megantara. Lo gak ada kreatifnya sama sekali emang. Pokonya ganti yang lain aja!"
Ia kemudian mengusulkan sebuah nama kepada Laura. "Gimana kalo Gama, aja?"
"Gama?" Laura sedikit tertarik mendengar nama itu disebut.
"Yups! Gama Argantara! Gak papa deh ada unsur nama Arga, asal panggilannya itu."
"Yaudah, Gama juga bagus." Laura mengangguk setuju. Membuat Rena tersenyum bahagia dalam diam.
"Jadi fiks, nih, ya? Gama Argantara?"
"Iya, Rena ... Anggap aja ini bales budi gue sama lo. Jadi lo berhak ngasih anak gue nama!"
"Ini anak gue juga kali, gue ikut ngebesarin dia!"
__ADS_1
"Iya, serah lo deh, Ren. Asal lo bahagai kek lagu Armada, gue juga ikut bahagia...." Laura tersenyum. Ia mengelap titik-titik keringat yang memenuhi dahinya.
*
*
*
Satu hari kemudian, Laura dan Gama kecil sudah diperbolehkan pulang. Kondisi mereka sangat baik, dan kini mereka berdua sedang menunggu taksi penjemputan. Tentunya ada Rena yang setia menemani.
"Abis ini rencana lo mau gimana, Ra?"
"Gak usah pura-pura bodoh! Anak lo udah keluar, emang lo gak mau ngasih tahu keluarga lo tentang kondisi lo yang udah kayak gini?" tanya Rena.
"Mau sampai kapan lo nyembunyiin semua ini dari mereka?" Nada bicara Rena makin meninggi.
Masalahnya keluarga Laura sama sekali belum ada yang tahu kondisi Laura bagaimana. Yang mereka tahu Laura kuliah di Jogja, bukan hidup susah dan punya anak bayi seperti kenyataan yang ada.
__ADS_1
"Ren, tolong ngertiin gue! Kasih gue waktu, suatu saat pasti gue bakalan pulang dan bawa Gama ke mereka."
"Sampe kapan, Ra? Terus gimana dengan biaya hidup Gama? Di butuh biaya, dan lo gak mungkin kerja dalam keadaan seperti ini!"
"Gue masih ada tabungan sisa melahirkan, Ren. Orang tua gue juga masih ngirim uang kuliah secara rutin, jadi gue bisa manfaatim itu untuk biaya hidup sementara. Nanti kalo Gama udah agak gede, gue bakalan cari kerja!"
"Hmmmm. Entahlah, gue gak tau jalan pikiran lo, Ra!" Bahu Rena mengedik pasrah. Mau sekeras apa pun Laura, dia tetap sahabat terbaik Rena.
"Makasih udah selalu ada buat gue, Ren. Kalo lo capek berteman sama gue, lo boleh cari yang lain, kok. Untuk kesekian kalinya, gue bener-bener gak bisa nurutin kemauan elu, dan gue juga tau kalo lo kecewa sama gue," kata Laura lirih.
Sontak Rena menatap sewot. "Apaan si, Ra? Kok ngomongnya jadi gitu?"
"Gue malu sama lo, Ra! Gue terlalu keras kepala, jadi lo pantes ngejauhin temen model gue."
"Gak usah kaya gitu! Gue begitu bukan bermaksud ikut campur urusan lo! Gue cuma kasihan, gue gak mau liat lo menderita, tapi kalo keputusan lo bikin diri lo bahagai. Ya udah. Gue dukung meskipun itu gak bener," ujar Rena.
"Makasih, Ren! Makasih udah ngasih gue waktu untuk mempertanggungjawabkan perbuatan gue. Walau suatu hari nanti jati diri gue kebongkar, yang penting jangan sekarang! Gue belum siap merugikan siapa pun," kata Laura lirih.
__ADS_1
"Hmmm. Ya udah ayo cepet masuk. Taksinya udah nunggu itu." Rena mengajak Laura masuk. Karena kondisi Laura masih baru agak lemah, jadi dia yang menggendong Gama sampai ke rumah.