Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Kencan Yang Gagal


__ADS_3

Sore hari, Arga menghampiri sang Papah yang sedang ngopi.


"Pah, mau minjem mobil!" ujar anak itu.


"Buat apa?" Papah Arga tentu saja heran. Tak biasanya Arga berdandan rapi dan meminjam mobil.


"Mau peri sama Laura," jawab anak itu singkat.


"Tumben banget," ucap Papah.


"Iya, boleh engga?"


"Ya, boleh! Tapi mainnya jangan kemaleman. Usakan sebelum jam sembilan Laura harus sudah sampai di rumah."


"Iya, Pah! Cuma bentar doang kok!" kilah Arga. Setelah mendapat izin, Arga segera melajukan mobilnya menuju rumah Laura.


Laura dibuat terkejut saat Arga membuka kaca mobil tepat di depannya.


"Kok, pake mobil?" tanya Laura. Tadi Arga memang sempat menyuruhnya menunggu di seberang jalan, tapi Laura tidak berpikir kalau Arga datang menggunakan mobil.


"Iya, soalnya mendung!" ucap Arga penuh dusta. Padahal ia menggunakan mobil agar terlihat lebih keren di depan Laura.


"Ayo masuk!"


Laura pun segera masuk. Mobil kembali berjalan meninggalkan pelataran rumah Laura.


"Ini kita mau ke mana, Ra?"


"Ke pasar malem mau gak?


"Gak deh, jangan ketempat kayak gitu! Entar gue diajakin nonton tong setan lagi!" Arga menggeleng tidak setuju


"Kali nonton di bioskop mau ga?"


"Gue gak suka nonton!"


Mendengar itu, Laura mendengkus kesal. "Terus kamu maunya apa?"


"Main futsal aja gimana? Temenin aku main futsal, soalnya hari ini aku ada janji futsal."


"Kok futsal?" Laura jelas makin tambah kesal dengan sikap Arga. Mana ada orang kencan tapi main futsal.


sebenarnya Arga sengaja mengajak Laura main futsal demi mengulur waktu. Ada sesuatu yang sedang ia siapkan untuk Laura, dan sedang diurus oleh seseorang di balik sana.


"Ya udah terus lo maunya apa? Asal jangan nonton bioskop sama ke pasar malem gue mau," ucap Arga.


"Gimana kalo kita ke time zone!"

__ADS_1


"Ke mall berarti ya?"


"Iya," jawab Laura.


"Oke kalo gitu." Mobil Arga bergerak menuju salah satu Mall di kota Depok. Namun sayang, sesampainya di sana Laura dibuat kesal oleh Arga karena anak itu hanya diam menyaksikan Laura menjajal berbagai permainan.


Bukannya seperti orang kencan, Arga malah terlihat seperti bodyguard.


*


*


*


Menjelas pukul tujuh malam, kencan-kencanan itu berhasil dilalui dengan baik.


Arga memberhentikan mobilnya di dekat sebuah gedung aneh. Entah itu gedung apa, yang Jelas Laura tak tahu ia ada di mana sekarang.


"Ayo turun, Ra!"


Perlakuan anak itu benar-benar berubah menjadi sangat perhatian tidak seperti tadi yang sangat cuek.


"Ini rumah apaan si, kok aneh begini?! Masa iya kita makan di tempat kek begini," ucap Laura heran. Tempat itu sama sekali tidak mirip dengan restauran. Lebih ke arah losmen atau sejenis koskosan elit.


"Udah nggak usah mikirin rumahnya, yang peting nanti di dalam ada makanan ."


"Tunggu dulu, kamu merem!" ucap Arga. Entah sejak kapan Arga sering sekali menyematkan kata kamu, walau kadang sesekali ia masih suka pake bahasa lo gue.


"Mau ngapain sih? Cuma makan doang harus pake merem, kamu mau ngasih surprise buat aku?," tandas Laura langsung menebak ke inti.


"Udah gak usah banyak omong. Lo ikutin aja permainan gue!"


Laura terpaksa mengikuti permintaan Arga karena lelaki itu terus memaksa. Mereka berdua kemudian naik ke atas menggunakan lift.


"Sebenarnya kita mau makan apa si? Kamu ngga akan macem macem kan, aku takut nih," ucap Laura.


"Nggak kok nanti kamu juga tau kita mau ngapain," ucap Arga.


Arga pun menuntun Laura dengan sangat hati-hati sampailah mereka di sebuah ruangan, berbentuk kamar dengan dekorasi yang sangat indah.


"Udah boleh buka belum, nih? Mata aku sakit, Ga."


"Udah Coba kamu buka aja," ucap Arga.


Laura kemudian membuka kain yang menutupi matanya, dengan perlahan ia pun mulai membuka matanya. Ia sangat Terkejut ketika membuka mata ternyata ia sedang berada di kamar dengan kamar yang kasurnya dipenuhin taburan.


"Jangan salah paham dulu! Kita ke sini bukan buat yang aneh-aneh," ucap Arga.

__ADS_1


Laura tertegun. Ia semakin terkejut ketika melihat ke arah dinding dengan tulisan


"Aku cinta Luara."


"Arga, ini aku ngga lagi mimpi kan? Ini apa-apaan, sih?" tanya Laura dengan penuh haru. Ia melihat sekeliling, ada sebuah meja dengan dua porsi nasi goreng.


Hidangan yang sederhana, tapi lebih dari cukup membuat Laura berbunga-bunga tiada tara.


Arga kemudian berdiri menghadap ke arah Laura. "Kemarin aku engga sengaja baca buku harian kamu. Terus aku liat kamu pengin dikasih surprise model begini. Tapi maaf, aku cuma bisa sewa kamar murahan, bukan gedung mewah seperti yang ada di impian kamu. Ya, namanya juga dunia nyata. Bukan di novel yang kamu baca," ucap Arga.


Arga masih ingat sekali bahwa Laura ingin sekali mendapat kejutan seperti di dalam novel-novel romantis yang ia baca.


Laura sendiri masih terdiam. Ia tak dapat berkata apa-apa. "Ini serius aku engga mimpi, 'kan?" ulangnya lagi.


"Kamu ngga lagi mimpi kok," ucap Arga seraya mencubit pipi Laura.


"Arga aku terharu banget! Bener-bener gak nyangka cowok sedingin kamu bisa ngelakuin hal ini!"


Arga tersenyum."Ra, mungkin ini adalah waktu yang belum tepat untuk aku ungkapin semua ini, tapi aku sangat berharap kamu bisa jadi kekasih aku selamanya, aku harap cuma kamu satu-satunya orang yang ada sisiku sampai aku Tua dan mati."


"Ra, entah sejak kapan perasaan itu dimulai. Yang jelas sekarang gue udah sadar kalau gue cinta sama lo."


"Ga, kamu gak lagi bercanda 'kan?"


Arga menggeleng. "Gue serius. Gue emang suka sama llo! Jadi lo mau gak nerima cinta gue?"


.


"Aku mau Ga! Aku mau!!" Jawaban spontan itu tak dapat dicegah. Jelas Laura mau karena ia sudah memimpikan hal ini sejak dulu.


Laura pun langsung memeluk Arga dengan sangat erat. Seakan tak ingin melepaskan pria itu.


"Ra, kamu tau kan arti dari jawab kamu itu, artinya mulai saat ini kamu milik aku dan aku milik kamu. Itu artinya hubungan kita bukan lagi teman apa lagi musum!"


"Yups, aku janji akan selalu cinta sama Arga selamanya," ucap Laura.


Mwahhh.


Ia kemudian mengecup bibir Arga singkat . Itu adalah pertama kalinya Laura berani mengecup bibir laki-laki.


Arga yang sedang dilanda perasaan senag, tentunta tak tinggal diam dengan perlakuan Laura. Ia langsung menarik tengkuk Laura dan mengecup bibir gadis itu dengan sangat lembut. Gadis itu jelas terbelalak dengan perlakuan Arga yang dilakukan secara sadar. Bukan dengan dorongan obat perangsang seperti waktu itu.


Sejak kapan Arga yang dingin berubah agresif seperti itu?


Setelah cukup lama mereka berciuman akhirnya mereka menghentikan ciuman manis itu.


suara kembang api malam itu.

__ADS_1


"An, berarti sekarang kita pacaran kan?" tanya Arga dengan polosnya.


__ADS_2