Dihamili Adik Kelas

Dihamili Adik Kelas
Enggan Buka Hati


__ADS_3

"Inilah yang bikin aku heran sama kamu, Ra! Kamu merasa nggak selingkuh, tapi kamu sampai pergi ke Singapur sama direktur. Waktu itu ngapain coba kamu seharian penuh di sana? Ngapain kalo gak selingkuh dan main esek-esek," fitnah Satriam. Suaranya yang keras sekali sampai bisa didengar oleh Rena dan Gama di dalam kamar.


Rena langsung mengambil earphone dan memutar lagu anak anak agar Gama tidak terkontaminasi dengan pertengkaran Laura. Ia juga takut Gama jadi trauma dengan mereka berdua karena hal ini.


Laura melipat tangan di depan dada. Kepalanya menggeleng penuh tanya."Bukannya waktu itu aku udah bilang kan? Kalo aku disuruh nemenin Pak Direktur!"


"Nemeninnya sampe gak balik kerja lagi ya?" Satria kembali memicingkan matanya.


"Iyalah ... emangnya kenapa? Sama-sama kerja kok! Bayaran aku juga sama," ujar Laura.


Namun, pada dasarnya Satria tetaplah Satria yang suka curiga dan pecemburu akut. Ia tetap tidak percaya dengan penjelasan Laura barusan.


"Emang itu yang sebenarnya, kok!" ucap Laura lago. Ia sudah memberitahu bahwa Arga adalah pria di masa lalunya yang tidak penting, tapi Satria tetap saja marah dan emosi.


"Heleh, kerja kamu kayaknya beda dari karyawan lain. Kamu itu udah kaya OB favoritnya direktur! Bahkan seharian di ruang direktur aja kamu pernah!"


"Gak usah mancing-mancing!" seru Laura kesal.

__ADS_1


"Gak ada yang mancing. Tapi kita semua emang gak ada yang tau kalian ngapain aja di dalam, Ra! Nggak cuma aku yang curiga ... semua karyawan di kantor kita juga udah mulai curiga karena kamu selalu ijin dari kantor dan betah banget di ruangan direktur itu," ujar Satria.


Laura terdiam. Ia tak mengelak karena ia memang terlihat seperti karyawan yang beda dari lainnya. Meskipun aslinya mereka banyak bertengkar, tapi tak ada yang tau apa yang keduanya lakukan sebenarnya.


"Aku sering keluar masuk karena Pak Arga udah mempercayakan urusan kebersihan ruangannya sama aku, Sat!"


"Emangnya aku percaya?"


"Ya udah kalo gak percaya? Memangnya aku peduli. Percaya gak percaya itu urusan kamu, Sat! Yang jelas sekarang aku udah gak bisa mempertahankan hubungan kita lagi," ujar Laura mengklasifikasikan ucapannya sekali lagi.


"Jadi kamu lebih memilih berhenti daripada mempertahankan hubungan kita yang sudah terjalin selama bertahun- tahun ini?" tanya Satria memastikan.


Laura mengangguk. Tak ada sedikit pun wajah ragu saat ia mengatakannya.


"Gila ya, Ra! Sia sia aku berjuang buat halalin janda gila kayak kamu," ujar Satria. "Berarti bener kata orang, kamu itu cewek gak ben—"


Plak

__ADS_1


Tampan kedua kembali melayang di pipi Satria. Kali ini lelaki itu memegangi pipinya yang terasa panas sekali meski tidak sepanas hatinya saat ini.


"Cukup ya, Sat! Udah lebih dari cukup aku denger hinaan kamu sedari tadi. Aku manusia bukan taii… aku punya hati … dari pada kamu terus mojokin aku, lebih baik kamu intropeksi diri! Paham?"


Belum sempat Satria menjawab, Laura menarik kasar tangan lelaki itu. Ia mendorong Satria keluar. Lalu mengunci pintunya rapat-rapat.


Satria berteriak-teriak di luar sana. Lelaki itu menyuruh Laura membukakan pintunya lagi, tapi Laura tak mau membuka sama sekali.


Setelah mengatakan itu, Laura terduduk di lemas di depan pintu. Ia menangis sejadi jadinya.


Sepertinya hubungan kita memang lebih baik seperti ini, Sat. Lebih baik berpisah daripada bertahan tapi saling menyakiti, batin Laura dalam hati. Wanita itu meremas dadanya yang terasa nyeri.


Bertahun-tahun hubungannya dengan Satria kandas sejak kedatangan Arga. Selain itu … rasa yang dulu pernah mati kini tumbuh kembali. Tak dipungkiri bahwa Laura masih menyayangi Arga sepenuh hati.


Cintanya tidak pernah mati … hanya saja Laura enggan membuka hati.


****

__ADS_1


__ADS_2