
"Gimana ya, Ra! Tapi menurut gue lo tetep harus ngomong sama Arga, Ra! Gimana pun juga ini bukan masalah lo berdua aja, tapi ada anak kalian di dalam perut lo! Anak lo pasti butuh bapak pas lahir nanti!"
"Tapi Arga masih terlalu kecil untuk menjadi bapak Ren! Emang lo mau, liat gue tambah sengsara pas nikah sama Arga. Kalo gue sih, mending sengsara sendirian, jadi ga makan hati! Gue juga gak akan nyakitin Arga karene memaksa anak itu untuk cari nafkah," ujar Laura.
"Tapi gini Ra, mau Arga masih kecil apa kagak, yang jelas ada anak dia di perut lo! Itulah hal yang ga bisa dipungkiri lagi sekarang!" tandas Rena.
Wajah Laura berubah panik dan takut. Demi Tuhan Laura benar benar tak ingin Arga sampai terlibat dalam masalahnya.
"Please, sebagai teman gue, tolong hargai keputusan yang udah gue ambil, Ren. Ujian tinggal beberapa hari lagi, abis ini gue bakalan menghilang dari hidup Arga! Gue beneran gak mau merusak masa depan dia. Cukup gue Ren … cukup gue yang udah terlanjur kaya gini," ujar anak itu. "Masa iya gue harus menyeret orang yang gak tau apa-apa," ucap Laura kemudian.
Rena tak dapat berkata apa-apa lagi kalau sudah begini ceritanya. Ia pun beralih atensi. Kini Rena meraba perut Laura dari dalam baju. Perut itu sudah mengeras meskipun belum terlalu menonjol.
"Pantes aja selama ini tingkah lo aneh banget, Ra! Ternyata gara-gara ini," lirih Rena sembari mengusap perut Laura terus-menerus.
__ADS_1
"Lo nggak akan ngebocorin rahasia ini ke siapa pun, 'kan Ren?"
"Gue gak tau Ra. Di sisi lain gue pengin menjadi teman yang care buat lo, tapi terus terang aja gue kasian ama bayi itu. Gue yakin kalo cerita baik-baik, Arga pasti mau tanggung jawab, masalah cari nafkah mungkin bisa dipikir bareng-bareng nanti setelah kalian nikah! Lagian lo juga cinta 'kan sama dia? Ini bisa lo jadiin kesempatan emas buat lo dapetin dia, Ra!"
Laura spontan menggeleng. "Cinta gue ke Arga engga gitu, Ren! Gue tulus sayang sama Arga meski engga memiliki. Bagi gue kebahagiaan Arga adalah yang utama."
"Tapi anak di perut lo? Dia juga butuh dibahagiakan dong?"
"Aku janji bakalan rawat anak ini sebaik mungkin, Ren! Abis tamat aku bakalan cari kerja buat membesarkan dia."
"Kalo mau berusaha dan berdoa pasti bisa Ren! Gue yakin gue bisa menghadapi semua ini," kata Laura mantap.
"Gue jadi engga tega liatnya, Ra! Lo berjuang buat ngehidupin anak lo, sementara bapaknya engga tau apa-apa. Adil gak sih? Iya, gue tau semua itu terjadi atas kesalahan lo, tapi menurut gue Arga tetep harus tau soal anak itu karena gimana pun dia adalah bapaknya."
__ADS_1
"Mungkin nanti, Ren! Kalo saat ini gue masih belum bisa. Arga terlalu kecil buat menghadapi masalah sebesar ini. Gue juga gak mau dia putus sekolah. Jadi biar aj gue yang nanggung karena ini salah gue. Lagian juga gue punya bekal ijazah SMA!"
"Okelah kalo itu mau lo! Pokoknya lo jangan sampe putus kontak biar gue bisa tetep tau keadaan lo. Gue janji bakalan bantuin urus anak itu juga.".
"Tapi Ren …"
"Gue bantu semampu gue Laurq. Gak usah protes, atau gue bocorin rahasia lo ini ke semua orang," ancam gadis itu.
Laura tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menerima bantuan Rena.
"Makasih banyak ya, Ren! Lo emang sahabat terbaik yang gue punya selama ini." Mereka pun saling berpelukan.
Keduanya mulai menyusun rencana. Nantinya Rena akan kuliah, sementara Laura bekerja. Ketika anak itu lahir, Rena dan Laura akan bahu'membahu dalam mengurus anak itu supaya Laura tetap bisa bekerja, dan Rena bisa tetap kuliah.
__ADS_1
Ini adalah rencana anak SMA. Terdengar konyol, tapi adalah fakta nyata anak SMA dengan pikirannya.
Meskipun di mata orang dewasa tindakan Laura terkesan gegabah, tapi bagi anak seusianya, Laura sedang melakukan hal benar. Dia mencoba bijaksana untuk tidak menyeret Arga dalam masalahnya.